Monday, December 28, 2020

The latest mutation of COVID-19: What we know so far

 The latest mutation of COVID-19: What we know so far

Saat ini sedang ramai ya pembicaraan mengenai mutasi Coronavirus dari UK. Saya coba rangkum berita mengenai hal ini supaya kita bisa lebih mudah mengikuti perkembangan situasi yang ada.

 SARS-CoV-2, sama seperti halnya virus lainnya, mempunyai kemampuan mutasi. Mutasi adalah sesuatu yang natural terjadi sehingga tidak heran SARS-CoV-2 juga sudah memiliki banyak varian dari sejak ia pertama kali dilaporkan.

Saat ini yang menjadi perhatian banyak pihak adanya laporan varian strain mutasi dari Inggris (UK) dan Africa. [Ref1]

1. Bagaimana status penyebaran virus yang sudah bermutasi ini?

Mutasi di strain virus dari UK, secara etimologi disebut Variant of Concern VOC 202012/01.  
Sebenarnya sudah dilaporkan ditemukan sejak akhir September 2020, jauh sebelum menjadi berita headline saat ini. Kenapa lalu menjadi ramai? Karena belakangan kasus COVID yang ditemukan banyak berasal dari strain virus VOC 202012/01 ini. Strain ini menyebar dengan pesat di UK, terutama di Southeast England.  

Berdasarkan laporan analisa genetik, mutation rate dari strain ini lebih cepat dari biasanya dan terjadi dalam waktu singkat. Melihat data kasus penyebaran yang meningkat pesat, strain ini diduga bisa menaikan reproduction numbers (R) lebih dari 0.4% dengan tingkat infeksi mencapai 70%. Ini yang dikhawatirkan bisa memicu meluasnya infeksi SARS-CoV-2, dan membuat banyak negara melakukan kebijakan menutup jalur masuk dengan UK.

Di luar UK, saat ini strain VOC 202012/01 sudah ditemukan di Denmark, The Netherlands, Belgium, Australia, Spain, Canada, Iceland, Italy, Sweden, dan tentunya Japan.

Untuk strain mutasi virus yang berasal dari Afrika, diberi kode 501Y.V2, dilaporkan sejak 18 Desember 2020 dan didiuga menyebabkan kasus infeksi di Afrika meningkat hingga 80-90%. Di UK, dua kasus terkonfirmasi 501Y.V2 sudah ditemukan. Di Jepang saat ini-現時点で-belum ada laporan.

Update: 28 Des 2020 - sudah terkonfirmasi strain virus yang berasal dari Afrika, sebagai kasus pertama di Jepang. [Ref7].

2. Apa akibat yang terjadi dengan adanya mutasi di virus ini?

Strain VOC-202012/01 dilaporkan lebih infeksius dibandingkan strain awal. Belum ada laporan yang cukup apakah akan meningkatkan keparahan penyakit atau tidak. Meskipun seandainya tingkat keparahan tidak terpengaruh, jika jumlah orang yang terkena infeksi meningkat, tentu juga akan berpotensi meningkatkan jumlah penderita dengan kondisi berat. Saat ini juga ada kekhawatiran kalau mutasi yang terjadi kemungkinan menyebabkan anak anak menjadi lebih mudah terinfeksi.

Among those aged under 15 there were slightly more cases of the variant virus in the community than the non-variant, though not significantly so.” [Ref2]

Bagaimana dengan vaksin yang ada saat ini? Saat ini belum ada data acuan yang jelas apakah akan berpengaruh atau tidak terhadap efektivitas vaksin. Para ahli sendiri masih optimis bahwa vaksin mRNA yang ada saat ini akan mampu juga memberikan perlindungan terhadap strain mutasi ini. Selain itu, salah satu keuntungan dari metode mRNA vaksin, informasi genetik dari mRNA bisa di-update dengan mudah mengikuti strain virus yang sedang berkembang [Ref3].


3. Bagaimana potensi penyebaran strain virus ini di Jepang?

Strain virus VOC 202012/01 sudah terkonfirmasi ditemukan di Jepang. Sampai saat ini -28 Des 2020 – sudah terkonfirmasi 8 kasus positif strain VOC 202012/01 ini. Penularan antar orang tanpa ada riwayat pergi ke UK juga sudah ditemukan [Ref4].

Meski penyebaran domestic saat ini belum ada, semua dan setiap orang sebaiknya menilai situasi dan mengambil tindakan preventif yang diperlukan sebaik baiknya, mengingat kapasitas infeksi yang kuat dari strain ini. Saat ini kita menghadapi lonjakan dan penyebaran kasus yang meluas, kemampuan fasilitas kesehatan sudah berada di ambang batas collapse. Jika sampai strain virus ini meluas, kita semua akan berada dalam situasi sulit.


 FYI, Dalam sebulan terakhir, 陽性率di Tokyo naik terus, dari sekitar 6% hingga sekarang sekitar 8.2%. [Ref5] Ini anggap saja seperti melihat perkiraan cuaca saat akan memutuskan keluar rumah. Kalau kemungkinan hujan besar, kita tentu sudah siap siap bawa payung atau jas hujan; kalau ada kemungkinan taifu, persiapan kita tentu lebih banyak lagi bahkan lebih baik tidak keluar rumah. Hal yang sama saat melihat positive rate Covid. Semakin tinggi angkanya, semakin tinggi kemungkinan kita akan bertemu dengan orang yang positive di sekitar kita. Ini bisa membantu jadi patokan untuk menilai situasi yang ada.

Lalu berapa sih positive rate yang bisa dianggap tinggi? Berdasarkan artikel dari Johns Hopkins, “As a rule of thumb, however, one threshold for the percent positive being “too high” is 5%.” [Ref6].

*Di Jakarta positive rate (new daily cases) – 26 Des 2020, tercatat 14.2%

Saat ini mari kita masing masing berusaha menjaga diri dan keluarga sebaik mungkin. Jika tidak ada keperluan penting, sedapat mungkin menahan diri keluar rumah. できる限り外出を控える. Jangan lupa, orang tanpa gejala bisa menularkan. SARS-CoV-2 juga bisa menyebar melalui aerosol tidak hanya droplet, dan dilaporkan di aerosol si virus bisa bertahan hidup hingga 3 jam.

