Sunday, July 6, 2025

Mengenal "dai ni no kanjya" - Pasien Kedua



Mengenal "dai ni no kanjya" - Pasien Kedua

Di bahasa Jepang ada istilah "第二の患者" - dai ni no kanjya; yang artinya pasien kedua.

Istilah ini sering diberikan ke anggota keluarga pendampig pasien penderita kanker. Kenapa?

Sama seperti pasien, pendamping, keluarga, mereka juga kaget, terguncang, cemas, dan bahkan depresi saat mendengar diagnosa kanker. Di satu sisi mereka diharapkan menjadi pendukung, mereka berusaha kuat di depan pasien. Mereka juga berusaha mengambil alih berbagai tugas atau aktivitas dalam rumah tangga, sambil dituntut tetap menjalankan aktivitas mereka sendiri.

Hal ini sering menimbulkan konflik, kelelahan fisik dan mental yang tidak disadari. Saat semua perhatian tertuju kepada pasien, sebenarnya di balik itu ada pendamping yang juga sedang menanggung beban mental yang tidak mudah diutarakan.

Mari kita belajar mengenal posisi "pasien kedua" ini.

Berikan juga dukungan kepada keluarga pendamping pasien kanker. Jika kita mengenal mereka, bisa coba tawarkan misalnya, untuk bergantian menjaga pasien, tawarkan menjaga anak-anak mereka, beri pendamping waktu istirahat, bawakan buku atau makanan kesukaan mereka, dsb.

Untuk para pendamping keluarga pasien kanker; untuk dapat membantu pasien, jangan lupa penting juga bagi pendamping untuk secara sadar menjaga diri sendiri dan mencari dukungan yang diperlukan.
You are not alone❣️ 

*Poster ini juga dimuat di Facebook group KaDIJe (Komunitas Kanker Diaspora Indonesia di Jepang) 




HPV Vaccination for Boys in Tokyo

HPV Vaccination for Boys in Tokyo.

Berikut informasi tentang vaksinasi HPV di Tokyo, Jepang untuk anak laki-laki.

Selama ini bantuan finansial untuk vaksinasi HPV (Human Papilloma Virus) hanya diberikan untuk anak perempuan remaja putri usia 12-16 tahun. Tetapi, mulai tahun fiskal 2025 ini, tidak hanya anak perempuan, anak laki-laki juga akan mendapatkan bantuan financial untuk vaksinasi HPV.

Infeksi HPV sendiri dikenal sebagai faktor resiko terbesar penyebab terjadinya kanker serviks atau kanker mulut/leher rahim. Pada pria, infeksi HPV juga dapat meningkatkan resiko beberapa jenis kanker, seperti kanker anus, kanker penis, dan kanker tenggorokan (orofaring). 
HPV ini tidak hanya satu, tapi ada lebih dari 100 tipe. Diantaranya, tipe 16 dan 18 dikenal sebagai tipe yang beresiko tinggi menyebabkan kanker serviks.

Portal site untuk belajar lebih banyak tentang vaksin HPV: 
https://www.vaccine.metro.tokyo.lg.jp/





Monday, January 13, 2025

Influenza Outbreak in Japan: 2024~2025

 Influenza Outbreak in Japan: 2024~2025 


Halo semuanya, kasus influenza sedang tinggi banget ya di Jepang. Saya tulis kembali tentang influenza dengan penambahan dan modifikasi seperlunya dari tulisan-tulisan saya sebelumnya. 


Seperti yang selalu saya tulis, influenza berbeda dengan batuk pilek (common cold, atau “kaze” kata orang Jepang). Influenza disebabkan oleh virus influenza. Biasanya yang sering menjadi bertanggung jawab menjadi penyebab wabah musiman influenza, yaitu tipe A dan B. Influenza virus tipe A dapat dibagi lagi dalam beberapa strain, tergantung dari kominasi 2 jenis protein yang di terdapat di permukaan virus, dikenal dengan nama hemagglutinin (H) dan neuramidase (N). Dari kombinasi 2 jenis protein inilah kita kenal ada influenza virus tipe H1N1, H1N2, H3N2, dsb. Sedangkan untuk tipe B tidak dibagi menjadi subtipe H dan N, tetapi secara garis besar dibagi menjadi dua garis keturunan utama (lineage), yakni Victoria lineage dan Yamagata lineage. 

