Friday, April 24, 2009

Male Predominance in Liver Cancer




Male Predominance in Liver Cancer

Sebenarnya topik ini sudah lama ingin ditulis, tapi akhirnya tertunda terus. Sekarang setelah artikel kanker payudara dan kanker paru keluar, baru deh rasanya pas mengeluarkan artikel yang satu ini.
Kanker payudara:
http://charmedkath.blogspot.com/2009/01/womens-nightmare-breast-cancer.html
Kanker paru:
http://charmedkath.blogspot.com/2009/02/mens-killer-lung-cancer.html


Seperti yang kita tahu, baik pria maupun wanita sama sama berpotensi menderita kanker. Tergantung dari perbedaan organ yang dimiliki, tentu siapa yang memiliki resiko lebih tinggi untuk menderita kanker juga berbeda. Kanker payudara, kanker rahim, misalnya, ya tentu wanita lebih beresiko tinggi daripada pria. Sedangkan kanker prostat, kanker testis sudah pasti pria yang beresiko tinggi. Nah, lalu bagaimana dengan organ organ yang sama sama dimiliki baik oleh pria maupun wanita seperti liver atau paru misalnya? Tanpa sengaja 2 tahun lalu saya menemukan artikel menarik yang membahas hal ini pada kanker liver dan finally, setelah 2 tahun kemudian baru saya bisa berbagi cerita dengan menulisnya.

Berdasarkan data statistik dan terlepas dari berbagai faktor yang mempengaruhinya, secara umum pria memang lebih beresiko terhadap kanker dibandingkan wanita. Berikut ini beberapa contoh perbedaan ratio terjadinya kanker pada pria dan wanita di beberapa organ yang sama sama dimiliki keduanya (sumber data dicantumkan di references):
- Kanker paru (pria:wanita = 12:1)
- Kanker liver (3-5 kali lebih tinggi pada pria dibanding wanita)
- Kanker empedu (77% terjadi pada pria)
- Kanker esophagus (pria:wanita = 7:1)
- Kanker nasopharingeal (pria:wanita = 2.3:1)
- Kanker colon/usus besar (pria:wanita = 1.2:1)

Pada kanker paru, penyebab utamanya adalah merokok. Bisa dibilang angka kejadian yang tinggi pada pria dibandingkan pada wanita, karena memang kecenderungan untuk merokok juga lebih tinggi pada pria. Akhir akhir ini ketika rokok juga mulai menjadi trend pada wanita (mungkin karena imbas emansipasi wanita), angka kejadian kanker paru juga mulai meningkat pada wanita. Selain kanker paru, pada kanker liver juga pria beresiko lebih tinggi dari wanita dan gawatnya, di sini tidak ada terdakwa utama yang jelas jelas bisa disalahkan seperti merokok.

Pada kanker liver, faktor resiko utama adalah infeksi yang bisa menyebabkan peradangan pada sel liver. Infeksi pada liver bisa berasal dari hepatitis B virus (HBV) atau hepatitis C virus (HCV), alcoholic liver disease, nonalcoholic steatohepatitis (NASH) atau bahkan jamur (Aspergillus flavus). Infeksi ini bisa terjadi baik pada pria maupun pada wanita, tetapi kecenderungan infeksi berkembang dan akhirnya berlanjut menjadi kanker liver memang lebih tinggi pada pria dibandingkan wanita. Tidak hanya itu, angka kematian yang disebabkan oleh kanker liver ini juga lebih tinggi pada pria dibandingkan pada wanita, dan semakin jelas perbedaannya seiring dengan meningkatnya umur penderita seperti terlihat pada grafik di bawah ini.






Artikel yang saya temukan ini, mencoba mencari tahu apa perbedaan pada pria dan wanita sehingga si kanker liver lebih cenderung terjadi pada pria. Dan ternyata tidak hanya manusia, tikus juga memiliki kecenderungan yang sama. Peneliti pada artikel ini menemukan bahwa, zat karsinogen (chemical carcinogenesis) yang diberikan pada tikus, mengakibatkan timbulnya kanker liver pada semua 100% tikus jantan, sedangkan hanya 10-30% tikus betina yang lalu juga menderita kanker liver.

Melalui serangkaian percobaan lebih lanjut, ditemukan ada suatu zat yang dihasilkan dari infeksi liver yang terjadi, yang ternyata konsentrasinya tinggi sekali pada tikus jantan dibandingkan tikus betina. Mereka membuktikan, jika zat ini dihilangkan dari tubuh tikus jantan, incidence terjadinya kanker liver bisa dikurangi hingga 90%. Menariknya, zat yang satu ini ternyata, bisa dikurangi kadarnya dengan pemberian estradiol (hormon estrogen pada wanita)! Jika betul begitu, tidak heran pria lebih rentan terhadap kanker liver …karena memang konsentrasi hormon estrogen lebih tinggi pada wanita ketimbang pria. Ini juga sejalan dengan riset sebelumnya dimana pengangkatan ovarium (ovariectomi) sebagai penghasil utama hormon estrogen dan sebaliknya pemberian hormon pria testosterone justru secara signifikan meningkatkan incidence terjadinya kanker liver.