 




Figure source: The Asahi Shinbun (http://www.asahi.com/ajw/articles/13927621)

 (The new coronavirus seen with the electron microscope (Provided by the U.S. National Institute of Allergy and Infectious Diseases)











“Don’t Panic – Stay Alert – Get Informed, and Be Wise

Tokyo, 28 Desember 2020

#kesehatanwibj

#wibjcovid19

 

References:

1. https://news.yahoo.co.jp/byline/kutsunasatoshi/20201227-00214749/

2. https://www.bmj.com/content/371/bmj.m4944

3. https://www.japantimes.co.jp/news/2020/12/23/world/science-health-world/vaccine-makers-mutant-coronavirus/

4. https://news.yahoo.co.jp/articles/75a0c22727f4239faf8a1c025406bc66892d300c

5. https://stopcovid19.metro.tokyo.lg.jp/cards/positive-rate/

6. https://www.jhsph.edu/covid-19/articles/covid-19-testing-understanding-the-percent-positive.html

7. https://news.yahoo.co.jp/articles/43dc3ddfa81662b4b3a572e2d6a094ea9e1e685d

Wednesday, November 25, 2020

潰瘍性大腸炎(kaiyouseidaichouen) - The reason behind PM Abe's resignation


潰瘍性大腸炎(kaiyouseidaichouen)

Tahun 2020 ini beneran serasa naik roller coaster ya. Dari corona, status darurat, perubahan aturan imigrasi yang bikin pusing, ekonomi anjlok, sampai akhirnya hari ini PM Abe juga memutuskan untuk mengundurkan diri. Soal pengumuman resmi dari PM Abe, sudah dibahas jubir andalan kita, Yati Anggarini. Jadi ini hanya sedikit tambahan dari saya, buat yang penasaran apa sih sakitnya PM Abe sampai harus memilih mengundurkan diri.


潰瘍性大腸炎(kaiyouseidaichouen) atau istilah ilmiahnya “ulcerative colitis (UC)” – peradangan atau perlukaan pada dinding saluran usus, tepatnya di usus besar (kolon) dan atau bagian usus besar yang tersambung ke anus (rectum). Di Jepang penyakit ini dikategorikan penyakit yang sulit (指定難病), dan untuk masuk ke dalam kategori ini ada syarat syarat tertentu yang harus dipenuhi, misalnya: jumlah pasiennya tidak melebihi jumlah tertentu di Jepang (alias penyakit yang tergolong jarang), cara atau tehnik pengobatannya masih tidak jelas, butuh pengobatan jangka panjang sehingga ada dampak finansial, dsb.

Ulcerative colitis ini biasanya digolongkan/dinilai tergantung dari: lokasi nya (bagian usus besar sebelah mana yang kena), derajat keparahan (ringan, sedang, berat), sedang masa aktif atau remisi, dan dari tipe perjalanan klinis nya (tipe akut, atau kronis, atau relapse remission). Ulserative colitis yang diderita PM Abe ini sudah berlangsung lama sejak beliau masih remaja. Tahun 2007, saat terpilih pertama kali jadi PM, beliau juga sudah pernah pernah mengundurkan diri karena penyakitnya ini. Jadi ini bukan pertama kalinya ya si penyakit bikin masalah untuk PM Abe.

Penyebab UC masih belum jelas (原因不明). Diduga ada masalah disfungsi sistem imun, genetik, perubahan di flora usus, maupun dipicu masalah lain seperti stress atau makanan/diet. Tapi sampai saat ini masih belum ada yang terbukti dengan jelas penyebabnya. Penyakit ini juga tidak mengenal gender, pria dan wanita 1:1 bisa terkena UC. Bisa timbul kapanpun di usia muda hingga tua, meski dari data yang ada di Jepang, pada pria gejala keluar banyak terjadi di usia 20-24 tahun, dan pada wanita usia 25-29 thn. PM Abe pernah bercerita saat pengunduran dirinya pertama kali di tahun 2007, kalau ia sudah terkena serangan UC ini saat ia berusia 17 tahun. Jadi hingga usianya sekarang, PM Abe setidaknya sudah 48 tahun hidup bersama UC.

Apa sih gejala UC? Karena lokasi masalahnya di usus besar, gejala yang keluar ya berkaitan dengan masalah di sana: sakit perut, darah di feses, diare yang susah stop dan tidak respon dengan obat diare biasa, sampai demam. Selain itu UC juga punya komplikasi seperti anemia, berat badan turun, sampai menaikkan resiko adanya kanker usus besar. PM Abe sendiri bercerita dia sempat syok melihat darah yang banyak waktu saat pertama kali mengalami serangan UC. Bolak balik harus pergi ke toilet juga membuat beliau merasa tidak bisa bekerja dengan baik sebagai politikus yang punya agenda jadwal padat, dan ini salah satu penyebab beliau memutuskan mundur saat tahun 2007.

Sekian lama ya perjalanan penyakitnya hingga harus mengundurkan diri lagi tahun 2020 ini. Saya rasa memang sudah waktunya untuk fokus lebih banyak ke pengobatan, apalagi usianya sudah tidak muda, perjalanan penyakitnya kronis dan ada resiko kanker usus besar untuk pasien UC. Tidak heran beliau rutin pemeriksaan kesehatan, plus “ningen dokku” dan menjalani pemeriksaan lebih detil lagi saat kontrol ke RS beberapa waktu lalu.



Semoga siapapun penggantinya bisa membawa Jepang ke arah yang lebih baik. PM Abe juga bisa istirahat dengan tenang memulihkan kondisinya. Mungkin kalau sudah tidak ribet dan sibuk jadi perdana menteri, bisa duduk santai di Starbucks Keio Hospital, tempat beliau berobat selama ini. Dan mungkin saya ada jodoh kesempatan bertemu langsung dan bisa ngopi bareng deh *ngarep boleh dong :D

Tokyo, 29 Agustus 2020

#kesehatanwibj

#wibjbreakingnews


References:

1. Figure: [Kayal M, et al. J.Clin.Med.2020]

2. https://www.nanbyou.or.jp/entry/62

3. https://www.abc.net.au/news/2008-01-11/bowel-illness-forced-me-to-quit-abe-says/1009806

Thursday, July 23, 2020

A Brief Update on COVID-19 Treatment in Japan


A Brief Update on COVID-19 Treatment in Japan

Halo semuanya, situasi di Tokyo kembali tegang ya setelah jumlah kasus naik terus. Kebijakan pemerintah juga bisa berubah dengan cepat dari waktu ke waktu, jadi mau tidak mau kita juga harus selalu “alert” dengan perubahan situasi yang ada. 

