Wednesday, September 27, 2017

Seasonal Influenza

Seasonal Influenza 

Memasuki musim gugur dan musim dingin, sudah waktunya kita kembali bersiap siap menghadapi penyakit yang kasusnya meningkat saat udara dingin yakni influenza. Virus influenza mampu bertahan lebih baik di iklim/suhu dingin dan biasanya kasusnya melonjak memasuki  bulan Januari-Maret.

 “Kenapa sih influenza ini bikin heboh? Padahal biasa aja sering kena flu” ; saya yakin banyak yang berpikir begini. Ada satu yang perlu diingat, influenza BUKAN batuk pilek biasa (alias “common cold” atau “kaze”) yang bisa terjadi sepanjang tahun. Influenza disebabkan oleh influenza virus (tipe A,B, yang sering menyebabkan wabah) , sementara “common cold” disebabkan oleh lebih dari 200 tipe virus (terbanyak: rhinovirus).

“Terus kenapa influenza mesti diwaspadai?” Jawabnya simple: “influenza can kill you”.  Tahun 1918 ada pandemik “Spanish flu” , saat itu virus influenza sanggup membunuh 25 juta orang hanya dalam waktu 25 minggu sejak terjadinya wabah (bandingkan dengan virus HIV/AIDS yang juga bisa membunuh 25 juta orang, tapi dalam 25 tahun). Begitu cepatnya virus influenza menyebar dan membunuh sekian banyak orang sehingga pandemik saat itu digambarkan sebagai “the greatest medical holocaust in history”.  Tahun 2009, terjadi outbreak “Mexico flu” sehingga sekolah2 dan tempat2 umum harus ditutup. WHO mengeluarkan larangan untuk tidak berpergian ke Mexico dan Jepang mengeluarkan kebijakan untuk memantau semua pendatang dari negara2 yang dilaporkan ditemukan kasus “Mexico flu”.  Untung pada pandemik kali ini, vaksin influenza dapat segera dibuat sehingga tidak memakan korban lebih banyak seperti pada kasus “Spanish flu” 1918.

“Jadi bagaimana menghadapi influenza?” Selain gaya hidup sehat (cuci tangan, kumur, tutup mulu/hidung ketika bersin/batuk, dsb); cara termudah dan efektif yang bisa dilakukan saat ini dengan vaksin influenza. Isi vaksin influenza BERBEDA setiap tahun, disesuaikan dengan strain virus influenza yang sedang, atau diperkirakan akan mewabah saat itu. Berikut isi vaksin untuk untuk tahun 2017/2018:
A/Singapore(シンガポール)/GP1908/2015(IVR-180)(H1N1)pdm09
 A/Hong Kong(香港) /4801/2014(X-263)(H3N2)
 B/Phuket(プーケット)/3073/2013(山形系統)
 B/Texas(テキサス)/2/2013(ビクトリア系統)

“Kenapa vaksin influenza harus diterima setiap tahun?” Virus influenza punya kemampuan yang dikenal dengan istilah “antigenic drift”. Disini virus konsisten membuat perubahan dalam gen nya  supaya bisa lolos dari deteksi antibody kekebalan tubuh. Akibatnya, antibody yang sudah dibuat untuk melawan virus influenza sebelumnya tidak mempan terhadap virus baru hasil perubahan genetik.  Ini juga yang menjadi biang keladi timbulnya strain baru influenza virus yang berpotensi menyebabkan pandemik setiap tahun.

“Kapan sebaiknya vaksin influenza dilakukan?” Untuk mendapatkan perlindungan maksimal sebaiknya vaksin influenza diterima sejak Oktober sampai paling telat awal bulan Desember.  Induksi antibody  kekebalan tubuh setelah vaksin butuh waktu. Satu bulan setelah vaksin baru antibody meningkat dan bertahan selama kira kira 3 bulan, sebelum bertahap turun imunitasnya. Jika vaksin influenza sebaiknya selesai diterima paling lambat awal Desember ini akan memberi waktu tubuh membuat antibody untuk memiliki “peak” imunitas menjelang masuk bulan Januari, saat biasanya kasus influenza merebak.  Vaksin influenza untuk anak (6 bulan-12 tahun) dibagi dalam 2 kali suntikan dengan selang  waktu 2-4 minggu. Ini yang harus diperhatikan supaya jadwal pemberian vaksin yang ke-2 juga bisa selesai paling lambat awal Desember. 

Demikian rangkuman tentang influenza. Semoga bisa berguna untuk kita semua.

PS: hati hati kalau bilang “saya lagi flu”, salah salah bisa dilaporkan sebagai kasus influenza dan masuk karantina padahal sebenarnya hanya “common cold/kaze” biasa. Kita sering kecanggihan bilang batuk pilek sebagai “flu”; padahal orang bule hanya bilang “I have a cold” dan orang Jepang hanya bilangnya “kaze wo hiiteiru”. Again, influenza is different. 


Table data: 
CDC: https://www.cdc.gov/flu/about/season/flu-season.htm

東京都健康安全研究センター: http://idsc.tokyo-eiken.go.jp/assets/flu/2016/Vol19No21.pdf