Sunday, April 5, 2009

The Annoying Headache: Migraine




The Annoying Headache: Migraine

Meski memang sangat menganggu aktivitas sehari hari, sakit kepala merupakan keluhan yang sangat umum sering kita dengar. Begitu sering dan terbiasanya dengar kata sakit kepala, termasuk si sakit kepala sebelah yang terkenal dengan istilah migraine, rasanya saya cukup kebal dan cuek terhadap keluhan ini. Tapi, ketika saya menerima kabar kalau salah seorang keluarga dekat saya sampai harus dilarikan masuk ke UGD gara gara migraine kambuh, saya jadi tertarik menulis tentang migraine.

Seperti biasa, saya menulis migraine ditinjau dari sisi medis kedokteran barat, tapi kali ini saya merasa tidak komplit jika tidak meninjau migraine dari sisi kedokteran timur. Meski saya murni dari kedokteran barat, saya sendiri tidak menutup kemungkinan berkolaborasi dengan pengobatan alternatif yang sudah jelas asal usulnya seperti akupuntur misalnya. Di artikel kali ini selain menulis tentang migraine dari sisi kedokteran barat, rekan sejawat saya yang juga mendalami akupuntur akan menulis dari sisi kedokteran timur. Selamat membaca, semoga bermanfaat.

Secara garis besar sakit kepala dikelompokkan dalam 2 bagian: “primary headache disorders” dan “secondary headache disorders”. Pada secondary headache disorders, sakit kepala hanya sebagai salah satu gejala atau akibat dari penyakit primer di tempat lain, sehingga dengan mengobati penyakit utama tentunya sakit kepala pun ikut hilang. Sedangkan sakit kepala yang kronik seperti migraine, digolongkan di dalam primary headache disorders. Disini tidak ada penyakit lain yang mendasari migraine tersebut, hasil pemeriksaan laboratorium juga biasanya normal.

Menurut wikipedia, istilah migraine berasal dari bahasa Yunani, hemicrania (half skull) dan dari old english, megrim (severe headache). Istilah ini kemudian diadopsi menjadi migraine dalam bahasa Perancis, dan sekarang sudah menjadi istilah yang umum dipakai kita semua.
Migraine dibagi dalam 2 kategori besar: migraine tanpa disertai aura (common migraine), sekitar 85% pasien masuk dalam kategori ini; dan migraine disertai aura (classic migraine).

Serangan migraine biasanya didahului semacam gejala gejala awal, tanda sebelum serangan terjadi yang disebut gejala prodromal, kira kira 24-48 jam sebelum serangan berlangsung. Tidak semua penderita migraine mengalami gejala prodromal ini, dan jika mengalaminya, gejala yang keluar juga sangat bervariasi, dan bahkan bisa berbeda beda setiap serangan migraine. Beberapa gejala prodromal antara lain: merasa gelisah, kadang merasa depresi atau gembira berlebihan tanpa sebab jelas, merasa malas, ngantuk, sering menguap, dsb.
Gejala prodromal ini berbeda dengan aura yang juga mendahului serangan migraine hanya kira kira 1-2 jam sebelum serangan (classic migraine). Aura merupakan gejala disfungsi neurologik, dan umumnya berupa gangguan visual (melihat garis terang zigzag, melihat kilatan cahaya terang putih atau hitam atau berwarna warni, sensitive terhadap sinar terang, penglihatan kabur dsb), kadang merasa kesemutan atau merasa baal, dan kadang ada juga gangguan berbicara.

Serangan migraine sendiri umumnya berlangsung sekitar 4-72 jam dengan gejala khas sakit kepala sebelah yang berdenyut. Rasa sakit yang timbul juga bisa diperparah bahkan dengan aktivitas fisik biasa, disertai rasa mual, muntah, plus lebih sensitif terhadap cahaya atau suara. Setelah serangan berlalu, umumnya penderita merasa lelah, kepala terasa berat, disertai beberapa gejala neurologik ringan yang masih tertinggal seperti sensitif melihat cahaya, mual dan tidak ada nafsu makan, yang akan berangsur angsur berkurang.

