Sunday, September 12, 2021

CDC: Vaccine Effectiveness Against COVID-19

 Saya sharing informasi terbaru tentang vaksinasi COVID-19.

CDC mengeluarkan pernyataan (early release: 10 September 2021) bahwa orang yang tidak divaksinasi memiliki resiko 11 kali lebih tinggi kemungkinan meninggal dibandingkan orang yang telah menerima vaksinasi lengkap; dan juga 10 kali lebih tinggi kemungkinan untuk dirawat di RS dibandingkan orang yang sudah vaksinasi lengkap.

Pernyataan ini berdasarkan studi dari hampir 600,000 kasus COVID-19 di 13 wilayah states di Amerika dari 4 April – 17 Juli 2021. 
Vaksin yang digunakan: Pfizer-BioNTech, Moderna, and Janssen vaccines.

https://edition.cnn.com/2021/09/10/health/us-coronavirus-friday/index.html

Morbidity and Mortality Weekly Report: https://www.cdc.gov/mmwr/volumes/70/wr/mm7037e1.htm?s_cid=mm7037e1_w#T1_down

--

Semoga ini bisa membantu memberi masukan untuk yang masih ragu-ragu mengambil vaksin. Memang vaksin ada efek samping, tapi sejauh ini efek samping yang ada sudah cukup bisa diprediksi dan diantisipasi lebih baik berdasarkan data-data uji klinis maupun investigasi yang terus berlangsung.  Efek samping yang cukup berat memang tidak enak ya, tapi kemungkinan titer antibody yang naik juga lebih tinggi dan semoga bisa memberikan perlindungan yang lebih baik.

“Stay Safe, Get Informed, and Be Wise”

Tokyo, 12 September 2021

Dr. Kathryn Effendi



Japan’s First Report of COVID-19 Death in Teenage Patient

 Japan’s First Report of COVID-19 Death in Teenage Patient

Mungkin sudah banyak yang dengar dari berita hari ini ya. Saya sengaja sedikit menulis tentang hal ini karena komunitas kita banyak yang punya anak muda, remaja di bawah usia 20 tahun, dan tentu berita ini jadi alarm juga buat kita semua.

Osaka melaporkan secara resmi adanya kasus kematian karena COVID-19 pada remaja pria (10代後半). Remaja ini dikatakan mengeluh sakit sejak 1 September, dirawat masuk di RS, kondisinya memburuk dan meninggal tanggal 7 September. Dari laporan yang ada remaja tersebut memang memiliki komorbid (underlying diseases) dan belum menerima vaksin. [Ref1]

Sejak varian Delta merebak, memang banyak negara melaporkan kalau jumlah anak-anak yang terkena infeksi COVID-19 meningkat. Di Jepang sendiri kasus COVID-19 di bawah usia 20 tahun terus naik. Data per minggu yang dikeluarkan oleh MHLW dari 27 Juli hingga 24 Agustus 2021 terus menunjukkan kenaikan, dan dalam satu bulan sudah mencapai 5 kali lipat lebih tinggi. [lihat gambar, Ref 2]. Meskipun jumlahnya naik, sejauh ini hanya ada laporan yang mengalami kondisi berat, tapi belum ada laporan kematian. Jadi kasus di Osaka ini merupakan laporan pertama kasus kematian usia muda di Jepang.  

Seperti yang sudah saya sering tulis sebelumnya, usia muda memang bukan jaminan tidak akan mengalami kondisi berat, kematian, atau sequale pasca infeksi. Salah satu kondisi berat yang mungkin terjadi pada anak-anak dikenal dengan istilah “Multisystem Inflammatory Syndrome-Children (MIS-C)” Disini terjadi peradangan/inflamasi pada organ-organ tubuh yang gejalanya menyerupai Kawasaki Disease.

“We do not yet know what causes MIS-C. However, we know that many children with MIS-C had the virus that causes COVID-19, or had been around someone with COVID-19.” [Ref 3]

Keluarga dengan anak-anak yang mempunyai komorbid seperti obesitas, penyakit herediter, kelainan jantung bawaan, sickle cell disease, kelainan metabolic, diabetes mellitus, dsb  sebaiknya lebih ekstra hati-hati.  

Bagaimana dengan vaksinasi?

Vaksinasi usia 12 tahun keatas sudah berjalan, bisa cek di wilayah tempat tinggal masing-masing ya. Jepang juga ada kemungkinan untuk memperluas target usia vaksinasi dengan mempertimbangkan hasil dari uji klinis vaksinasi usia 6-11 tahun yang sedang berlangsung. [Ref 4]. Uji klinis memang diperlukan untuk bisa mendeteksi lebih baik kemungkinan efek samping yang jarang tapi perlu diwaspadai. Salah satunya yang dikenal dengan istilah “myocarditis-pericarditis” - peradangan yang terjadi pada otot atau selaput pembungkus jantung. Berdasarkan laporan CDC, myocarditis lebih banyak terjadi pada pria dibandingkan wanita dan terutama usia muda.

“The highest reporting rates were among males aged 12−17 years and those aged 18−24 years (62.8 and 50.5 reported myocarditis cases per million second doses of mRNA COVID-19 vaccine administered, respectively).”

Gejala yang keluar antara lain, sesak nafas, sakit dada, palpitasi/jantung berdebar. Dari guideline yang dikeluarkan oleh American Heart Association and American College of Cardiology, dianjurkan untuk membatasi olahraga (exercise restriction) hingga pulih kembali. [Ref 5]



--

Pasti banyak yang bingung juga bagaimana dengan sekolah anak-anak ya. Semoga sudah ada tindakan preventif dari sekolah masing-masing. Di tempat anak-anak saya sementara berubah jadi kelas online, setiap pagi bisa dengar bel sekolah deh via zoom. Untuk sekolah, hoikuen, kerja, atau kegiatan primer yang memang “mau tidak mau”, apa boleh buat ya ….kita ikut aturan sambil berusaha tetap hati-hati. Tapi kalau kegiatan sekunder, leisure activities bersama teman-teman misalnya, saya sendiri sudah dengan berat hati banyak yang saya lepas.

