Tuesday, May 18, 2021

Updates on COVID-19 Vaccination in Japan (May 18, 2021)

 *Updates* -  Vaksinasi COVID-19 di Jepang 

*20 Mei 2021* 
Health ministry panel tgl 20 Mei 2021 mengeluarkan rekomendasi persetujuan untuk penggunaan vaksin dari Moderna dan AstraZeneca. Rencananya ini akan segera diikuti approval resmi dari pemerintah. 

https://english.kyodonews.net/news/2021/05/b8d1b0beb524-japan-health-ministry-panel-set-to-approve-moderna-astrazeneca-vaccines.html

-------

Pelaksanaan vaksin di Jepang masih terasa lambat karena memang jumlah dan distribusi masih banyak terkendala. Saat ini masih hanya vaksin dari Pfizer-BioNTech COVID-19 yang digunakan. Menurut beberapa sumber berita, bulan Mei ini jika tidak ada halangan akan dibahas keputusan persetujuan untuk dua jenis vaksin COVID-19 dari Moderna, Inc. dan AstraZeneca. 

* Moderna juga menggunakan mRNA teknologi, jadi tata cara maupun kontra indikasi yang ada mirip dengan Pfizer. Termasuk juga menggunakan komponen polyethylene glycol (PEG) yang diduga sebagai faktor pencetus alergi pada vaksin mRNA.

* AstraZeneca (ChAdOx1 nCoV-19AZD1222) menggunakan teknologi vector adenovirus yang sudah dimodifikasi untuk membawa materi genetik dari spike (S) protein SARS-CoV-2. Mungkin sudah banyak yang dengar efek samping AstraZeneca. Memang sedang jadi perhatian khusus saat ini. Di beberapa negara seperti Spanyol, Italia, Belgia, dsb menyarankan batasan umur yang diperbolehkan untuk menerima vaksin AstraZeneca ini. Dari beberapa journal terpisah, ada 39 kasus blood clotting disorders yang terjadi dalam 5-24 hari pasca suntikan pertama. Kebanyakan wanita di bawah usia 50 thn, dan diantaranya beberapa menggunakan estrogen replacement therapy atau kontrasepsi oral. [Ref1]

Adanya masalah-masalah seperti ini yang memang membuat Jepang semakin lambat mengeluarkan kebijakan persetujuan penggunaan vaksin. Selalu ada sisi baik dan sisi buruk. Mari lihat yang baik saja (biar tidak senewen 😊); setidaknya kita bisa punya pengetahuan terhadap kemungkinan efek samping yang fatal dari data-data yang sudah keluar terlebih dahulu.

Oh ya, meski angka kejadian anafilaksis di Jepang cukup tinggi, tetapi angka kematian setelah menerima vaksin di Jepang lebih rendah dibandingkan dengan UK atau US. Sampai 7 Mei 2021, di laporan MHLW tercatat total 39 kasus kematian yang dilaporkan setelah menerima vaksin.

Rate kematian di Jepang (~2Mei 2021) hanya 7.3 kasus/1 juta dosis suntikan. Dibandingkan dengan UK (~April 2021) mencapai 18.7 kasus, atau US (~Februari 2021) 18 kasus per 1 juta dosis suntikan [Ref2]. Kita juga bisa berharap persiapan untuk penanganan kasus darurat pasca vaksin di Jepang mendapat perhatian yang cukup baik.

Dan ini saya share juga ya berita baik terkait hasil pelaksanaan vaksin yang saya ikuti.