Migraine disebabkan oleh adanya aktivitas abnormal dari otak yang kemudian menstimulasi pembuluh darah di selaput otak (meningen) yang dipersarafi oleh saraf trigeminal (salah satu nama saraf di kepala yang bertanggung jawab terhadap sensor rasa, termasuk rasa sakit, di wajah). Karena itulah gejala migraine khas, adanya rasa sakit disertai denyutan pembuluh darah.
Aktivitas abnormal dari otak ini bisa dipicu berbagai macam hal, yang sebaiknya diketahui oleh setiap penderita migraine untuk bisa menghindari serangan migraine.

Beberapa hal yang bisa menjadi pemicu serangan migraine antara lain:
- perubahan hormone (wanita umum mendapatkan serangan migraine menjelang menstruasi)
- stress (termasuk emotional stress), juga kelelahan akibat aktivitas fisik berlebihan
- perubahan jam tidur sehari hari, terlalu sedikit atau terlalu banyak tidur
- makanan (makanan/minuman mengandung alcohol, coklat, kacang, alpokat, onions, makanan yang diawetkan, yang mengandung MSG, pewarna tertentu dsb)
- rangsangan sensorik (cahaya terang, bau bauan seperti parfum, suara keras dsb)
- lingkungan (perubahan cuaca dsb)

Terapi migraine mencakup “non-pharmacologic” dan “pharmacologic interventions”. Terapi secara non-pharmacologic tentu mencakup adanya perbaikan pola dan gaya hidup untuk menghindari pemicu serangan migraine, sedangkan terapi secara pharmacologic, tentu dengan bantuan obat obat medis.

Penanganan dengan obat obat medis ini dibagi dalam 2 golongan:
- Abortive therapy atau pain-relieving therapy
Obat obat yang diberikan di sini dimaksudkan untuk memperpendek serangan migraine dan mengurangi nyeri kepala yang ditimbulkan. Tergantung beratnya serangan yang timbul, obat obatan yang biasa diberikan bervariasi dari golongan simple analgesic (aspirin, ibuprofen dsb), golongan ergotamine yang biasanya ditambah dengan kafein (cafergot), atau golongan triptan (sumatriptan, rizatriptan dsb).

- Preventive therapy
Obat obat yang diberikan diharapkan bisa mencegah serangan migraine, terutama jika serangan cukup sering sampai mengganggu aktivitas sehari hari, dan gejala yang menyertai juga cukup berat. Obat yang sering diberikan berasal dari golongan obat kardiovaskular seperti “beta blocker” atau “calcium channel blocker”. Meski belum jelas bagaimana mekanismenya, obat yang juga diberikan untuk penderita jantung atau hipertensi karena bekerja menurunkan frekuensi denyut jantung dan melebarkan pembuluh darah ini ternyata cukup efektif untuk juga mencegah serangan migraine.

Akhir akhir ini banyak studi yang menyatakan adanya korelasi antara penyakit kardiovaskular dan migraine. Penderita migraine, terutama bila disertai aura, lebih mudah mengalami gangguan kardiovaskular seperti tekanan darah tinggi (hipertensi) atau naiknya kadar kolesterol, yang akhirnya juga menjadikan penderita migraine lebih rentan terhadap serangan jantung dan stroke Berikut gambar yang menunjukkan lebih tingginya angka kejadian berbagai penyakit kardiovaskular pada penderita migraine (Kurth, T. et al. Arch Intern Med. 2007).




Meski belum jelas kenapa migraine meningkatkan resiko seseorang terkena penyakit kardiovaskuler, tidak ada salahnya penderita migraine lebih ekstra berhati hati dalam menjaga pola makan dan aktivitas sehari harinya. Toh, tidak hanya penderita migraine, kita semua memang ingin punya jantung sehat sampai tua khan?

Demikian kisah migraine dari sisi kedokteran barat, selanjutnya rekan sejawat saya (dr. Huang – Jakarta) yang akan bercerita dari sisi kedokteran timur. Selamat (melanjutkan) membaca.