“bisa pergi ke tempat A, mumpung lagi sepi” Kalau semua orang mikir seperti ini, tidak jadi sepi lagi tempatnya. Dan tidak akan putus rantai penularan.

Setidaknya jika ingin pergi, pertimbangkan dengan baik timing, resiko dan tindakan preventif atau antisipasi yang bisa dilakukan. Hati-hati selalu.

“Stay Safe, Get Informed, and Be Wise”

Tokyo, 09 September 2021

Dr. Kathryn Effendi


References:

1. https://www3.nhk.or.jp/news/html/20210908/k10013249831000.html

2. https://www3.nhk.or.jp/news/special/coronavirus/atschool/detail/detail_10.html

3. https://www.cdc.gov/mis/mis-c.html

4. https://www.nytimes.com/2021/07/26/us/politics/fda-covid-vaccine-trials-children.html

5. https://www.cdc.gov/mmwr/volumes/70/wr/mm7027e2.htm?s_cid=mm7027e2_w

Sunday, August 15, 2021

Post Vaccination Antibody and Breakthrough Infection

 Post Vaccination Antibody and Breakthrough Infection

Akhirnya vaksin mulai jalan ya di Jepang dan bahkan sudah mulai banyak yang selesai terima komplit dua dosis.  Kali ini saya mau share cerita tentang antibody yang diharapkan terbentuk pasca vaksinasi COVID-19.

Saya ikut clinical trial untuk mengukur kadar antibody setelah vaksinasi. Jadi kami diambil darahnya sebelum vaksin dan kemudian secara teratur diambil lagi setelah vaksin komplit. Saya terima vaksin pertama dan kedua selesai bulan Maret 2021, menggunakan vaksin Pfizer. Jadi sharing cerita saya ini berdasarkan data pribadi, dan referensi untuk Pfizer.

Saat ini memang mengukur kadar antibody pasca vaksinasi belum dianjurkan ya oleh MHLW karena vaksin yang digunakan di Jepang dipercaya efektif sehingga tanpa perlu test masing-masing individual, kadar titer antibody bisa dianggap naik. Selain itu antibody kits dan patokan yang dipakai beragam sehingga penilaian satu sama lain bisa berbeda. [Ref1]

Di tempat saya antibody kits yang dipakai juga sudah divalidasi terlebih dahulu dan sudah diambil referensi patokan untuk nilai ambang batas (cut-off value) kadar antibody yang dianggap positif dan negatif. Kadar yang diukur adalah anti SARS-CoV-2 spike receptor binding domain (RBD) Immunoglobulin G (IgG)

Kadar titer IgG terlihat meningkat pada seluruh partisipan dengan nilai tertinggi (peak) pada minggu ketiga pasca vaksinasi kedua. Setelah itu bertahap menurun hingga pengukuran pada tiga bulan pasca vaksinasi. Meski bertahap menurun, kadar titer antibody yang terlihat masih lebih tinggi di atas ambang batas nilai. Hasil studi terbaru dari UK juga menunjukkan adanya penurunan antibody bertahap pasca suntikan kedua vaksinasi Pfizer [Ref 2].

Selain itu juga terlihat kalau partisipan yang mengalami reaksi efek samping yang cukup berat pasca vaksinasi memiliki kadar antibody yang lebih tinggi dibandingkan yang tidak. Reaksi efek samping ini lebih banyak dirasakan oleh wanita dan memang peningkatan antibody terlihat lebih tinggi pada wanita dibandingkan pria.

Saya sendiri termasuk yang mengalami efek samping minimal, tanpa demam maupun reaksi sistemik lainnya. Meski titer antibody saya agak lebih rendah dari rata-rata peak titer IgG keseluruhan tapi masih jauh naik di atas ambang batas, melebihi perkiraan saya sendiri. [Fig1]

Mungkin kemudian ada yang merasa hopeless. Sudah vaksinasipun bakal turun juga antibody nya.

à Ya bikin kecewa sih, tapi tidak mengherankan. Sejak dulu vaksinasi anak-anak juga hampir semua perlu diulang untuk menginduksi imunitas yang lebih baik. MMR, DPT, pneumonia, hepatitis, dsb. Jadi ini fenomena yang cukup biasa dalam dunia imunologi.  Tidak gampang memang induksi “lifelong immunity” dengan vaksinasi yang bahkan targetnya ini virus yang rutin bermutasi.

Sampai saat ini berapa lama imunitas akan bertahan, sampai berapa jauh akan turun, belum ada final jawaban yang pasti. Vaksinasi paling cepat baru dimulai akhir tahun 2020 lalu, jadi baru akan menjelang setahun pada akhir tahun ini. Sabar ya pemirsa, saya juga belum bisa jawab kalau ada pertanyaan apakah setahun kemudian vaksinnya harus diulang? Let’s wait and see.

Kami juga sedang melihat apakah vaksinasi bisa menginduksi T-cell immune response jangka panjang, dan saat ini sedang menunggu publikasi resmi. Data masih bergerak, saat ini semua sedang memantau dan mempertimbangkan kemungkinan vaksinasi ulangan.

Jadi apakah vaksin berguna?

à Nah kalau ini, jawabannya tentu dong. Vaksinasi adalah salah satu cara yang sudah terbukti bisa membantu eradikasi penyakit menular. Contohnya, penyakit smallpox (variola). Smallpox resmi dinyatakan berhasil dieradikasi di dunia pada tahun 1980 oleh WHO. [Ref 3]

Sekarang kita berharap vaksinasi COVID-19 juga bisa memberikan hasil yang sama, meski tantangannya jauh lebih besar. Kita juga sudah tahu gelombang ke-5 kali ini di Jepang, kasus infeksi maupun gejala berat lebih didominasi dari golongan muda dibandingkan dengan golongan lansia [Fig2]. Seperti juga banyak laporan dari luar Jepang, ini bisa dikatakan sebagai hasil baik dari vaksinasi. Di Tokyo usia 65 tahun keatas dengan dua kali vaksinasi sudah mencapai 80% - 13 Agustus 2021. [Ref4, 5] 


Lalu apakah setelah vaksinasi komplit pasti aman tidak terkena infeksi?