Meski masih banyak pertanyaan yang belum terjawab dari riset riset tersebut, hasil riset ini sudah membuka alternatif baru untuk pengobatan kanker liver. Selain itu, hasil riset ini juga menunjukkan adanya kemungkinan kalau prinsip yang sama bisa diterapkan juga pada kanker di organ organ lain dimana pria lebih beresiko ketimbang wanita.

Sedikit melenceng dari topik. Kemajuan ilmu kedokteran seperti penemuan di atas, berasal dari riset. Bidang riset yang masih di anak tirikan dan dipandang sebelah mata di negara tercinta kita, membuat negara kita selalu ketinggalan dan tidak bisa menjadi yang terdepan dalam pengobatan. Seorang teman baik suami saya, nyawanya terselamatkan berkat riset. Dalam pemeriksaan kesehatan rutin ketika ia bersekolah dulu, tanpa sengaja ditemukan kanker getah bening stadium lanjut. Dokter yang memeriksa mengatakan, harapan hidup sudah sedikit, paling paling usianya tinggal hitungan bulanan.

Untungnya, ia mendapat tawaran dari RS tempat ia berobat untuk mencoba pengobatan hasil riset yang baru akan diuji cobakan secara klinis. Kebetulan RS tersebut merupakan salah satu RS universitas (daigaku byouin) yang terkenal di Jepang dan sekaligus juga pusat riset. Karena masih tahap uji coba, semua biaya pengobatan gratis. Akhirnya ia memutuskan menerima tawaran tersebut. Dan hasilnya ...., ia berhasil melanjutkan pendidikan sampai selesai S2 di Jepang, melanjutkan S3 ke Amerika, menikah, dan dikaruniai anak kembar. Sebagai ungkapan rasa syukur atas kesembuhannya, ia memberikan beasiswa untuk anak anak yang tidak mampu di kota kelahirannya di Indonesia.

Sejak bertemu dengannya, mata saya terbuka lebar tentang manfaat dan pentingnya riset. Di tempat saya sekarang juga, klinis dan riset berkolaborasi secara optimal berusaha untuk selalu menemukan yang terbaik dan yang terbaru untuk pasien. Sudah hal biasa di tempat saya untuk meeting bersama antara dokter klinis dan researchers. Bahkan banyak dokter yang sepenuh hati, meninggalkan tugas klinis dan berkutat dengan riset untuk menemukan pengobatan terbaru.

Salah satu hasil riset yang terkenal dalam bidang medis adalah Gleevec/Imatinib, obat leukemia (chronic myeloid leukemia/CML-type) yang berbentuk tablet dan bisa dikonsumsi secara oral. Tahun 2001, hasil penelitian dr. Brian J. Druker ini disahkan oleh badan kesehatan Amerika FDA untuk resmi digunakan dalam pengobatan klinis. Sungguh penemuan Gleevec ini merupakan terobosan baru dalam pengobatan kanker. Tidak terbayangkan sebelumnya, segala macam kemoterapi yang menyiksa pasien bisa digantikan dengan hanya meminum tablet obat! Saya beruntung mendapat kesempatan mendengarkan kisah riset sang dokter ketika ia berkunjung untuk menerima penghargaan dari universitas saya (menurut cerita yang beredar, biasanya penerima award dari universitas saya, kelak juga menerima hadiah nobel. Jadi saya cepet cepet minta foto bareng sang dokter, mumpung masih bisa, dan siapa tahu ketularan pinternya hehehe). Beritanya juga bisa dibaca disini:
http://www.ohsu.edu/ohsuedu/newspub/releases/100807keio.cfm

Berkaitan dengan topik semula, semoga riset yang sedang berlangsung benar benar kelak bisa membuahkan satu langkah maju dalam pengobatan kanker liver. Selain itu, saya juga berharap tulisan ini bisa sedikit membuka mata kita, menyadari pentingnya riset sebagai aset berharga suatu negara. Kemampuan berpikir inovatif, ketekunan, kejujuran dan disiplin dalam riset membuat Jepang bisa selalu menjadi yang terdepan dalam menghasilkan produk produk baru dan menjadi negara maju yang sudah tidak perlu diragukan lagi kredibilitasnya. Semoga kelak akan semakin banyak juga generasi muda Indonesia yang tidak lagi ragu memilih profesi sebagai periset karena merekalah yang akan jadi ujung tombak penentu kemajuan suatu negara.

Salam sehat,
Kathryn-Tokyo


References:
- Parkin DM, Bray F, et al. Global cancer statistics, 2002. CA Cancer J Clin 2005;55:74-108.
- National Cancer Center, Japan: http://www.ncc.go.jp/
- Naugler WE, Sakurai T, et al. Gender Disparity in Liver Cancer Due to Sex Differences in MyD88-Dependent IL-6 Production. Science 2007;317:121-124.
- Nakatani T, Roy G, et al. Sex Hormone Dependency of Diethylnitrosamine-induced Liver Tumors in Mice and Chemoprevention by Leuprorelin. Jpn J Cancer Res 2001;92:249-256.
- Gleevec information: http://www.gleevec.com/index.jsp

No comments:

Post a Comment