Hampir seluruh sektor kehidupan sudah kena imbas dari pandemic COVID-19 ini. WHO sendiri sudah mengatakan dalam press conference di bulan May 2020, “this virus may become just another endemic virus in our communities and this virus may never go away”. [Ref1]

Saat ini memang kita berharap banyak dari hasil riset yang sedang berlangsung di seluruh dunia untuk menghasilkan pengobatan maupun menemukan cara baru mengatasi virus SARS-CoV-2 ini. Bagi yang sudah terbiasa riset tentu tahu, riset itu tidak mudah, apalagi ini menggunakan virus baru. Banyak kendala misalnya, perubahan protokol bahkan lokasi lab untuk mencegah kemungkinan penyebaran, metode pengambilan sample klinis yang harus menyesuaikan karakteristik virus ini, uji coba test kit yang cocok, target samples yang memenuhi syarat, dsb, sampai masalah ethics moral. Plus, ini menyangkut masalah yang sedang jadi perhatian seluruh dunia sehingga harus lebih berhati hati membaca dan menganalisa data sebelum mengeluarkan statement hasil riset. Tidak heran sudah ada beberapa paper tentang COVID-19 yang akhirnya ditarik kembali setelah resmi keluar publikasi.

Di tulisan ini saya berikan ringkasan beberapa perkembangan terkait pengobatan dan vaksinasi COVID-19 khususnya di Jepang.
1.  REMDESIVIR
Remdesivir (produksi Gilead Sciences, U.S) merupakan satu satunya obat COVID-19 yang saat ini sudah resmi digunakan untuk pengobatan COVID-19 di Jepang. – Approved by Ministry of Health, Labour and Welfare (MHLW) May 7, 2020 [Ref2]
Remdesivir ditujukan untuk pasien dengan gejala berat (critically ill patients).

2. AVIGAN (Favipiravir)
Awalnya pemerintah Jepang berencana untuk segera meresmikan penggunaan Avigan jika hasil uji coba klinis memenuhi syarat di akhir bulan Mei, sayangnya, saat itu jumlah pasien di Jepang menurun drastis sehingga target pasien tidak cukup. MHLW memperpanjang waktu uji coba dan saat ini penelitian masih berlangsung.
Avigan ditujukan untuk pasien dengan gejala ringan atau tanpa gejala/asymptomatic.
Fujita Health University (July 10, 2020) mengeluarkan pernyataan berdasarkan hasil studi mereka, bahwa tidak terlihat ada perbedaan yang signifikan antara group pasien yang diberikan Avigan segera di hari pertama dengan group pasien yang menerima Avigan lebih lambat di hari ke-6. [Ref3]
Metode riset yang digunakan maupun jumlah target pasien yang dipakai bisa berpengaruh terhadap hasil yang didapat, jadi saat ini masih menunggu hasil uji coba dari tempat lainnya.

3. OSAKA VACCINE
Osaka university bekerja sama dengan perusahan bioteknologi AnGes Inc., sudah memulai uji coba klinis tahap pertama untuk vaksinasi COVID-19 di Osaka City University Hospital – June 30, 2020. Riset ini dipimpin oleh Prof. Ryuichi Morishita dan saat ini melibatkan 30 orang partisipan. Jika vaksin tersebut lolos dinyatakan aman, mereka berencana melibatkan lebih banyak partisipan hingga 500 orang di bulan Oktober dan seandainya semua tahapan uji coba bisa dilalui dengan baik diharapkan vaksin ini bisa siap digunakan di Jepang pertengahan awal tahun 2021. [Ref4]
Vaksin yang dikembangkan di Osaka ini menggunakan plasmid DNA. Keuntungannya aman dan mudah diproduksi (cost-effective); tetapi kemampuan induksi imunitas cenderung lebih rendah dibandingkan menggunakan partikel atau virus hidup (inactivated or live-attenuated vaccine)

Vaksin COVID-19 yang saat ini mendapat perhatian internasional:
** MODERNA VACCINE
Vaksin buatan perusahaan bioteknologi Amerika, Moderna Inc. ini sesuai jadwal memasuki phase 3 trials di bulan Juli. Moderna vaksin merupakan salah satu kandidat kuat vaksin yang diharapkan bisa efektif mengatasi COVID-19.
Vaksin ini menggunakan messenger RNA, mRNA-1273, teknologi baru dalam metode pembuatan vaksin. Cara ini juga disebut lebih aman, dan lebih kecil kemungkinan kontaminasi atau integrasi genetik ke dalam host cells, tapi mRNA sendiri cenderung tidak stabil dan di luar uji coba klinis untuk COVID-19 saat ini, belum ada vaksin mRNA yang sudah resmi digunakan sebelumnya.
Dari berita terbaru-July 15,2020- sepertinya uji klinis Moderna memberikan hasil yang diharapkan. Pasien yang terlibat uji coba menunjukkan peningkatan antibody dengan titer yang sebanding dengan pasien COVID-19 yang sudah sembuh. [Ref5]

** AstraZeneca – OXFORD VACCINE
Kerjasama antara perusahaan obat AstraZeneca dan Oxford University juga menjadi salah satu yang terdepan dalam persaingan riset vaksin COVID-19 secara global. Di Brazil dan UK uji coba klinis menggunakan vaksin keluaran Oxford ini sudah memasuki tahap akhir. Afrika Selatan juga sudah memulai uji coba klinis menggunakan vaksin yang sama.
Vaksin mereka menggunakan recombinant adenoviral vector, AZD1222 (formerly, ChAdOx1 nCoV-19) yang dimodifikasi untuk membentuk spike S-protein dari SARS-CoV-2. Mudah dikonstruksi dan efektif menginduksi respon imun tubuh menjadi keunggulan dari metode ini. Metode yang sama juga digunakan untuk membuat vaksin terhadap SARS-CoV dan MERS-CoV. Salah satu kelemahannya, ada kemungkinan “pre-existing immunity” di masyarakat sehingga pemberian vaksin mejadi tidak efektif.
Menurut berita di media, uji coba klinis memberikan hasil yang menjanjikan dan laporan ilmiah akan segera dipublikasikan di The Lancet Medical Journal-a world leading medical journal. Oxford vaccine ini dikabarkan berhasil menginduksi “double defence” sistem imun tubuh dengan produksi antibodies, sekaligus T-cells (bagian dari sel darah putih) yang bisa melawan virus. [Ref6]
Pemerintah Jepang sendiri dikabarkan sudah menjalin komunikasi dengan pihak Moderna dan AstraZeneca untuk memastikan Jepang mendapatkan suplai yang cukup jika vaksin ini lancar memasuki tahap produksi. [Ref7]
--
Demikian ringkasan terkait perkembangan obat dan vaksin COVID-19. Semoga akan semakin banyak ya hasil riset lain yang menjanjikan dan bisa efektif diaplikasikan langsung. Sementara itu, mari kita bersabar dan tetap selalu hati hati dalam berkegiatan.