à Semua juga sudah tahu ya, jawabannya tidak. Ada istilah yang sekarang mulai ramai terdengar yaitu “breakthrough infection”. Ini adalah kejadian infeksi yang terjadi pada seseorang yang sudah mendapatkan vaksinasi komplit. Kasus seperti ini sebenarnya bukan hal baru, influenza contohnya, pasti biasa sering dengar ada yang kena influenza meski sudah menerima vaksin.

Penyebab breakthrough infection setelah vaksinasi COVID-19 masih banyak harus dipelajari. Setidaknya ada dua hal yang diduga berperan menjadi penyebab yakni:

- varian Delta yang saat ini sedang meluas penyebarannya. Sudah ada laporan studi yang menyatakan efek neutralisasi antibody terhadap strain delta menurun [Ref6]

- imunitas yang tidak bertahan lama sesudah vaksinasi. Ini seperti yang saya bahas di atas ya. Studi dari Israel, negara yang paling cepat menyelesaikan vaksinasi untuk penduduknya, menunjukkan kalau orang yang menerima suntikan kedua dari Pfizer lebih dari lima bulan cenderung beresiko tes positif dibandingkan mereka yang baru menyelesaikan vaksinasi. [Ref7] Di Jepang, setelah sebelumnya angka kasus baru di kalangan nakes turun, sekarang sudah ada laporan kembali nakes yang mengalami breakthrough infection. Begitupula di tempat saya, teman di satu bagian juga sudah ada yang kena.

---
Pasti semua sudah bosan ya, entah kapan selesai pandemik ini. Virus SARS-CoV-2 ini sepertinya memang tidak akan hilang dan akan hidup bareng bersama kita, tapi semoga dalam posisi yang bisa dikendalikan seperti halnya virus lainnya. Salah satu cara mengendalikan dengan mencegah penularan meluas: menahan mobilisasi, mematuhi protokol kesehatan sebaik mungkin, dan vaksinasi.

Saat ini kita semua sudah menemukan berbagai variasi cara adaptasi untuk bertahan di tengah pandemik. Bisa tetap “berkumpul” meski jauh, sudah tidak aneh lagi meeting dari rumah, jam kerja yang lebih fleksibel, kebiasaan menjaga sanitasi yang lebih baik, dsb

I believe we will have a much better world after we get through this pandemic nightmare.

頑張りましょう。

“Stay Safe, Get Informed, and Be Wise”

Tokyo, 15 Agustus 2021

Dr. Kathryn Effendi

 

References:

1. https://www.cov19-vaccine.mhlw.go.jp/qa/0088.html

2. https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(21)01642-1/fulltext

3. https://www.who.int/health-topics/smallpox#tab=tab_1

4. https://www3.nhk.or.jp/news/special/coronavirus/vaccine/pref/tokyo/

5. https://news.yahoo.co.jp/byline/kutsunasatoshi/20210731-00250705

6. https://www.nature.com/articles/s41586-021-03777-9

7. https://www.medrxiv.org/content/10.1101/2021.08.03.21261496v1

Wednesday, July 21, 2021

IVERMECTIN

Last update [15 Aug 2021]

1. Sampai saat ini Ivermectin di Jepang masih dalam tahap uji klinis yang dipimpin oleh Kitasato University

https://www.kitasato.ac.jp/jp/news/20210806-04.html

Ivermectin terdaftar dalam uji klinis resmi di Jepang: 

https://jrct.niph.go.jp/en-latest-detail/jRCT2031200120

2. Pernyataan resmi dari produsen Ivermectin (Stromectol), MSD

https://www.msd.co.jp/static/pdf/announce_20210402.pdf

-------------------------------------------------------------------------------------------------

 IVERMECTIN

~ The Story Behind It ~

 

Banyak sekali pertanyaan tentang Ivermectin yang datang ke saya. Memang penggunaan Ivermectin sedang jadi topik yang sedang ramai di mana-mana.

Mari sedikit lebih mengenal cerita Ivermectin agar ada gambaran yang lebih baik kenapa sih obat ini ramai diperdebatkan.

 ----

Cikal bakal Ivermectin, disebut Avermectin, ditemukan oleh Professor Satoshi Omura dari Kitasato University, Jepang. Prof Omura berhasil mengisolasi bakteri dari tanah (unusual Streptomyces bacteria), dan kemudian bersama dengan rekannya Prof. William Campbell menemukan kalau si bakteri ini bisa menyembuhkan tikus yang terinfeksi round-worm/cacing gelang. Senyawa kimia dari kultur bakteri tersebut berhasil dikembangkan untuk digunakan di manusia, dan akhirnya Ivermectin (derivat dari Avermectin) menjelma menjadi antiparasit yang handal di seluruh dunia. Penemuan ini menghantarkan kedua ilmuwan tersebut menerima Nobel Prize in Medicine tahun 2015. [Ref 1]

Saat COVID-19 merebak tahun 2020, Ivermectin kembali mendapat sorotan. Kenapa? Karena ada hasil penelitian dari Australia, secara in-vitro (di laboratorium), yang menunjukkan Ivermectin bisa menghambat replikasi virus SARS-CoV-2, penyebab COVID-19. [Ref 2]

Ini kemudian disusul dengan publikasi case-control study dimana Ivermectin diberikan secara klinis ke pasien, dan menunjukkan kalau angka kematian dari grup yang menerima Ivermectin sangat rendah, dibandingkan yang tidak menerima Ivermectin (1.4% vs 8.5%). Ini tentu penemuan yang sangat menarik! Sayangnya, pada publikasi ini ditemukan beberapa kejanggalan seperti misalnya, publikasi indikasi awal adanya efek antivirus Ivermectin baru dinaikkan online 3 April 2020, tetapi pasien dalam jurnal ini sudah menerima Ivermectin sejak akhir Maret 2020 dengan jumlah pasien yang sangat besar, 704 pasien.
Ternyata setelah diselidiki, data dari publikasi ini terkait dengan skandal database Surgisphere, sebuah perusahaan yang memegang database pasien dari RS di banyak negara tetapi tanpa ada pengawasan ethics committee dan setelah dikonfirmasi ke RS yang bersangkutan, ternyata data yang ada tidak akurat. Akibat kasus ini, publikasi tentang Ivermectin tersebut ditarik dan jadi pemberitaan dimana-mana saat itu. [Ref 3, 4].