Strain influenza virus tipe A/H1N1 pernah menyebabkan pandemik besar di tahun 1918 yang dikenal dengan nama “Spanish flu”. Saat itu virus influenza sanggup membunuh lebih dari 25 juta orang hanya dalam waktu 25 minggu sejak terjadinya wabah (bandingkan dengan virus HIV/AIDS yang juga bisa membunuh 25 juta orang, tapi dalam 25 tahun). Begitu cepatnya virus influenza menyebar dan membunuh sekian banyak orang sehingga pandemik saat itu digambarkan sebagai “the greatest medical holocaust in history”.  Kejadian Spanish flu ini kemudian dijadikan patokan untuk bertindak lebih baik dalam menghadapi berbagai kasus pandemik lainnya seperti kasus 2009 Mexico’s swine flu, SARS, bahkan juga pandemik COVID-19.  

Selain strain H1N1, strain influenza lain yang pernah tercatat menyebabkan wabah adalah tipe A/H3N2. Strain H3N2 ini pernah menyebabkan wabah di Hong Kong tahun 1968-1969, Fujian-China tahun 2003-2004, dan terus muncul di hampir setiap musim influenza.  

Kedua strain tersebut tipe A/H1N1 dan A/H3N2, begitupula tipe B (Victoria dan Yamagata lineage) biasanya selalu rutin dimasukkan dalam vaksin influenza, termasuk vaksin influenza tahun 2024/2025 saat ini. 

Kenapa sih vaksin influenza diberikan setiap tahun? 

Virus influenza punya kemampuan yang dikenal dengan istilah “antigenic drift”. Disini virus konsisten membuat perubahan/mutasi genetik secara halus, sedikit demi sedikit, supaya bisa lolos dari deteksi sistem kekebalan tubuh. Akibatnya, antibody yang sudah dibuat untuk melawan virus influenza sebelumnya tidak mempan terhadap virus baru hasil perubahan genetik.  Ibarat sistem pengenalan wajah untuk menangkap maling misalnya, si maling akan berusaha tampil berbeda entah dengan topi, kacamata hitam, dsb untuk menghindari deteksi wajahnya. Ini sebabnya terjadi wabah influenza tahunan dan mengapa perlu vaksinasi setiap tahun. 

Selain itu, ada lagi kemampuan influenza virus yang disebut “antigenic shift”. Disini terjadi perubahan genetik virus yang lebih dramatis. Timbul strain virus baru yang belum pernah dikenali oleh sistem kekebalan tubuh, ibarat maling baru yang belum pernah muncul sebelumnya sehingga tidak dapat dikenali sama sekali. Di sini kita tidak mempunyai pertahanan tubuh sama sekali dan resiko pandemik flu besar, seperti Spanish flu, Mexico flu bisa berulang. 

Vaksin influenza berguna tidak sih? 

Ada penelitian skala besar di Norwegia tentang hubungan antara influenza dan radang otak, encephalitis. Penelitian ini mengamati catatan medis dari tahun 2008 hingga 2014 pada penduduk Norwegia dengan jumlah lebih dari 5,21 juta orang. Dari jumlah tersebut, lebih dari 680.000 didiagnosis menderita influenza dan sekitar 2.800 mengalami encephalitis. Ditemukan bahwa risiko terkena encephalitis dalam satu minggu pertama setelah tertular influenza naik hingga sekitar 48 kali lebih tinggi dari biasanya. Di sisi lain, ditemukan bahwa risiko encephalitis tidak meningkat setelah menerima vaksin influenza (A/H1N1). Selain menunjukkan tidak ada indikasi vaksinasi terkait resiko encephalitis, studi ini juga memperkuat data bahwa vaksin influenza efektif dalam mengurangi tingkat keparahan jika terkena influenza. 

Dalam berita terbaru dari NHK beberapa hari lalu, RS anak di Shizuoka mengatakan mereka memiliki tiga pasien di bawah umur yang terkena disfungsi otak, encephalopathy terkait influenza. Pasien dengan encephalopathy dapat mengalami kejang dan penurunan kesadaran dengan cepat. Ketiga pasien tersebut datang ke RS dalam kurun waktu hanya sebulan dari pertengahan Desember hingga awal Januari, jumlah yang bisa dibilang tinggi dalam kurun waktu yang singkat. Satu dari ketiga pasien tersebut, balita, meninggal. 