“Don’t Panic – Stay Alert – Get Informed, and Be Wise”
Tokyo, 17 Juli 2020


References:

Friday, July 10, 2020

Venous Thromboembolism (VTE) Risk during Stay-at-Home


Venous Thromboembolism (VTE) Risk during Stay-at-Home

Halo semuanya! Semoga kita masih bisa bersabar ya menahan diri untuk tidak banyak kumpul kumpul atau keluar yang tidak perlu saat ini.  Kasus di Jepang secara keseluruhan kembali naik, dan kali ini banyak didominasi dari usia muda 20-30 tahunan dengan gejala ringan atau tanpa gejala. Jangan lupa, SARS-CoV-2 ini belum hilang, dan pasien tanpa gejala bisa menularkan. Selain itu, usia 20-30 tahunan ini seusia mahasiwa, atau pekerja aktif yang biasanya banyak memakai transportasi umum.
 Oh ya, meski kasus banyak didominasi dari nightlife business, bukan berarti yang tidak ke sana aman sentosa. Musuh kita ini tidak kelihatan, dan akan dengan cepat menyebar luas. National Center for Global Health and Medicine (NCGM) sempat mengeluarkan tweet  (7/7) kalau di Shinjuku-ku jumlah orang yang menerima PCR test melonjak hingga 167 kasus-the highest ever-; dan positive rate PCR test minggu lalu juga hampir mencapai 40% seperti saat sebelum emergency state.
Perjuangan kita masih panjang dan kita harus adaptasi dengan perubahan pola kehidupan sehari hari. Jadi kali ini saya mau menulis tentang salah satu risiko kesehatan yang mungkin timbul karena perubahan aktivitas selama masa pandemik ini yaitu VTE (Venous Thromboembolism)

1. Apa itu VTE (Venous Thromboembolism)?
VTE merupakan gejala penyakit yang ditandai dengan adanya “thromboembolism” - sumbatan di pembuluh darah dari bekuan darah yang terlepas dan ikut dalam sirkulasi peredaran darah. Karena bekuan darah ini terjadi di pembuluh darah balik (vena), jadilah disebut VTE.  VTE sendiri dibagi lagi menjadi 2 tipe: DVT (Deep Vein Thrombosis) dan Pulmonary Embolism (PE)
DVT, biasanya disebabkan adanya bekuan darah yang terbentuk di vena dalam, sering di tungkai kaki atau paha. Jika bekuan darah ini lepas dan naik ke atas (jangan lupa ini terjadi di pembuluh darah balik ke jantung/paru) bisa menyebabkan sumbatan di pembuluh darah paru paru, yang kemudian disebut PE.

2. Gejala apa yang timbul?
Adanya sumbatan di vena kaki, DVT, bisa menimbulkan gejala antara lain: sakit, kulit merah, terasa hangat ,bengkak, di area kaki yang terkena.
Jika sumbatan lepas dan terjadi PE, gejala yang bisa timbul: sakit dada, sesak nafas, atau nafas jadi cepat pendek (rapid shallow breathing-tachypnea), detak jantung tidak beraturan, dan pasien bisa kehilangan kesadaran.  PE bisa berakibat fatal.

3.  Kenapa bisa terjadi DVT-PE?
DVT bisa timbul karena posisi statis jangka waktu lama. Contohnya, pasien yang sulit bergerak pasca operasi, pasien yang kondisinya harus tiduran/duduk dalam jangka waktu lama, termasuk duduk lama saat penerbangan panjang (long airplane flight). Itu sebabnya, pasien pasca operasi biasanya pakai compression stockings, dan tergantung kondisi, biasanya dianjurkan segera rehabilitasi. 
Mungkin banyak yang pernah dengar, tentang “economy class syndrome”. Ini tidak lain juga  DVT, yang terjadi karena posisi duduk lama di pesawat, terutama di kelas ekonomi dimana ruang untuk menggerakkan kaki tidak luas.  Sudah sering terdengar kasus dimana penumpang pesawat mendadak lumpuh, sesak nafas, kehilangan kesadaran ,dsb., tidak lama setelah turun  pesawat dan diduga disebabkan DVT-PE. Tidak hanya kejadian langsung, beberapa laporan menunjukkan gejala DVT-PE bisa terjadi beberapa jam, beberapa hari, sampai beberapa bulan kemudian setelah penerbangan panjang. [Ref1]

4. Apa hubungannya DVT-PE dengan masa pandemic Covid-19?
Kebijakan stay-at –home selama pandemik  membuat kita cenderung untuk tidak aktif bergerak, WFH (Work from Home) duduk lama berjam jam di depan computer sambil kerja, atau depan TV sambil nonton serial drakor misalnya, bisa beresiko meningkatkan terjadinya thromboembolism.  Risiko tentang ini sudah mulai dikemukakan di majalah atau journal kesehatan;
“Amid coronavirus, Cushman said she’s mainly worried about venous thromboembolism. That’s when blood clots form in the veins and can lead to part of the clot traveling to the lungs and causing blockage, also called a pulmonary embolism. The symptoms can include chest pain and shortness of breath” – Dr. Mary Cushman, professor of medicine and pathology-University of Vermont. [Ref2]
“We recommend to raise awareness of preventive measures to prevent VTEs, especially lethal PEs, as part of the stay-at-home policy” [Ref3]

5.  Apa benar jika tubuh ‘immobile’ dalam waktu lama bisa beresiko menimbulkan DVT-PE?
Berdasarkan laporan laporan yang ada, jawaban saat ini, iya.  Tahun 2010, ada penelitian dari Wellington Hospital (New Zaeland)-melibatkan 197 kasus – yang menyimpulkan ada kaitan jelas antara “prolonged work-and computer-related seated immobility” dengan risiko terjadinya VTE.  Faktor risiko lainnya bisa dilihat di tabel yang saya lampirkan [Ref4].
Tahun 2018, ada laporan dari Jepang tentang kasus VTE setelah adanya gempa di Kumamoto tahun 2016. Saat itu karena khawatir dengan adanya aftershocks di malam hari, banyak orang yang memilih tidur di dalam mobil. Dan ternyata, dari data pasien yang masuk ke RS dan butuh perawatan terkait VTE, mereka berasal dari kelompok yang memilih tidur di dalam mobil pasca gempa.
“Of the 51 enrolled patients, 42 (82.4%) spent a night in a vehicle” ; “the presence of pulmonary thromboembolism (PTE) was significantly higher in the night-in-vehicle group.” [Ref5]

6. Bagaimana mengurangi resiko terjadinya VTE  karena perubahan aktivitas harian saat ini?
- Usahakan bergerak. Setelah satu jam duduk non-stop, bisa 5 menit stretching ringan, atau jalan ambil minum di dapur misalnya. Cukup minum juga baik untuk kesehatan tubuh
- Usahakan ada ruang gerak untuk kaki yang nyaman selama bekerja. Jangan terus menerus kaki dilipat/ditekuk
- Usahakan tetap menjaga kebugaran tubuh, jaga berat badan, gerakkan badan/olahraga teratur.