** Tidak hanya publikasi Ivermectin, ada publikasi lain terkait Hydroxychloroquine/choloroquine tahun 2020 yang juga terkait skandal Surgisphere, dan berakhir dengan ditariknya publikasi tersebut [Ref 5].
Setelah berbagai simpang siur berita tentang efektivitas hydroxycholoroquine, kita sendiri juga tahu, BPOM Indonesia akhirnya mencabut izin penggunaan darurat hydroxychloroquine untuk COVID-19. [Ref 6]

 

Bagaimana status Ivermectin di Jepang?

Di Jepang sendiri, sebenarnya sejak tahun 2020 lalu, Ivermectin sudah mendapat perhatian. Terlepas dari kejadian skandal di atas, efek antivirus Ivermectin memang memberikan harapan baru. Menurut laporan yang dikeluarkan dari Kitasato University, yang saat ini memimpin uji klinis domestik Ivermectin di Jepang, beberapa kendala seperti kurangnya pendanaan dan sumber daya manusia menjadi salah satu penyebab lambatnya uji klinis yang berlangsung [Ref 7]. Dalam diskusi di parlemen Februari 2021, PM Suga sempat mengatakan akan mendukung percepatan penelitian penggunaan Ivermectin untuk COVID-19. [Ref 8]. Kitasato University juga diberitakan sudah menggandeng perusahaan farmasi Kowa, untuk segera memulai uji klinis lebih besar di Tokyo, Osaka, Nagoya, dsb; dan mentargetkan untuk selesai akhir tahun ini. [Press release – 1 Juli 2021; Ref 9]

** Sampai saat ini (Juli 2021) Ivermectin belum termasuk sebagai obat resmi yang digunakan untuk pengobatan COVID-19 di Jepang.

Banyak pro kontra terkait Ivermectin menggema di berbagai kalangan medis baik di Jepang, maupun negara lainnya. Tidak lain karena data publikasi yang ada juga masih simpang siur, dan model penelitian yang dipakai juga berbeda beda.

Sejumlah laporan menunjukkan hasil yang menjanjikan dari penggunaan Ivermectin. Pengobatan dengan Ivermectin dikaitkan dengan turunnya angka kematian terutama pada pasien dengan gejala berat. [Ref 10] Begitupula berdasarkan meta-analysis data dari publikasi jurnal, dikatakan resiko kematian menurun pada grup dengan Ivermectin dibandingkan tanpa Ivermectin. [Ref 11, 12].

Di sisi lain, masih ada perdebatan terutama mengenai dosis pengobatan yang aman dipakai secara klinis. Untuk mencapai efek antivirus Ivermectin seperti yang didapat secara laboratorium, butuh dosis pemberian klinis yang jauh lebih besar dari dosis umum yang bisa ditoleransi pasien sehingga dikhawatirkan akan timbul efek samping yang tidak diharapkan.     
“Available evidence suggests that levels of ivermectin with meaningful activity against SARS-CoV-2 would not be achieved without extraordinary, potentially toxic increases in ivermectin dosing levels in humans   [Ref 13, 14]. 

Hasil meta-analysis data terbaru mengatakan Ivermectin tidak mengurangi resiko kematian maupun meningkatkan viral clearance. [Ref 15]
Saat ini sepertinya hasil outcome dari penggunaan Ivermectin masih tidak menentu. “The effects of Ivermectin were rated as very low certainty for all critical outcomes, including mortality”. [Ref 16]

 

Bagaimana Ivermectin di Indonesia?

Indonesia sedang dilanda kenaikan kasus yang sangat tinggi, saya pribadi menyadari betul kalau saat ini syarat ideal penggunaan obat di luar indikasi utamanya lebih sulit. Kondisi mendesak dan dokter sudah kewalahan menangani pasien. Saya sempat mengikuti virtual talkshow pro-kontra Ivermectin di acara bincang-bincang seputar COVID-19 (15 Juli 2021) dari Indonesia healthcare forum, mendengar berbagai opini dan belajar dari narasumber yang ada tentang kondisi di Indonesia.

Berdasarkan keterangan narasumber dalam acara tersebut, Ivermectin sudah mendapat Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinis (PPUK) dari BPOM, tetapi belum ada izin penggunaan darurat. Saat ini sudah ada 8 RS yang terlibat dalam uji klinis Ivermectin. [Ref 17,18]

1. Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Jakarta;

2. RSUP Prof. Dr. Sulianti Saroso, Jakarta;

3. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Soedarso, Pontianak;

4. RSUP H. Adam Malik, Medan;

5. Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta;

6. Rumah Sakit Angkatan Udara (RSAU) Dr. Esnawan Antariksa, Jakarta;

7. RS dr. Suyoto, Pusat Rehabilitasi Kementerian Pertahanan RI, Jakarta; dan

8. Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet, Jakarta

---

Sementara menunggu perkembangan hasil resmi uji klinis Ivermectin, saya hanya ingin mengingatkan, hati-hati menggunakan obat secara emosional. Ini termasuk reminder untuk saya sendiri yang juga sudah capek pandemik dan khawatir sekali dengan keluarga di Indonesia. Ada cerita yang membaik, tapi jangan lupa sudah ada juga cerita yang mengalami efek samping. Penggunaan Ivermectin, sebaiknya dalam koridor pengawasan dan persetujuan dokter.

Semoga dalam waktu dekat kita juga bisa mendapatkan data hasil uji klinis yang lebih jelas terkait penggunaan Ivermectin, baik di Jepang maupun di Indonesia.