Saya ikut clinical trials untuk mengukur titer antibody yang diinduksi oleh vaksin. Sebelum saya menerima vaksin pertama di bulan Maret lalu, saya diambil darahnya untuk diukur titer immunoglobulin IgG terhadap COVID-19. Hasilnya nilai saya di bawah batas cut-off value yang ditetapkan, atau dengan kata lain saat itu saya dianggap belum punya kekebalan terhadap COVID-19. Sekitar 3 minggu pasca suntikan dosis kedua, saya kembali diukur. Hasilnya, titer IgG saya naik melebihi batas yang ditetapkan [Ref pribadi, lihat gambar], bahkan jauh melebihi perkiraan saya yang sebelumnya sudah cemas karena hampir tidak ada reaksi apapun setelah menerima vaksin. Titer antibody saya menjadi lebih tinggi sekitar 230 kali dari batas cut-off value (yattaaaaa! ✌)  



Tidak hanya saya sendiri, semua partisipan 650 orang yang tergabung dalam clinical trials naik kadar antibodynya. (ひとまず全員にワクチンの反応が見られて、良かったです。💗)

Selain itu, release data dari Yokohama City University 12 Mei 2021, juga menunjukkan kalau orang yang telah menerima lengkap dua dosis vaksinasi juga bisa membangun kekebalan terhadap strain varian mutasi virus, baik dari Inggris, Afrika, Brazil, maupun India. Persentase orang yang mempunyai imunitas terhadap strain konvensional mencapai 99%, Inggris 94%, Afrika 90%, Brazil 94% dan India, 97% [Ref3].

Riset masih berlanjut. Meski saat ini sedang peak tinggi, sampai kapan titer antibody ini bisa bertahan belum bisa dipastikan. Jadi ya tidak bisa euphoria dulu deh. Tetap harus menjalankan protokol kesehatan ya!
H
asil data saat ini tentu memberikan harapan baik. Banyak data riset vaksin berasal dari luar negeri, Amerika, Eropa, dsb., tapi kali ini kita punya data dari dalam Jepang sendiri.  

Saya sangat berharap semakin cepat vaksin bisa turun ke masyarakat umum apalagi sekarang sudah ditunjang dengan hasil data riset yang memberikan harapan. Semoga secepatnya berbagai kendala dari distribusi sampai teknis reservasi vaksin bisa diatasi.

Sementara itu, mari tetap berhati hati selalu dan tidak kehilangan semangat 💝

 

“Stay Safe, Get Informed, and Be Wise”

Tokyo, 18 Mei 2021

Dr. Kathryn Effendi

References

[1] NEJM reports (summary by Kutsuna Satoshi 先生: https://news.yahoo.co.jp/byline/kutsunasatoshi/20210418-00233281/)

[2] https://www.mhlw.go.jp/content/10906000/000778306.pdf

[3] https://www3.nhk.or.jp/news/special/coronavirus/vaccine/japan_2021/#mokuji26


Wednesday, May 5, 2021

Map of Tracked SARS-CoV-2 Variant in Japan

 Pergerakan Varian Mutasi SARS-CoV-2 di Jepang

Tidak terasa sudah setahun sejak saya bergabung dalam COVID-19 project team di tempat kerja saya. Project ini sendiri bertujuan untuk mempercepat penanganan COVID-19 di Jepang melalui gabungan kerja klinis dan riset aktif dari semua bidang medis yang terlibat; baik dari frontline, medical ethics, epidemiological, genome sequencing, serological diagnosis, therapeutic analysis (Avigan, Remdesivir trials, convalescent plasma, dsb) hingga prevention approaches. Saya sendiri lumayan keriting karena harus meluangkan banyak waktu untuk belajar topik-topik baru yang bukan bidang saya sebelumnya. Kalau lagi kecapekan kadang saya berasa …duh sampai kapan ya ini…sudah satu tahun, dan belum ada tanda tanda pandemik akan segera berakhir dengan cepat.😵

Virus SARS-CoV-2 ini juga terus berupaya meloloskan diri dari berbagai upaya yang kita lakukan. Variasi mutasi semakin lama semakin banyak sementara kita semua masih terbentur dengan berbagai kendala penanganan yang belum maksimal di banyak sektor. Beneran deh butuh kesabaran dan kerja keras dari kita semua (👈自分へのメッセージ).

 ---

Berikut saya coba cerita secara sederhana tentang pergerakan variant mutasi dari SARS-CoV-2 sejak awal ditemukan pertama kali di Jepang.