PS: Tips untuk ibu ibu di rumah, kalau suaminya WFH dan anteng lama depan computer, coba sering sering minta tolong cuci piring, buang sampah, belanja sebentar, masak dsb. Biar ada gerak badan sedikit dan hati kita juga senang urusan rumah ikutan beres.

“Don’t Panic – Stay Alert – Get Informed, and Be Wise”
Tokyo, 9 Juli 2020



References:
[1] DUSSE, Luci Maria SantAna et al. Economy class syndrome: what is it and who are the individuals at risk?. Rev. Bras. Hematol. Hemoter. [online]. 2017, vol.39, n.4 pp.349-353. 
[2]USA Today Health: https://www.usatoday.com/story/news/health/2020/04/08/coronavirus-inactivity-health-experts-tips-self-care-quarantine/2967723001/
[3] Rapid Response: COVID-19: Stay-at-Home Policy and Risk of Venous Thromboembolismhttps://www.bmj.com/content/368/bmj.m800/rr-21
[4] Healy, Bridget et al. “Prolonged work- and computer-related seated immobility and risk of venous thromboembolism.” Journal of the Royal Society of Medicine vol. 103,11 (2010): 447-54. doi:10.1258/jrsm.2010.100155
[5] Sueta D, Hokimoto S, Hashimoto Y, et al.  Kumamoto Earthquake Thrombosis and Embolism Protection (KEEP) Project Investigators. Venous Thromboembolism Caused by Spending a Night in a Vehicle After an Earthquake (Night in a Vehicle After the 2016 Kumamoto Earthquake). Can J Cardiol. 2018;34:813.e9-813.e10.

Evaluasi Keadaan Darurat pada Anak



Evaluasi Keadaan Darurat pada Anak




Emergency state di Jepang sudah dicabut (May25) dan kita mulai pelan pelan kembali beraktivitas ya. Saya rasa banyak yang perasaannya campur aduk antara senang anak anak sekolah lagi, kerja lagi, bisa punya “me time” lagi; tapi juga ada perasaan takut, tegang, senewen karena lebih ribet mesti antisipasi sana sini, dsb. Apalagi kita yang punya anak kecil, biasanya anak kecil lebih mudah sakit kalau sudah masuk sekolah atau daycare; dan sekarang kita mesti tambah waspada lagi dengan adanya Coronavirus.


Kali ini saya mau share tentang cara praktis evaluasi keadaan darurat pada anak anak. Informasi ini resmi dikeluarkan dari The Japanese Society of Emergency Pediatrics (JSEP) beberapa hari yang lalu. Mungkin ibu ibu pernah merasa bingung saat anak sakit (apalagi dalam keadaan pandemik seperti sekarang), apakah perlu segera dibawa ke RS atau dokter, apakah perlu panggil ambulans, atau ah ini tidak apa, coba pantau dulu sebentar keadaannya, dsb. Menurut protokol yang dikeluarkan, pada saat anak sakit yang penting bukan mengejar apa diagnosa penyakitnya, tapi kemampuan kita untuk menilai apakah keadaan si anak darurat dan perlu segera mendapatkan penanganan atau tidak.


Saya coba tuliskan ke dalam bahasa Indonesia, panduan praktis (dalam bentuk tabel) untuk membantu kita lebih mudah evaluasi dan menentukan tindakan yang diperlukan dengan melihat kondisi/gejala yang ada pada si anak. Ada 9 kondisi dasar klinis yang bisa dilihat, dan setiap kondisi dibagi dalam 4-5 skala point/skor; semakin tinggi point-nya semakin tinggi urgensi untuk segera mendapatkan penanganan. Selain itu, ada tambahan 3 kondisi lain jika ada kejadian di luar perkiraan seperti misalnya saat anak jatuh, luka, kena alergi, dsb.
Pada anak berusia 3 bulan ke atas, jika memenuhi keadaan di bawah ini, pertimbangkan untuk mendapatkan penanganan darurat tergantung situasi yang ada.
1. Meskipun hanya satu kondisi, tapi jika ada gejala yang mencapai skala 5 segera panggil ambulance.
2. Jika ada kondisi yang mencapai skala 3, meskipun hanya satu kondisi, sebaiknya segera bawa anak untuk cek lebih lanjut.
3. Jika kondisi dengan skala 3 bertambah satu lagi, perlu penanganan gawat darurat. Jika sampai bertambah lebih dari dua kondisi, segera panggil ambulance.
4. Jika kondisi dengan skala 2 bertambah banyak, atau kondisinya tidak membaik dan berkelanjutan, sebaiknya bawa anak untuk cek lebih lanjut.





Pada anak di bawah usia 3 bulan, jika orang tua (保護者) melihat ada kondisi yang rasanya tidak beres, sebaiknya segara penanganan gawat darurat. Selain itu tidak hanya tergantung umur jika ada kondisi darurat seperti kejang, mendadak anak tidak ada respon, tidak bisa bernafas, dsb. Dan kita sebagai orang tua melihat kondisi ini tidak beres [これは大変だ], tidak perlu pikir panjang lagi, segera ambil penanganan gawat darurat.


Oh ya, jangan lupa juga, meskipun kita tidak tahu nama penyakit, atau kita juga tidak punya pengetahuan medis, jangan panik dan khawatir. Sebagai orang tua yang paling dekat dengan si anak, tentu kita yang paling bisa memantau dan menilai kondisi anak kita sendiri dengan baik.


Saya cantumkan juga nomor yang bisa dihubungi di Jepang jika darurat ingin konsultasi kondisi kesehatan anak.