“Don’t Panic – Stay Alert – Get Informed, and Be Wise


Tokyo, 21 Juli 2021

Dr. Kathryn Effendi

 

References

1. https://www.nobelprize.org/prizes/medicine/2015/omura/facts/

2. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0166354220302011

3. https://www.isglobal.org/documents/10179/6022921/Patel+et+al.+2020+version+2.pdf/adf390e0-7099-4c70-91d0-e0f7a0b69e14

4. https://news.yahoo.co.jp/byline/kutsunasatoshi/20200606-00182086/

5. https://www.sciencemag.org/news/2021/01/many-scientists-citing-two-scandalous-covid-19-papers-ignore-their-retractions

6. https://www.pom.go.id/new/view/more/klarifikasi/121/PENJELASAN-BADAN-POM-RI-TENTANG-Pencabutan-Emergency-Use-Authorization-Hidroksiklorokuin-dan-Klorokuin-untuk-Pengobatan-COVID-19.html

7. http://jja-contents.wdc-jp.com/pdf/JJA74/74-1-open/74-1_44-95.pdf

8. https://www.yomiuri.co.jp/choken/kijironko/cknews/20210427-OYT8T50019/

9. https://www.kowa.co.jp/news/2021/press210701.pdf

10. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0012369220348984?via%3Dihub

11. https://covid19criticalcare.com/wp-content/uploads/2020/11/FLCCC-Ivermectin-in-the-prophylaxis-and-treatment-of-COVID-19.pdf

12. https://covid19criticalcare.com/wp-content/uploads/2021/06/Ivermectin_for_Prevention_and_Treatment_of.98040.pdf

13. https://www.ajtmh.org/view/journals/tpmd/102/6/article-p1156.xml

14. https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/13102818.2020.1775118

15. https://academic.oup.com/cid/advance-article/doi/10.1093/cid/ciab591/6310839

16. https://www.bmj.com/content/370/bmj.m2980

17. https://www.pom.go.id/new/view/more/pers/616/Penggunaan-dan-Pengawasan-Peredaran-Ivermectin.html

18. https://nasional.kompas.com/read/2021/07/15/16315641/belum-ada-izin-penggunaan-darurat-untuk-ivermectin-bpom-uji-klinik-baru

Monday, July 19, 2021

Moderna Arm

 

Tambahan Info terkait Vaksinasi (Update: 17 July 2021)

MODERNA ARM

Seiring banyaknya orang yang sudah menerima vaksin menggunakan Moderna di Jepang, mulai banyak laporan efek samping pasca vaksin yang dikenal dengan istilah “Moderna Arm”

Apa sih Moderna arm itu?

Moderna arm ini istilah yang diberikan terhadap adanya reaksi (lambat) lokal di kulit – delayed skin rash - pasca suntikan vaksin Moderna. Laporan yang ada lebih banyak terjadi di Moderna dibandingkan Pfizer sehingga namanya juga menjadi Moderna Arm.

Reaksi yang timbul biasanya berupa: bengkak, kemerahan, gatal. Keluhan yang diceritakan ke saya, “seperti habis digigit serangga”. Dari laporan, gambaran lesi yang terjadi di bawah kulit cocok dengan gambaran “delayed-type hypersensitivity reactions” [Ref 1,2]

Timbulnya Moderna arm ini lambat-onset kejadian lambat. Bukan reaksi yang langsung keluar setelah suntikan. Dari laporan yang ada gejala keluar antara 4~12 hari (umumnya 7 atau 8 hari) setelah vaksinasi. Umumnya terjadi setelah suntikan pertama. [Ref 1,2]  Banyak dilaporkan terjadi pada wanita usia sekitar 40 tahunan. [Ref 2,3].  

Dari laporan, biasanya reaksi akan berkurang sendiri sekitar 4-6 hari setelahnya. Tapi jika terus bertahan hingga lebih dari seminggu, dianjurkan konsul ke dokter. Saat ini tindakan yang dianjurkan: kompres dingin di tempat yang terkena, topical steroid, oral antihistamines.

Sejauh ini, bagi mereka yang mengalami Moderna arm, dianjurkan untuk tetap mengambil vaksin yang kedua. Dari laporan yang ada, di vaksin kedua banyak yang tidak mengalami lagi Moderna arm, dan yang mengalami kembali juga lebih ringan dan cepat sembuh dibandingkan saat suntikan pertama [Ref 1, 2, 4]  

** Saya sertakan foto lengan yang terkena Moderna Arm (consent obtained).

Case1: Wanita. Rash merah keluar seminggu setelah suntikan pertama. Tidak ada riwayat alergi atau penyakit lain. 

Case2: Wanita. Keluhan keluar seminggu setelah suntikan pertama. Ada riwayat alergi debu, pollen. Rash menghilang sendiri 4-5 hari kemudian. 

Case3: Wanita. Rasa gatal keluar 3-4 hari pasca suntikan pertama, diikuti rash merah dan panas. Tidak ada riwayat alergi. 




---

“Stay Safe, Get Informed, and Be Wise”

Tokyo, 17 Juli 2021

Dr. Kathryn Effendi

#kesehatanwibj

#wibjcovid19

References

1. https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMc2102131

2. https://jamanetwork.com/journals/jamadermatology/fullarticle/2779643

3. https://www3.nhk.or.jp/nhkworld/en/news/20210711_03/

4. https://news.yahoo.co.jp/byline/kuraharayu/20210715-00248044/


Friday, July 9, 2021

Recent Updates on Covid-19 Vaccination in Japan (July 09, 2021)

 *Update* Perkembangan Vaksinasi COVID-19 di Jepang (July 09, 2021)

Baik di Jepang maupun di Indonesia, kita tahu kembali terjadi peningkatan kasus penularan Covid-19. Berikut beberapa informasi tentang perkembangan vaksinasi di Jepang dan pesan untuk lebih esktra hati hati menyikapi naiknya penyebaran varian virus dengan mutasi.