Perlu dicatat, setelah mendapat vaksin tidak serta merta tubuh langsung memiliki imunitas tinggi terhadap influenza. Tubuh butuh waktu untuk induksi membuat antibody tersebut. Itu sebabnya vaksin influenza biasanya sudah didistribusikan sejak awal Oktober supaya ada waktu cukup untuk tubuh membentuk imunitas saat menjelang masuk bulan Januari yang dingin, dimana biasanya kasus influenza musiman meningkat. Untuk anak-anak yang masih perlu vaksinasi dua kali, ada baiknya diatur hingga paling telat awal Desember sudah komplit terima vaksin. 

Dari data yang dikeluarkan oleh National Insititute of Infectious Disease, vaksin untuk musim influenza 2024/2025 ini memilki kecocokan dengan strain virus yang beredar di lapangan. Ini berarti, diharapkan orang yang divaksinasi lebih besar kemungkinan untuk terlindungi. Bukan berarti tidak akan terinfeksi sama sekali, tetapi meningkatkan peluang pencegahan penyakit agar tidak parah. 


---

Semoga dengan mengerti influenza lebih baik, kita juga bisa lebih baik dalam menjaga diri sendiri dan keluarga terhadap influenza. Selain tindakan pencegahan dasar penyakit menular seperti cuci tangan, berkumur, dsb, silakan juga pertimbangkan untuk memanfaatkan vaksin dengan baik. 


Tokyo, 12 Januari 2025 

PS: Saya sertakan foto electron microscope dari influenza virus-Spanish flu 1918. 

(Wikipedia: By Photo Credit: Cynthia GoldsmithContent Providers(s): CDC/ Dr. Terrence Tumpey - This media comes from the Centers for Disease Control and Prevention's Public Health Image Library (PHIL), with identification number #8160) 



References: 

1. https://www.cdc.gov/flu/about/viruses-types.html

2. https://en.wikipedia.org/wiki/Spanish_flu

3. https://en.wikipedia.org/wiki/Influenza_A_virus_subtype_H3N2

4. https://pedsallergy.theletter.jp/posts/47686cb0-cb57-11ef-b7e2-91c5abe7d04a

5. https://www.cdc.gov/flu/php/viruses/change.html

6. Ghaderi S, Størdal K, Gunnes N, Bakken IJ, Magnus P, Håberg SE. Encephalitis after influenza and vaccination: a nationwide population-based registry study from Norway. Int J Epidemiol. 2017;46(5):1618-1626. doi:10.1093/ije/dyx149

7. https://www3.nhk.or.jp/nhkworld/en/news/backstories/3747/

8. https://www.niid.go.jp/niid/ja/flu-antigen-phylogeny/13065-2024-12-28.html


Sunday, November 24, 2024

ANTIMICROBIAL RESISTANCE

 

ANTIMICROBIAL RESISTANCE

Teman-teman pernah dengar istilah AMR? AMR singkatan dari Antimicrobial Resistance atau bahasa Indonesia-nya, resistensi antimikroba.

Apa sih AMR ini?
Seusai namanya, AMR merupakan istilah medis yang diberikan untuk menggambarkan situasi adanya mikroorganisme pathogen yang resisten, alias kebal terhadap obat antimikroba. Akibatnya, obat-obat antimikroba yang biasa dipakai untuk mengobati penyakit infeksi menjadi tidak efektif.

Apakah AMR berbahaya?
Tentu!
AMR adalah ancaman kesehatan global yang penting ketika bakteri, jamur, parasit berevolusi menjadi resisten terhadap obat-obat antimikroba (termasuk antibiotik, antivirus, anti jamur, antiparasit).

Kemunculan dan penyebaran dengan cepat bakteri, virus, dsb yang resisten terhadap obat-obat yang kita punya akan mengancam kemampuan kita untuk mengobati penyakit infeksi yang biasanya mudah ditangani. Akibatnya, orang beresiko meninggal hanya karena terkena infeksi yang sebenarnya sangat mudah diobati jika tidak terjadi resistensi obat.