困ったときの相談窓口
電話
- 子供医療相談事業 (#8000)
- 救急安心センター事業 (#7119) *未実施地域があり
インターネット・スマホアプリ
- 子供の救急 (ONLINE QQ): 日本小児科学会
- 全国版救急受診 (Q 助): 総務省・消防庁
Semoga info ini bisa berguna untuk yang membutuhkan J Jika ada yang ingin download pdf file asli (bahasa Jepang) mengenai hal ini, bisa ambil dari:
http://www.convention-axcess.com/jsep/2020-manual.html


“Don’t Panic – Stay Alert – Get Informed, and Be Wise”


Tokyo, 6 Juni 2020

Wednesday, May 20, 2020

Cancer Patients - Risks during Coronavirus Pandemic (Japan)


Cancer Patients - Risks during Coronavirus Pandemic (Japan)

Sudah pada bosan belum dengar berita Covid? :) Covid-19 diprediksi tidak akan hilang dengan mudah, mau tidak mau kita memang harus terbiasa ya dengan perubahan situasi yang ada. Di tulisan kali ini saya sharing informasi untuk pasien kanker, salah satu vulnerable groups yang juga sudah kena dampaknya.
The Japanese Cancer Association membentuk Working Group (bersama dengan The Japanese Cancer Therapy Society dan The Japanese Society of Clinical Oncology) untuk membahas masalah ini dan minggu lalu resmi mengeluarkan Q&A untuk pasien kanker. Berikut saya sarikan beberapa point yang menurut saya perlu diketahui pasien kanker dan keluarganya. Dan tentu saja juga untuk semua orang lain yang mendukung perjuangan penderita kanker.

1. Apakah pasien kanker lebih rentan terkena Covid-19?
Secara umum sistem kekebalan tubuh menurun pada pasien kanker, terutama yang sedang menjalani anti-cancer treatment. Ada studi yang menyatakan pasien Covid-19 dengan kanker, memiliki resiko lebih tinggi untuk memburuk (perlu perawatan di ICU dan bantuan mechanical ventilation) dibandingkan dengan pasien non-kanker. Jadi penting sekali untuk pasien kanker menjaga diri sedapat mungkin untuk tidak tertular Covid-19.

2. Bagaimana supaya pasien kanker tidak terkena Covid-19?

Secara umum sama seperti yang sudah kita tahu: sering cuci tangan, pakai masker, jaga kebersihan, hindari 3 tempat rawan penularan: (“
密閉 (mippei - tertutup, sealed) - 密集 (misshu - padat, crowd) - 密接 (missetsu - jarak dekat, close)” 
Khusus untuk pasien kanker, dihimbau untuk tidak mendatangi RS jika tidak ada kepentingan mendesak (misalnya, tidak perlu mengunjungi kerabat yang sedang dirawat di RS, dsb). Pemeriksaan yang tidak terlalu darurat bisa ditunda atau dilakukan melalui telepon/online medical treatment yang sudah mulai dilakukan juga di Jepang. Jika perlu datang ke RS, usahakan menggunakan kendaraan pribadi.

* Ini informasi resmi dari MHLW tentang online medical treatment:
https://www.mhlw.go.jp/stf/seisakunitsuite/bunya/kenkou_iryou/iryou/rinsyo/index_00014.html
* Jika ingin mencari Cancer Consulation Support Center:
https://hospdb.ganjoho.jp/kyotendb.nsf/fTopSoudan?OpenForm

3. Sebenarnya apa mekanisme penyebab infeksi Covid-19 menjadi berat?
Belum diketahui secara pasti mekanisme penyebabnya, sampai saat ini salah satu yang diduga biang keladinya adalah “cytokine storm”. Saat terjadi infeksi dalam tubuh, sel darah putih akan mengaktifkan sel sel inflamatory (cytokines) yang berguna untuk melawan virus/bakteri yang masuk. Sayangnya, jika terjadi overproduksi dari cytokines, malah bisa berakibat fatal. Dari data laporan yang ada, diduga orang yang memiliki kadar IL-6 (Interleukin 6 –komponen utama dari cytokines) tinggi lebih rentan mengalami “cytokine storm” sehingga sekarang kadar IL-6 dalam darah menjadi salah satu patokan untuk memantau resiko pada pasien Covid-19
PS: Saat ini clinical trials sedang berlangsung menggunakan Tocilizumab (Actemra) – obat rheumatoid arthritis- untuk kasus Covid-19 yang berat, obat ini bekerja sebagai inhibitor untuk IL-6.  

4. Bagaimana pemeriksaan yang harus dilakukan jika saat ini ada dugaan kanker?
Jika seseorang dicurigai kemungkinan besar kanker, pemeriksaan yang diperlukan akan dilakukan sesuai rencana. Tetapi jika kemungkinan kanker kecil, ada kemungkinan pemeriksaan bisa ditunda. Hal ini harus didiskusikan dengan dokter yang menangani.
*Pemeriksaan untuk cancer screening, 人間ドック, jika tidak mendesak bisa ditunda. Pemeriksaan seperti endoskopi atau contrast enhanced ultrasound (CEUS) misalnya, dianggap beresiko karena ada kontak dekat antara pasien dengan petugas medis sehingga termasuk pemeriksaan yang perlu dibatasi selama wabah Covid-19 ini.

5. Jika sedang menjalani pengobatan kanker saat ini, apakah sebaiknya ditunda? Bagaimana dengan rencana operasi?
Ini tergantung dari tipe kankernya, kondisi fisik pasien, tujuan dan situasi status pengobatan yang ada. Perlu analisa dan diskusi dari dokter yang menangani. Jangan menghentikan sendiri pengobatan yang sedang berjalan.

Pada kasus kanker stadium dini (early stage), menunda operasi sementara bisa dianggap pilihan aman saat ini. Ada laporan yang menunjukkan pasien pasca operasi lebih beresiko memburuk jika terkena Covid-19. Diskusikan dengan dokter yang menangani alternatif pengobatan yang ada selain operasi. Tehnik ablasi untuk kanker hati misalnya, yang dianggap “non-aorosol generating procedure” bisa dipertimbangkan sebagai alternatif pengganti operasi. Begitupula dengan pengobatan kanker lainnya. Di beberapa kasus seperti kanker prostat atau kanker payudara stadium dini yang bisa responsive dengan alternatif hormonal terapi, juga bisa dipertimbangkan sementara menunda radiotherapy, dsb. Jadi selalu komunikasikan dengan dokter yang menangani, bagaimana sebaiknya kelanjutan pengobatan yang dilakukan.

--
Demikian kira kira gambaran umum apa yang perlu diketahui pasien kanker di masa Covid-19 ini. Untuk detil pastinya tergantung jenis kanker, stadium, kondisi perawatan yang sedang berlangsung, mapun kondisi pasien masing masing. Selain pasien kanker, pasien pasien dengan gangguan sistem kekebalan tubuh juga sudah terkena dampak dari Covid-19. Masih ingat ya di tulisan sebelumnya saya tentang kelangkaan obat untuk pasien LUPUS karena dianggap salah satu potential treatment untuk Covid-19, meski sampai sekarang belum resmi jelas efektivitasnya.