1. Vaksinasi Covid-19 di Jepang

Vaksinasi yang beredar di Jepang saat ini, dari Pfizer Inc. (Comirnaty) dan Moderna Inc. (Takeda). Keduanya berbasis teknologi mRNA, sehingga indikasi maupun kontraindikasi yang ada juga mirip. Begitupula dengan efek samping yang ada (nyeri otot di tempat suntikan, pegal linu, rasa lelah, capek, demam, dsb). Meski ada data publikasi kalau efek samping dari Moderna sedikit lebih tinggi dari Pfizer, tapi tidak ada perbedaan yang signifikan diantara keduanya. [Ref1,2] Semua efek samping ini biasanya membaik dengan sendirinya dalam satu atau dua hari pasca vaksinasi ~ 接種後2日くらいまでにはほとんどの人で消失します。

Sedangkan untuk efek samping yang berat (anafilaksis) berdasarkan update terbaru data laporan dari MHLW [Ref3]:

Pfizer (data 17 Feb 2021 –27 Juni 2021):

Rate angka kejadian anafilaksis: 7 kasus per 1 juta suntikan (100万回接種あたり7件). Angka kejadian anafilaksis di Pfizer bertahap turun (72 à 37 à 13 à 7 ) sejak digunakan pertama kali di Jepang, Februari 2021.  Ini perkembangan yang baik sekali.

Moderna (data 22 Mei 2021 – 27 Juni 2021):

Rate angka kejadian anafilaksis: 1 kasus per 1 juta suntikan (100万回接種あたり1.0).

Oh ya, menilai suatu jenis vaksin baik atau buruk juga tidak hanya berdasarkan satu jenis item penilaian. Tidak hanya efikasi, efek samping, dan kontra indikasi yang ada bisa mempengaruhi keputusan vaksin yang diambil. Efikasi terhadap strain mutasi juga berubah seiring perkembangan data yang ada. Jadi tidak perlu bingung apakah Pfizer lebih bagus dari Moderna, atau sebaliknya. Selama tidak ada kontra indikasi di penerima vaksin, vaksin yang ada di Jepang saat ini sudah baik.

*Jumlah persentase penduduk yang sudah menerima dua kali dosis (fully vaccinated) di Jepang per data 6 Juli 2021, mencapai 15.13%. Pencapaian Jepang saat ini sudah melewati persentase di Asia (8.64%), maupun keseluruhan di dunia (11.60%), tetapi masih jauh lebih rendah dibandingkan di United States atau Europe. 

 Ada efek gak sih dari pelaksanaan vaksinasi? [Ref 4,5]

Seiring dengan jalannya proses vaksinasi untuk tenaga kesehatan di Jepang, laporan kasus penyebaran cluster di RS, maupun tenaga medis yang terinfeksi berkurang.

Bulan Februari saat program vaksinasi belum dimulai, proporsi institusi medis terdampak dari keseluruhan cluster mencapai 29%, tetapi setelah itu cenderung menurun dan tercatat hanya sekitar 3% di bulan Juni 2021. Begitupula tenaga kesehatan yang terinfeksi, sebelumnya  mencapai 1.3% dari seluruh kasus COVID-19 di bulan Januari, tetapi di bulan April hanya tercatat 0.43%, dan di bulan Mei hanya 0.21% tenaga medis yang terinfeksi dari total keseluruhan kasus.

* Norio Ohmagari, director of the Disease Control and Prevention Center at the National Center for Global Health and Medicine, said that the decline in health care personnel infections “is partly because medical workers are making their own efforts not to get infected, but is also due to COVID-19 vaccines, which have proven effective.”

2. Terkait dengan penyebaran varian mutasi SARS-CoV-2.

Meski ada kabar baik dari hasil vaksinasi, kita tetap belum bisa lengah mengingat naiknya penyebaran virus dengan varian mutasi. Cakupan vaksinasi masih belum luas dan kita masih harus berhadapan dengan data adanya penurunan efektivitas vaksin terhadap varian mutasi, terutama varian Delta. [Ref 6]

Strain mutasi SARS-CoV-2 yang menyebar saat ini lebih infeksius dibandingkan strain konvensional. Tidak hanya berada di lokasi dengan 3C (Three Cs=closed spaces, crowded places, and close-contact settings), bahkan hanya dengan berada di lokasi 1C sudah ada resiko kemungkinan terjadi penularan.

Usakahan selalu: jaga jarak dengan orang lain, cuci tangan dengan baik dan benar, pakai masker dengan baik dan benar – usahakan tidak ada celah. Sedapat mungkin kurangi aktivitas dan mobilisasi yang tidak penting atau darurat. Mari sebisa mungkin kita bantu menekan resiko penularan dimulai dari lingkungan terdekat kita sendiri.

 Ada video pendek tentang ini:

Video link: https://nettv.gov-online.go.jp/prg/prg22789.html

[新型コロナウイルスの変異株は従来株より感染力が強く、全国で感染が広がっています。3密がそろう場面だけでなく1つの密でも感染リスクはあります。人との距離を保つ、手洗いを徹底する、マスクをすき間なく着けるなど、より念入りな感染防止策をお願いします。]

* Kutsuna Satoshi: 感染症専門医。国立国際医療研究センターを経て20217月より大阪大学医学部 感染制御学講座 所属。専門は新興再興感染症、新型コロナウイルス感染症など。



PS: Saya selalu berusaha memberikan referensi yang jelas di setiap tulisan saya. Saya harap ini bisa jadi pelajaran untuk kita juga, supaya tidak mudah percaya begitu saja pada setiap tulisan yang beredar di media sosial terutama jika hanya dalam bentuk opini, klaim, testimony, tanpa disertai sumber yang akurat dan kredibel.🙏


---

“Stay Safe, Get Informed, and Be Wise”

Tokyo, 9 Juli 2021

Dr. Kathryn Effendi

References

1. https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/2778441

2. https://news.yahoo.co.jp/byline/kutsunasatoshi/20210613-00242740/

3. https://www.mhlw.go.jp/stf/seisakunitsuite/bunya/vaccine_hukuhannou-utagai-houkoku.html

