Sunday, January 30, 2022

Learn More and Keep Calm ~ Omicron variant ~ Japan 2022

 Learn More and Keep Calm 
~ Omicron variant ~ Japan 2022

MHLW dan tim ahli penanganan Covid baru saja mengeluarkan guidelines terbaru untuk penanganan COVID-19 di Jepang (2022/01/27 発行). Guidelines ini ditujukan untuk membantu tenaga medis, paramedis mengevaluasi situasi di lapangan terkait diagnosis dan penanganan COVID-19 saat ini. Naiknya jumlah kasus dan karakter penyebaran varian Omicron yang berbeda dengan varian sebelumnya membuat tata cara diagnosis, masa karantina, penanganan, dsb banyak yang berubah.  

 

Saya tidak share guidelines ini secara umum, tapi saya ambilkan beberapa point yang mungkin bisa membantu menjadi acuan terutama untuk orang dengan gejala ringan, tidak bergejala, atau kontak erat (close contact, 濃厚接触者). Saat ini jumlah orang yang melakukan karantina mandiri banyak sekali dan sudah melebihi kapasitas kemampuan untuk dipantau oleh hokenjo atau dokter terkait. Jadi saya rasa dengan mengetahui beberapa hal di bawah ini, bisa membantu kita lebih tenang memantau kondisi masing-masing.

 

1. Definisi orang dengan kontak erat:

Pasien Covid-19 (hasil test positif) berpotensi menularkan ke orang lain sejak kira-kira 2 hari sebelum onset gejala keluar. Orang lain di sekitar pasien yang bisa menjadi kontak erat:

- tinggal bersama pasien, atau ada kontak erat dalam waktu panjang (dalam mobil, pesawat dsb)

- orang yang melakukan pemeriksaan atau merawat pasien tanpa menggunakan alat pelindung diri dengan baik

- orang yang berpotensi tinggi kontak langsung terkena percikan droplet atau cairan tubuh dari pasien.

- orang yang berbicara dalam jarak dekat (touchable distance).

Dalam jarak 1 meter, tanpa masker, selama 15 menit atau lebih.

患者が発症する2日前から、1メートル程度の距離で、マスクをせずに15分以上会話した場合などが該当します。

**Note: Hati-hati pergi ke restoran atau makan satu meja bersama dengan orang lain. Di sini terbuka peluang menjadi orang dengan kontak erat.

 

2. Sebagian besar orang dengan gejala ringan bisa membaik spontan tanpa perlu perawatan medis khusus. 経過観察のみで自然に軽快することが多い。

Obat minum diberikan sesuai gejala yang keluar, umumnya: penurun panas dan obat batuk.

** Note: Obat penurun panas dengan kandungan acetaminophen (paracetamol) seperti Calonal; maupun dengan kandungan ibuprofen, loxoprofen seperti Loxonin, boleh saja digunakan. Kecuali untuk anak-anak, ibu hamil, menyusui, sebaiknya Calonal. Baik EMA, FDA, maupun WHO sudah mengeluarkan pernyatan bahwa tidak didapatkan scientific evidence yang jelas jika ibuprofen memperburuk gejala Covid-19. Di Jepang, MHLW juga sudah memberikan konfirmasi.

新型コロナウイルスに感染した時にイブプロフェンの服用により新型コロナウイルス感染症が悪化することを示す科学的な根拠は得られていません。厚生労働省では、引き続き新しい情報を収集・分析し、今後も情報提供に努めます。[Ref2]

 

Untuk menghindari kemungkinan memburuk dengan adanya “silent hypoxia”, jika memungkinkan rutin ukur SpO2 dengan pulse oximeter.

(*ukur dan buat catatan, sehari 3 kali). Untuk gejala ringan SpO2 ≥ 96%

Jika SpO2 turun, kurang dari 96%, hubungi institusi medis untuk evaluasi lebih lanjut.