Kita yang sehat kadang lupa dan memikirkan diri sendiri. Banyak yang stok berlebih obat sendiri, banyak yang sudah keluar kumpul ramai ramai dengan berbagai alasan, dsb. Mari kita ingat ada kelompok orang orang yang rentan dan butuh perhatian lebih saat pandemik ini. Kita berjuang bersama, biar sama sama juga kita semua bisa melewati pandemik ini dengan baik.

“Don’t Panic – Stay Alert – Get Informed, and Be Wise

Tokyo, 19 May 2020

 Ref:
-日本癌学会:新型コロナウイルス感染症とがん診療について(患者さん向けQ&A
- Liang et al, The Lancet Oncology: Cancer patients in SARS-CoV-2 infection: a nationwide
analysis in China
- The 5th APASL COVID-19 Webinar: “How to manage HCC patients”



Thursday, April 16, 2020

Lupus Patients : Potential Victims of Covid-19


Lupus Patients : Potential Victims of Covid-19

Pernah dengar penyakit Lupus? 
Lupus adalah penyakit autoimun dimana sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang sel sel sehat dan jaringan tubuhnya sendiri. Gejala yang ditimbulkan oleh penyakit ini sangat beraneka ragam tergantung jaringan tubuh yang diserang sehingga Lupus dikenal juga dengan sebutan "the great imitator" atau penyakit seribu wajah. Lupus bisa menyerang organ tubuh yang penting seperti jantung, paru, ginjal, maupun sistem saraf dan otak. Jika terlambat dikenali dan diatasi dengan baik, Lupus bisa berakibat fatal. Sampai saat ini Lupus belum bisa disembuhkan, tapi bisa dikendalikan sehingga orang dengan Lupus (Odapus) berada dalam kondisi remisi – kondisi dimana gejala berkurang atau hilang sehingga penderita bisa menjalankan aktivitas sehari hari.

Bagaimana mengendalikan Lupus?
Dengan berbagai obat yang sesuai untuk mengatasi gejala yang keluar. Kadang pasien Lupus butuh waktu sampai tahunan untuk bisa mendapatkan kombinasi obat obatan yang cocok untuk bisa mengatasi gejala Lupus yang dialami.
Selain obat obatan anti inflamasi, corticosteroid, immunosuppresants, dsb; obat antimalaria juga menjadi salah satu obat pilihan untuk Lupus. Obat antimalaria yang biasanya dipakai penderita Lupus contohnya: hydroxychloroquine (Plaquenil) dan chloroquine (Aralen). Obat antimalaria, melalui modulasi komponen sistem imun tubuh dapat membantu meminimalisir gejala Lupus yang timbul dan bahkan diharapkan bisa membantu mencegah Lupus menyerang organ tertentu seperti ginjal dan susunan saraf pusat.  

Apa hubungannya Lupus dengan Covid-19?
Salah satu obat yang dianggap potensial mengatasi Covid-19 adalah chloroquine - obat anti malaria. Meskipun sampai saat ini belum terbukti jelas secara ilmiah dan investigasi pun masih terus berlangsung; banyak orang yang sudah berbondong bondong membeli chloroquine dan bahkan meminumnya sendiri tanpa indikasi medis apapun selain dengan harapan bisa melindungi diri sendiri dari Covid-19. Akibatnya bisa ditebak, obat antimalaria yang memang dibutuhkan sehari hari oleh pasien Lupus ini hilang dari pasaran.

Bagaimana kondisi Odapus saat ini?
Pasien Lupus yang bergantung pada obat chloroquine dalam pengobatannya, tentu sudah kewalahan. Mereka sudah tidak mudah lagi membeli chloroquine, stok habis dimana mana.  Yayasan Lupus Indonesia melalui ketuanya, Tiara Savitri sudah bersuara mengenai hal ini:  

Begitupula di Amerika. Berikut kutipan dari artikel yang dikeluarkan dari kredibel medical journal, JAMA: 
“As we have learned from consumer behavior with toilet paper, hand sanitizers, and masks during the COVID-19 crisis, even as the supply of hydroxychloroquine increases, barriers for patients with lupus who are vulnerable may persist. Stockpiling of hydroxychloroquine to prevent or treat COVID-19, despite very limited evidence of benefit, thus exposes these patients to enormous risks.”

---
Saya secara khusus menulis artikel ini karena memang sudah ada odapus yang curhat masalah ini ke saya, dan saya berjanji untuk membantu menyebarluaskan kondisi ini supaya lebih banyak orang yang sadar. Jadi yuk, kita yang baca ini tulisan ini berusaha memberi edukasi ke keluarga dan teman teman lain untuk tidak gila gilaan memborong obat yang saat ini belum resmi pasti efektivitasnya, tetapi sudah membahayakan jiwa orang lain yang justru benar benar membutuhkan dengan segera obat tersebut.

“Don’t Panic – Stay Alert – Get Informed, and Be Wise

Tokyo, 15 April 2020

Image: taken from 



UPDATE: 

Pencabutan izin darurat Hydroxychloroquine Sulfate dan Chloroquine Phosphate untuk mengobati pasien Covid-19

https://www.cnbcindonesia.com/tech/20201118123707-37-202711/bpom-ri-cabut-izin-pakai-darurat-2-obat-covid-19-ini


Monday, March 23, 2020

Penularan Covid-19 di Jepang

Catatan penting penularan dan pencegahan Covid-19 di Jepang

Pemerintah dan tim ahli dari MHLW (Ministry of Health, Labour and Welfare) memberikan himbauan untuk selalu mewaspadai tiga lokasi atau kondisi yang rawan terjadi penularan Covid-19, yaitu:

1.
換気の悪い密閉空 (tempat tertutup dengan sirkulasi udara buruk)
2. 多数が集まる密集場所 (tempat yang padat, banyak orang berkumpul)
3. 間近で会話や発声する密接場面 (kondisi dimana percakapan antar orang dilakukan dalam jarak dekat-sejauh jangkauan tangan)

Jika ketiga kondisi ini terpenuhi, resiko terjadinya penularan meningkat (mudah terbentuk cluster transmission).
Untuk mencegah hal tersebut disarankan:
1. Atur ventilasi udara dalam ruangan. Buka jendela dari dua arah bersaaman agar sirkulasi udara mengalir
2. Kurangi kepadatan orang yang berkumpul. Buka jarak 1-2 meter antar orang
3. Hindari percakapan dalam jarak dekat. Jika terpaksa, pakai masker dan jaga jangan sampai air liur keluar/muncrat saat berbicara.

---
Places where outbreaks occur tend to be:
1. Closed space with poor ventilation,
2. Crowded space with many people
3. Conversations and vocalization in close proximity (within arm's reach of one another).