Dec 2019 – Mar 2020

Awal ditemukan kasus SARS-CoV-2 di Jepang, virus yang keluar merupakan turunan langsung dari virus yang awalnya ditemukan di Wuhan, China. Varian group yang tergolong “ancestor” ini diberi kode grup 19A, 19B (Nextstrain clade) warna ungu – ungu kebiruan. Kelompok ini yang sering kita dengar di televisi mendapat julukan sebagai “従来株” – juraikabu.

Mar 2020 – Oct 2020 – Dec 2020

Lambat laun penyebaran di Jepang meluas dan variant mutasi pun juga mulai terdeteksi satu demi satu. Variasi virus yang dominant di Jepang berasal dari group 20B (Nextstrain), Lineage B.1.1. (PANGO Lineages). Pergerakan virus yang diberi kode grup warna hijau ini jelas mulai terlihat meluas sejak Maret 2020, hingga akhirnya mendominasi strain virus di Jepang sepanjang tahun 2020.


Dec 2020 – Apr 2021

Akhir tahun 2020, kita mendengar adanya strain mutasi virus yang muncul di Inggris dan dikenal sebagai varian 501Y.V1, atau B.1.1.7, atau Variant of Concern (VOC)-202012 / 01. Varian ini diduga 30-50% lebih infeksius dibandingkan dengan varian lain yang sedang beredar dan meningkatkan resiko kematian hingga 64% [Ref1]. Ada beberapa key mutations di dalam genome virus, diantaranya N501Y yang diduga menyebabkan virus lebih mudah untuk menempel pada receptor sel tubuh manusia. Untungnya, vaksin mRNA yang dipakai saat ini diperkirakan masih efektif terhadap varian B.1.1.7 tersebut [Ref2].

Pergerakan virus ini diberi kode warna orange, dan kita bisa lihat hanya dalam waktu beberapa bulan varian mutasi virus ini sudah unjuk gigi, mulai naik mendominasi penyebaran virus di Jepang.

Varian 501Y.V2 (Afrika) atau B.1.351; varian 501Y.V3 (Brazil) atau lineage P1; maupun varian B.1.617 (India) juga sudah ditemukan di Jepang tapi saat ini pergerakannya belum meluas dibandingkan dengan varian dari UK.

Varian Afrika B.1.351 selain memiliki mutasi N501Y seperti varian Inggris, juga memiliki mutasi E484K. Mutasi E484K terjadi di area dekat spike (S) sehingga berpotensi merubah bentuk S-protein virus. Perubahan ini yang diduga bisa menyebabkan virus lolos dari vaksin, sistem kekebalan tubuh, atau neutralizing antibodies. Bahkan memang sudah ada laporan kalau vaksin AstraZeneca, yang saat ini sedang menunggu approval dari pemerintah Jepang, tidak efektif untuk varian Afrika ini [Ref3].

Varian B.1.617 atau インド変異株sebenarnya mempunyai banyak mutasi, tetapi saat ini sering disebut sebagai “double mutant”. Ini karena kebetulan ada dua tempat mutasi yang krusial yakni E484Q dan L452R. Mutasi E484Q ini jadi perhatian karena  terletak di lokasi yang sama dengan mutasi E484K di varian Afrika. Varian yang sedang mewabah di India ini sudah masuk list WHO menjadi “Varian of Interest” [4]. 

--

Pusing yaaa? Samaaaa …! saya juga. Dan semakin banyak varian yang keluar, akan semakin jauh dari harapan pandemik bisa selesai cepat. Mari tetap sebiasanya kita berusaha “tidak tertular dan tidak menularkan”.

Semoga tulisan ini sedikit banyak bisa membantu untuk kita lebih memahami bagaimana perkembangan COVID-19 di Jepang saat ini.

 💓

“Stay Safe, Get Informed, and Be Wise”

Tokyo, 6 Mei 2021

Dr. Kathryn Effendi

References:

Nextstrain (maintained by Center for Medical Genetics Keio University Hospital).

[1] https://www.bmj.com/content/372/bmj.n579

[2] https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/2777785

[3] https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMoa2102214?query=featured_home

[4] https://www.cnbc.com/2021/05/03/who-is-closely-monitoring-10-covid-variants-as-virus-mutates-around-the-world-.html