                                                                            

3. Faktor-faktor resiko yang memungkinkan gejala Covid menjadi berat:

- usia 65 thn ke atas

- memiliki penyakit keganasan

- memiliki penyakit saluran pernapasan kronis (COPD)

- memiliki penyakit ginjal kronis

- type 2 diabetes mellitus

- hipertensi

- dislipidemia (kondisi di mana kadar lemak dalam darah berada dalam range abnormal)

- obesitas (BMI ≥30)

- merokok

- gangguan autoimun

- hamil trimester akhir

(Ref: US CDC. Evidence for conditions that increase risk of severe illness, 14 Oct 2021)

 

Berdasarkan studi di Jepang (COVIREGI-JP), faktor-faktor resiko yang memungkinkan pasien Covid-19 membutuhkan bantuan oksigen di RS:

penyakit saluran pernapasan kronis, pria, obesitas, penyakit kardiovaskular, diabetes, dan hipertensi.

**Note: Studi di Keio University tahun 2020 juga menunjukkan adanya korelasi antara hyperuicemia (asam urat, gout) dengan resiko menjadi fatal/death. [Ref 3]

 

4. Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menggunakan antigen kit (qualitative) yang dijual secara komersial:

- Pada prinsipnya tes antigen memiliki spesifisitas dan sensitivitas yang lebih rendah dibandingkan dengan PCR test. Terutama pada orang-orang yang sudah dicurigai terkena atau ada kontak erat, sebaiknya hati-hati untuk interpretasi hasil tes antigen. Tes antigen dengan hasil negatif tidak berarti pasti tidak ada infeksi. Ada kemungkinan “false negative”.

- Hati-hati dengan antigen komersial yang dijual dengan tulisan [研究用] (for research) – [Ref lihat gambar]. Antigen kit ini tidak memiliki approval penggunaan resmi.

** Note: Untuk antigen kit yang sudah resmi memperoleh izin di Jepang (mis: ESPLINE-SARS-CoV-2, Fujirebio), hasil test negatif bisa dikatakan pasti negatif dengan kondisi tertentu (dalam 2-9 hari setelah gejala keluar, dan dipastikan oleh dokter). Antigen kit seperti ini yang biasanya dipakai di klinik/RS. 
 

 



Saya harap ini sedikit banyak bisa membantu kita mengevaluasi situasi dan resiko masing-masing. Semoga cepat sembuh untuk semua yang sedang isolasi mandiri.

 

“Don’t Panic – Stay Alert – Get Informed, and Be Wise”

Tokyo, 30 Januari 2022

Dr. Kathryn Effendi

References:

1.新型コロナウイルス感染症診療の手引き6.2

2. https://www.mhlw.go.jp/stf/seisakunitsuite/bunya/kenkou_iryou/dengue_fever_qa_00004.html#Q22

3. https://dx.doi.org/10.1016%2Fj.jinf.2020.08.052

4. https://www.mhlw.go.jp/stf/seisakunitsuite/bunya/0000121431_00132.html

 

 

Tuesday, January 11, 2022

Brief Summary of Omicron in Japan

 

Brief Summary of Omicron

-Current Situation in Japan-

Jepang sedang memasuki gelombang ke-6 pandemik COVID-19. Jumlah kasus meningkat tajam di Okinawa, Hiroshima dan meluas ke daerah-daerah lain termasuk Tokyo dan sekitarnya. Dari berbagai data dan laporan di luar Jepang, kita tahu model ledakan jumlah kasus seperti saat ini memang sepertinya tipikal disebabkan varian Omicron.

Di Okinawa dilaporkan strain Omicron terdeteksi sudah mencapai lebih dari 90% proporsi kasus. Di Tokyo, strain Omicron dilaporkan mencapai sekitar 60% dari kasus-kasus baru yang terdeteksi. [Ref 1,2]

Jadi mari kita sedikit lebih mengenal strain Omicron ini. Berikut saya ringkaskan tentang Omicron dari data laporan yang ada saat ini.

1. Masa inkubasi dari terkena infeksi hingga timbul gejala pada strain Omicron lebih pendek dibandingkan dengan strain konvensional.

Laporan-laporan yang ada menunjukkan masa inkubasi sekitar 3-4 hari.

[Ref 3,4]. Sedangkan berdasarkan laporan CDC (27 December 2021), masa transmisi diperkirakan 1-2 hari sebelum gejala keluar, dan 2-3 hari kemudian setelah onset. [Ref 5]

2. Salah satu gejala khas dari Covid-19 yang selama ini memang sudah kita ketahui yakni adanya gangguan indra penciuman dan perasa/pengecap. Jika ada gejala-gejala tersebut, kemungkinan terinfeksi Covid-19 tidak bisa diabaikan.