4. https://www.asahi.com/articles/ASP6S628BP6SULBJ00D.html

5. https://the-japan-news.com/news/article/0007489291

6. https://www.bloomberg.com/news/articles/2021-07-05/israel-sees-decline-in-pfizer-vaccine-efficacy-rate-ynet-says


Thursday, June 10, 2021

Recent Updates on COVID-19 Vaccination in Japan (June 10, 2021)

 Sekilas Perkembangan Vaksinasi di Jepang – 10 Juni 2021

Seperti yang telah kita ketahui, Jepang telah mengeluarkan approval untuk pemakaian vaksinasi dari Moderna, Inc. dan AstraZeneca (20 Mei 2021). Untuk program vaksinasi masal maupun yang sudah bertahap diberikan dari pemerintah, vaksin yang digunakan saat ini hanya dari Pfizer dan Moderna. Beberapa wilayah di Tokyo seperti Nakano-ku, Sumida-ku, Toshima-ku, Adachi-ku juga sudah mengeluarkan pengumuman rencana vaksin untuk target penduduk usia di bawah 65 tahun. Begitupula beberapa perusahaan dan universitas juga sudah mulai menggelar rencana vaksinasi untuk karyawan atau mahasiswa. Keio University yang memang mempunyai fakultas kedokteran dan RS sendiri juga sudah mengeluarkan rencana untuk vaksinasi mahasiswa, dosen, karyawan mulai 21 Juni 2021 di Mita campus. [Ref1]

Gerakan vaksinasi yang akhirnya mulai ngebut ini berhasil membuat jumlah persentase penduduk yang menerima dosis pertama vaksin di Jepang naik pesat. Jepang mulai mengejar ketertinggalannya dari banyak negara, termasuk Indonesia. Sampai 8 Juni 2021, rate orang yang sudah menerima dosis pertama di Jepang mencapai 11.4 % dan di Indonesia 6.68%. Untuk data penduduk yang sudah komplit menerima dua kali vaksin, Jepang masih lebih rendah dibandingkan Indonesia, tapi perbedaanya semakin menipis saat ini. Ini tentu tidak terlepas dari banyak faktor, misalnya, vaksin yang digunakan (Pfizer dan Moderna di Jepang butuh persiapan awal lebih panjang karena butuh kulkas khusus), olimpiade yang akan segera digelar, perbedaan geografis, maupun jumlah dan karakter penduduknya ya. Saya berharap baik Jepang maupun Indonesia bisa terus melaju meningkatkan jumlah cakupan vaksinasi untuk penduduknya.

















Bagaimana dengan angka kejadian anafilaksis dan angka kematian pasca vaksinasi di Jepang?

Pfizer (dari data sejak digunakan 17 Feb 2021 – 30 Mei 2021):

Rate anafilaksis: 13 kasus per 1 juta dosis vaksin.

Rate kematian: 10.6 kasus per 1 juta dosis vaksin.

Sebagai perbandingan, di Inggris (8 Des 2020 – 26 Mei 2021), angka anafilaksis tercatat 13.5 kasus dan angka kematian tercatat 16.1 kasus per 1 juta dosis vaksin.

Moderna (dari data sejak digunakan 22 Mei 2021 – 30 Mei 2021):

Tidak ada atau nol kasus anafilaksis maupun kematian terkait vaksinasi. [Ref2]

--

Demikian kira kira perkembangan vaksinasi di Jepang saat ini. Semoga bisa memberi tambahan informasi yang berguna untuk semuanya.

PS: Sampai saat ini vaksin AstraZeneca di Jepang belum dipakai untuk vaksinasi umum.  Menurut rencana penggunaannya akan diatur dan dibatasi agar mempermudah pemantauan risiko kejadian ikutan pasca vaksinasi (rare side effect) yakni “vaccine-induced immune thrombotic thrombocytopenia (VITT)”

Vaksin AstraZeneca saat ini dikaitkan dengan “thrombosis with thrombocytopenia syndrome (TTS)” – suatu kondisi medis dimana terjadi bekuan darah yang diikuti dengan rendahnya trombosit. Dari data laporan yang keluar, angka kejadian VITT diperkirakan 1 per 100,000 inokulasi vaksin; kebanyakan pasiennya wanita usia di bawah 50 tahun (some of whom were receiving estrogen-replacement therapy or oral contraceptives). Gejala bisa keluar antara 5 hingga 24 hari pasca vaksinasi dosis pertama. [Ref3,4]

Dibandingkan dengan beberapa bulan lalu saat vaksin ini baru mulai luas digunakan, banyak yang masih belum tahu bagaimana harus mengatasi masalah tersebut. Tapi sekarang, data lebih banyak keluar dan pihak medis juga lebih siap antisipasi. Saran saya untuk yang menerima vaksin AstraZeneca, tidak perlu khawatir berlebihan tapi alangkah baiknya belajar (dari sumber yang tepat tentunya) supaya bisa mengenali dengan segera tanda-tanda terjadinya thrombosis. Pegang kontak dokter atau RS yang bisa segera dihubungi sehingga bisa segera mendapatkan penanganan dengan baik jika seandainya sampai terjadi efek samping tersebut.

 

“Stay Safe, Get Informed, and Be Wise”

Tokyo, 10 Juni 2021

Dr. Kathryn Effendi


References

1. https://www3.nhk.or.jp/nhkworld/en/news/20210607_29/

2. https://www.mhlw.go.jp/stf/seisakunitsuite/bunya/vaccine_hukuhannou-utagai-houkoku.html

3. https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMe2106315

4. https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/2779731

Tuesday, May 18, 2021

Updates on COVID-19 Vaccination in Japan (May 18, 2021)

 *Updates* -  Vaksinasi COVID-19 di Jepang 

*20 Mei 2021* 
Health ministry panel tgl 20 Mei 2021 mengeluarkan rekomendasi persetujuan untuk penggunaan vaksin dari Moderna dan AstraZeneca. Rencananya ini akan segera diikuti approval resmi dari pemerintah. 

https://english.kyodonews.net/news/2021/05/b8d1b0beb524-japan-health-ministry-panel-set-to-approve-moderna-astrazeneca-vaccines.html

-------

Pelaksanaan vaksin di Jepang masih terasa lambat karena memang jumlah dan distribusi masih banyak terkendala. Saat ini masih hanya vaksin dari Pfizer-BioNTech COVID-19 yang digunakan. Menurut beberapa sumber berita, bulan Mei ini jika tidak ada halangan akan dibahas keputusan persetujuan untuk dua jenis vaksin COVID-19 dari Moderna, Inc. dan AstraZeneca. 