Untuk yang tinggal di Jepang, analisa resiko sebelum beraktivitas dengan ingat:

密閉 (mippei - tertutup, sealed) - 密集 (misshu - padat, crowd) - 密接 (missetsu - jarak dekat, close)”



“Don’t Panic – Stay Alert – Get Informed”
Tokyo, 23 Maret 2020

Ref:
Update terakhir laporan analisis keadaan dan masukan tim ahli di Jepang (19 Maret 2020) bisa lihat translate dalam bahasa Indonesia dari:
https://www.facebook.com/yati.anggarini/posts/10159514978164689

Thursday, March 12, 2020

Summary from WHO Media Briefing on Covid-19


Summary from one-stop credible source
WHO Media Briefing on Covid-19

Belakangan banyak sekali informasi dari berbagai sumber yang sudah tidak jelas lagi asal usulnya. Apakah ini berita, opini, atau hanya sekedar klaim tidak berdasar, semua orang dari berbagai latar belakang tiba tiba bisa mengaku jadi ahli yang paham sekali dengan virus.

Ini saya share summary, cukup dari satu sumber: WHO

Media briefing 3 Maret 2020

1. Meskipun Covid-19 dan Influenza sama sama penyakit infeksi saluran pernafasan, keduanya merupakan penyakit yang berbeda.
“This virus is not SARS, it’s not MERS, and it’s not influenza. It is a unique virus with unique characteristics” - WHO

Tambahan dari saya: Influenza juga berbeda dengan common cold. Influenza disebabkan oleh influenza virus (tipe A, B, C – tipe A ini yang sering menyebabkan wabah seasonal influenza setiap tahun. Tipe A influenza bisa dibagi lagi dalam beberapa strain, tergantung dari kombinasi 2 jenis protein di permukaan virus, ini yang kita kenal ada H1N1, H3N2, H5N1, dsb). Sedangkan common cold disebabkan oleh lebih dari 200 tipe virus, termasuk rhinovirus, coronavirus, respiratory syncytial virus, dsb.
Jadi bedakan dulu ya istilah common cold = batuk pilek (atau kaze, kata orang Jepang) dengan Influenza (flu). Oh ya, dan coronavirus bukan jenis jamur! Penyakit yang disebabkan oleh infeksi jamur disebut mycosis, contoh paling gampang: panu.

2. Covid-19 dan Influenza bisa menyebar dengan cara yang sama, melalui percikan droplets dari mulut dan hidung orang yang sedang sakit.
“Both COVID-19 and influenza cause respiratory disease and spread the same way, via small droplets of fluid from the nose and mouth of someone who is sick” – WHO

3. Berdasarkan data laporan global yang ada, perkiraan angka kematian saat ini 3.4%.
“Globally, about 3.4% of reported COVID-19 cases have died. By comparison, seasonal flu generally kills far fewer than 1% of those infected” – WHO
Kita tahu estimasi angka kematian sebelumnya 2%, dan ini memang bukan angka pasti karena data masih bergerak terus sesuai dengan perkembangan penyebaran virus. Jadi hati hati dengan berbagai klaim yang dengan gampang analisa angka kematian tanpa cek update perkembangan data yang ada.

4. Sampai saat ini belum ada vaksin dan pengobatan spesifik untuk Covid-19
“We have vaccines and therapeutics for seasonal flu, but at the moment there is no vaccine and no specific treatment for COVID-19. However, clinical trials of therapeutics are now being done, and more than 20 vaccines are in development” – WHO

Meski belum ada pengobatan spesifik, berbagai riset dan kemungkinan penggunan obat yang cocok untuk Covid-19 terus dilakukan. Di Jepang, kita sudah dengar nama obat: Avigan – anti influenza (diproduksi oleh Toyama Chemical Fujifilm Group). Obat ini dikenal juga dengan nama Favipiravir, Favilavir dan merupakan salah satu obat kandidat yang dipakai untuk mengatasi Covid-19 di China. Kita juga dengar pemakaian Cyclesonide シクレソニドobat asma (anti inflamasi-corticosteroid) yang berhasil membantu pasien Covid-19 di salah satu RS di Jepang. Pemakaian cyclesonide sudah dilaporkan dalam bentuk case report untuk 3 pasien, dan semoga akan banyak laporan lain ke depannya. Selain itu, ada Remdesivir – anti Ebola (diproduksi oleh Gilead Science, Inc) dan saat ini sedang masuk clinical trial phase3 di Wuhan dan Beijing. Salah satu petinggi WHO pernah menyebutkan dalam konfrensi pers di Beijing 24 Feb 2020, “There is only one drug right now that we think may have real efficacy and that's remdesivir," - Bruce Aylward.


Dan pada media briefing 11 Maret 2020

5. Penyebaran Covid-19 dikategorikan sebagai Pandemic
“We have therefore made the assessment that COVID-19 can be characterized as a pandemic” - WHO

Istilah pandemic sendiri merujuk pada luasnya penyebaran penyakit, bukan pada fatalitasnya. Menurut definisi WHO, pandemic ialah penyebaran penyakit baru yang meluas antar manusia di berbagai belahan negara di dunia. Dengan status pandemic ini WHO berharap semua negara bisa lebih aktif dan meningkatan respon dalam menghadapi Covid-19.
“communicate with your people about the risks and how they can protect themselves; find, isolate, test and treat every Covid-19 case and trace every contact; ready your hospitals; protect and train your health workers” - WHO

--
Semua pasti sudah sepakat untuk tidak perlu panik menyikapi penyebaran Covid-19, tapi juga tidak meremehkan virus ini. Salah satu cara untuk tidak panik membabi buta tentu dengan filter informasi yang masuk hanya dari sumber resmi yang terpercaya, jangan hanya dari forward WA group - klaim tanpa cantuman sumber data resmi Covid-19. Tidak meremehkan si virus dengan berusaha belajar dari pengalaman negara lain yang sebelumnya sudah menghadapi lonjakan kasus Covid-19. Kasus impor bisa dengan cepat berubah menjadi transmisi lokal. Jepang sudah mengalami sejak adanya kasus supir bus dan tour guide yang positif tanpa riwayat pergi ke daerah outbreak. Dari transmisi lokal dengan mudah akan terbentuk cluster dan community transmission. Ini yang sedang terjadi di Jepang, dan seperti yang kita tahu, sedang berusaha direm oleh pemerintah melalui pembatalan berbagai acara yang melibatkan orang banyak, meliburkan sekolah sekolah, dsb.

“We have never before seen a pandemic sparked by a coronavirus. This is the first pandemic caused by a coronavirus. And we have never before seen a pandemic that can be controlled, at the same time “ - WHO 

“Don’t Panic – Stay Alert – Get Informed”
Tokyo, 12 Maret 2020