Bagaimana dengan gejala yang disebabkan oleh strain Omicron?

Di Norway, 81 dari 117 orang yang mengikuti suatu acara terdeteksi positif strain Omicron. [Ref 3]. Gejala-gejala yang dilaporkan bisa dilihat dalam tabel yang saya cantumkan. [Ref Feature article] 

Dilihat dari laporan yang ada, gejala varian Omicron memang lebih mirip dengan gejala batuk pilek (風邪). Begitupula laporan dari Okinawa, dari 50 orang pasien positif Omicron, 72% mengalami demam, 58% batuk, 36% hidung meler/tersumbat, dan hanya 2% yang mengalami gangguan perasa. [Ref 6].



Gejala seperti batuk, hidung meler/tersumbat lebih banyak, sedangkan hanya sedikit yang mengalami gangguan indra perasa/pengecap membuat infeksi dari varian ini mudah kelolosan hanya dianggap sebagai “masuk angin” biasa.

3. Pada gelombang infeksi Omicron ini, banyak pasien yang terdata sudah mendapatkan vaksin komplit.

Di Tokyo (data hingga 4 Januari 2022), dari 55 orang yang terkena varian Omicron, 37 orang (67%) sudah dua kali vaksinasi. [Ref 7]. Di Denmark, dari 785 kasus Omicron yang dilaporkan, 599 (76%) tercatat sudah vaksinasi komplit. [Ref 8].

Ini bukan berarti vaksin sama sekali tidak berguna, sebaliknya vaksinasi bisa membantu mencegah kondisi memburuk pada kasus varian Omicron. Laporan update dari UK menyatakan resiko untuk dirawat di RS lebih rendah 65% pada orang yang sudah dua kali vaksinasi, dan lebih rendah 81% pada yang sudah menerima 3 kali booster vaksin dibandingkan yang belum menerima vaksinasi. [Ref 9]

Sejauh ini resiko gejala memburuk dari varian Omicron dilaporkan lebih sedikit daripada varian Delta. Tetapi, perlu diingat bukan berarti tidak ada sama sekali yang memburuk. UK juga melaporkan, 57 orang (usia antara 41-99 tahun) meninggal dalam kurun waktu 28 hari setelah diagnosis Omicron COVID-19. [Ref 9]

--

Jadi mari tetap jaga protokol kesehatan dan kembali lebih berhati-hati dalam beraktivitas, terutama saat penularan sedang meluas kembali saat ini. Dari simulasi AI, diperkirakan kasus di Tokyo bisa memuncak sekitar akhir bulan Februari dan bisa mencapai lebih dari 3000 kasus. [Ref 10]  

 

“Don’t Panic – Stay Alert – Get Informed, and Be Wise”

Tokyo, 11 Januari 2022

Dr. Kathryn Effendi

 

References:

1. https://mainichi.jp/articles/20220105/rky/00m/040/002000c

2. https://www.nikkei.com/article/DGXZQOCC061X20W2A100C2000000/

3. https://www.cdc.gov/mmwr/volumes/70/wr/mm705152e3.htm

4. https://doi.org/10.2807/1560-7917.ES.2021.26.50.2101147

5. http://dx.doi.org/10.15585/mmwr.mm705152e3

6. https://www.mhlw.go.jp/content/10900000/000877245.pdf

7. https://www3.nhk.or.jp/news/html/20220105/k10013415911000.html

8. https://doi.org/10.2807/1560-7917.ES.2021.26.50.2101146

9. https://assets.publishing.service.gov.uk/government/uploads/system/uploads/attachment_data/file/1044481/Technical-Briefing-31-Dec-2021-Omicron_severity_update.pdf

10. https://www.tokyo-np.co.jp/article/150523

** Feature article: オミクロン株の症状の特徴は?従来の新型コロナウイルスと比べた潜伏期、症状の頻度、重症度の違い: https://news.yahoo.co.jp/byline/kutsunasatoshi/20220108-00276330