* Moderna juga menggunakan mRNA teknologi, jadi tata cara maupun kontra indikasi yang ada mirip dengan Pfizer. Termasuk juga menggunakan komponen polyethylene glycol (PEG) yang diduga sebagai faktor pencetus alergi pada vaksin mRNA.

* AstraZeneca (ChAdOx1 nCoV-19AZD1222) menggunakan teknologi vector adenovirus yang sudah dimodifikasi untuk membawa materi genetik dari spike (S) protein SARS-CoV-2. Mungkin sudah banyak yang dengar efek samping AstraZeneca. Memang sedang jadi perhatian khusus saat ini. Di beberapa negara seperti Spanyol, Italia, Belgia, dsb menyarankan batasan umur yang diperbolehkan untuk menerima vaksin AstraZeneca ini. Dari beberapa journal terpisah, ada 39 kasus blood clotting disorders yang terjadi dalam 5-24 hari pasca suntikan pertama. Kebanyakan wanita di bawah usia 50 thn, dan diantaranya beberapa menggunakan estrogen replacement therapy atau kontrasepsi oral. [Ref1]

Adanya masalah-masalah seperti ini yang memang membuat Jepang semakin lambat mengeluarkan kebijakan persetujuan penggunaan vaksin. Selalu ada sisi baik dan sisi buruk. Mari lihat yang baik saja (biar tidak senewen 😊); setidaknya kita bisa punya pengetahuan terhadap kemungkinan efek samping yang fatal dari data-data yang sudah keluar terlebih dahulu.

Oh ya, meski angka kejadian anafilaksis di Jepang cukup tinggi, tetapi angka kematian setelah menerima vaksin di Jepang lebih rendah dibandingkan dengan UK atau US. Sampai 7 Mei 2021, di laporan MHLW tercatat total 39 kasus kematian yang dilaporkan setelah menerima vaksin.

Rate kematian di Jepang (~2Mei 2021) hanya 7.3 kasus/1 juta dosis suntikan. Dibandingkan dengan UK (~April 2021) mencapai 18.7 kasus, atau US (~Februari 2021) 18 kasus per 1 juta dosis suntikan [Ref2]. Kita juga bisa berharap persiapan untuk penanganan kasus darurat pasca vaksin di Jepang mendapat perhatian yang cukup baik.

Dan ini saya share juga ya berita baik terkait hasil pelaksanaan vaksin yang saya ikuti.

Saya ikut clinical trials untuk mengukur titer antibody yang diinduksi oleh vaksin. Sebelum saya menerima vaksin pertama di bulan Maret lalu, saya diambil darahnya untuk diukur titer immunoglobulin IgG terhadap COVID-19. Hasilnya nilai saya di bawah batas cut-off value yang ditetapkan, atau dengan kata lain saat itu saya dianggap belum punya kekebalan terhadap COVID-19. Sekitar 3 minggu pasca suntikan dosis kedua, saya kembali diukur. Hasilnya, titer IgG saya naik melebihi batas yang ditetapkan [Ref pribadi, lihat gambar], bahkan jauh melebihi perkiraan saya yang sebelumnya sudah cemas karena hampir tidak ada reaksi apapun setelah menerima vaksin. Titer antibody saya menjadi lebih tinggi sekitar 230 kali dari batas cut-off value (yattaaaaa! ✌)  



Tidak hanya saya sendiri, semua partisipan 650 orang yang tergabung dalam clinical trials naik kadar antibodynya. (ひとまず全員にワクチンの反応が見られて、良かったです。💗)

Selain itu, release data dari Yokohama City University 12 Mei 2021, juga menunjukkan kalau orang yang telah menerima lengkap dua dosis vaksinasi juga bisa membangun kekebalan terhadap strain varian mutasi virus, baik dari Inggris, Afrika, Brazil, maupun India. Persentase orang yang mempunyai imunitas terhadap strain konvensional mencapai 99%, Inggris 94%, Afrika 90%, Brazil 94% dan India, 97% [Ref3].

Riset masih berlanjut. Meski saat ini sedang peak tinggi, sampai kapan titer antibody ini bisa bertahan belum bisa dipastikan. Jadi ya tidak bisa euphoria dulu deh. Tetap harus menjalankan protokol kesehatan ya!
H
asil data saat ini tentu memberikan harapan baik. Banyak data riset vaksin berasal dari luar negeri, Amerika, Eropa, dsb., tapi kali ini kita punya data dari dalam Jepang sendiri.  

Saya sangat berharap semakin cepat vaksin bisa turun ke masyarakat umum apalagi sekarang sudah ditunjang dengan hasil data riset yang memberikan harapan. Semoga secepatnya berbagai kendala dari distribusi sampai teknis reservasi vaksin bisa diatasi.

Sementara itu, mari tetap berhati hati selalu dan tidak kehilangan semangat 💝

 

“Stay Safe, Get Informed, and Be Wise”

Tokyo, 18 Mei 2021

Dr. Kathryn Effendi

References

[1] NEJM reports (summary by Kutsuna Satoshi 先生: https://news.yahoo.co.jp/byline/kutsunasatoshi/20210418-00233281/)

[2] https://www.mhlw.go.jp/content/10906000/000778306.pdf

[3] https://www3.nhk.or.jp/news/special/coronavirus/vaccine/japan_2021/#mokuji26