Sakit kepala (Tou Tong) ditinjau dari pandangan TCM (Traditional Chinese Medicine) ada beberapa penyebabnya:
1. Serangan patogen angin dari luar (selain dari luar, angin juga bisa di hasil kan dari dalam tubuh). Angin merupakan salah satu patogen yang paling sering menyebabkan penyakit pada tubuh manusia dalam teori TCM (angin menurut TCM bila di hubungkan dg teori kedokteran barat adalah virus, bakteri atau bibit penyakit lainnya yg di bawa udara). Pemakaian istilah angin secara filosofis dari sifat angin yg selalu bergerak/goyang dan berpindah, contohnya adalah rasa sakit kepala yg berpindah tempat dan bisa juga vertigo (sensasi berputar).

2. “Liver Yang “ yang terlalu aktif, (“Yin_Yang adalah dua istilah sebagai satu-kesatuan yg sangat kompleks dalam teori TCM yg seharusnya dalam keadaan seimbang dan harmonis, maka akan membuat manusia menjadi sehat dan penuh vitalitas), “Liver Yang” bisa terlalu aktif apabila orang sering kekurangan tidur (baca: “tidur larut malam”) dan juga aktivitas fisik yang berlebihan/fatigue, sehingga organ hati sebagai penyedia energi cadangan yang apabila kekurangan akan mengaktifkan memetabolisme zat2 didalamnya dan apabila berlebihan maka akan menimbulkan gejala/syndroma. Gejala dari penyebab “Liver Yang” terlalu aktif adalah sakit kepala yang disertai dengan mata merah dan gejala2 lainnya.

3. Kekurangan energi vital (Chi atau Qi) dan darah. Chi dalam teori kedokteran barat susah untuk dicari pandanan satu istilah yang tepat, dan Chi / energi vital itu hanya ada kalo manusia masih hidup, akan menghilang apabila mati. Chi itu bisa hubungkan dg pemecahan ATP, bisa juga dari yang timbul dari proses akibat pengaruh hormon adrenalin,dll yang mengakibatkan timbul energi/panas tubuh. Gejala dari kekurangan Chi dan darah adalah sakit kepala yg disertai dengan akral (tangan dan kaki) yang dingin.

4. Akibat serangan patogen pada meridian tertentu. Meridian adalah istilah TCM sebagai tempat/ media chi untuk mengalir, sebagai ilustrasi darah mengalir didalam tubuh melalui pembuluh darah, pembuluh darah sama dengan meridian, tempat Chi mengalir didalam tubuh. Jadi energi mengalir atau berproses dalam tubuh tidak lah sembarangan/serampangan tapi melalui meridian tubuh yang juga sangat kompleks terhubung antara satu dengan lainnya (ada 14 meridian utama dalam tubuh manusia). Migrain (Bian Tou Tong adalah salah satu gejala/syndroma akibat serangan patogen pada meridian tertentu, bisa sakit kepala frontal/depan, temporal/samping ataupun occipital/belakang.

Penangganan sakit kepala dengan akupuntur/tusuk jarum adalah melancarkan aliran Chi dan darah (dengan perangsangan titik2 akupuntur) pada meridian2 yang tersumbat akibat serangan patogen dan mengharmoniskan kembali fungsi organ2 sesuai dengan teori Yin-Yang. Sakit kepala akan benar2 hilang (baca: tidak kambuh lagi) apabila penyebab2 diatas bisa dihilang

Salam sehat,
Kathryn, Tokyo
(Special thanks to dr. Huang – Jakarta)

References:
- Cecil Textbook of Medicine 21st edition
- Medline Plus Medical Encyclopedia:
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000709.htm
- MayoClinic, Tools for healthier lives:
http://www.mayoclinic.com/health/migraine-headache/ds00120
- Kurth, T. et al. Migraine and Risk of Cardiovascular Disease in Men. Arch Intern Med. 2007; 167:795-801
- Scher, A.I. et al. Cardiovascular risk factors and migraine: The GEM population-based study. Neurology 2005; 64; 614-620
- Image: www.doleysclinic.com/QuickSiteImages/migraine.jpg

No comments:

Post a Comment