Apakah sudah ada kejadian terkait AMR?
Sudah cukup banyak dan laporan kasus terus meningkat.
Global Antimicrobial Resistance and Use Surveillance System (GLASS) tahun 2022 melaporkan tingkat resistensi yang mengkhawatirkan di antara bakteri pathogen umum. Tingkat rata-rata yang dilaporkan di 76 negara sebesar 42% untuk E. coli yang resisten terhadap antibiotik cephalosporins generasi ketiga, dan 35% untuk Staphylococcus aureus yang resisten terhadap methicillin (MRSA). Untuk infeksi saluran kemih yang disebabkan oleh E. coli, 1 dari 5 kasus menunjukkan penurunan respon terhadap antibiotik standar seperti ampicillin, co-trimoxazole, dan fluoroquinolones pada tahun 2020. Hal ini mempersulit pengobatan infeksi umum secara efektif.

Beberapa tahun silam, saya pernah menulis kisah nyata seorang remaja putri berusia 17 tahun, bernama Rebecca Lohsen.
Rebecca mengeluh sakit tenggorokan setelah pulang berlibur bersama keluarganya. Sakitnya tidak dirasakan berat, ia bahkan masih bisa berpergian ke mall. Baru beberapa hari kemudian kondisinya mulai menurun, ada demam tinggi, lemas, dan mengeluh ada back pain.
Setelah beberapa kali ke dokter akhirnya Rebecca didiagnosis radang paru (pneumonia) dan harus segera masuk RS. Setelah dirawat di RS selama 2 hari, diketahui kalau radang parunya disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus yang sudah resisten terhadap methicillin - MRSA (Methicillin-resistant Staphylococcus aureus).

MRSA adalah golongan bakteri yang sudah berevolusi dan memiliki resistensi terhadap berbagai antibiotik umum, termasuk golongan penicillins (methicillin, dicloxacillin, nafcillin, dsb) dan golongan cephalosporins. Otomatis hal ini mengakibatkan golongan bakteri MRSA ini lebih susah untuk diobati dengan standard antibiotik biasa.

Setelah mengetahui penyebabnya, dokter masih menenangkan orang tua Rebecca. Mereka masih menaruh kepercayaan dengan ilmu kedokteran yang sudah maju, dan tentu antibiotik yang tepat bisa digunakan untuk melawan MRSA tersebut.
Sayangnya kenyataan berbicara lain. 
Hasil scan menunjukkan kondisi paru-parunya terus memburuk, tidak ada perbaikan sehingga bahkan harus dimasukkan tube ke dalam tenggorokannya untuk membantunya bernafas. Dokter yang menangani menyerah, tidak bisa lagi menaikkan kadar oksigen dalam tubuhnya. Kondisi dan kesadarannya terus menurun sehingga berada dalam keadaan koma.
Pelajar putri yang sebelumnya sehat, “an honor student”, dan juga jago berenang ini tiba tiba harus bergantung pada alat-alat bantu penunjang kehidupan yang dipasang di sekujur tubuhnya.

Empat bulan setelah berjuang melawan penyakitnya di RS, Rebecca Lohsen, meninggal dunia. Ibunya yang juga seorang perawat, antara percaya dan tidak menyaksikan hidup putrinya direngut oleh bakteri yang selama ini dianggap sudah bisa ditaklukan oleh obat obatan modern. “Nearly 4 months after she mentioned that sore throat, she died”.
(Kisah Rebecca diangkat di lecture tentang “Drug Resistance” dari The Pennsylvania State University. Kisah nyata lainnya bisa dibaca dari referensi no.2)

Apakah ada yang bisa kita lakukan untuk mengatasi AMR?
Selain berbagai usaha dari sisi riset kedokteran untuk menemukan obat-obat antimikroba baru yang bisa mengatasi AMR, kita semua, masyarakat umum juga harus mulai menyadari tentang bahaya AMR.

- Jaga kebersihan dan kesehatan diri sehingga dapat menghindari infeksi berulang yang mengakibatkan pemakaian berbagai obat antimikroba berulang kali.
- Ikuti vaksinasi wajib dasar!
Tuberculosis/TB (vaksin BCG), Diphteria, Pertusis, Tetanus (vaksin DPT) merupakan penyakit-penyakit infeksi parah yang sudah bisa dicegah melalui vaksinasi. Perlu diketahui, saat ini resistensi obat terhadap TB juga meningkat pesat dan sudah menjadi masalah global baru.
- Gunakan antibiotik dan obat-obat antimikroba lainnya secara bijaksana dan tepat. Gunakan pada penyakit yang cocok dan minum obat sesuai instruksi hingga selesai. Penggunaan obat yang tidak tepat sangat berkontribusi pada timbulnya AMR.

--
Teman-teman pasti sudah banyak yang tahu ya komik manga “Hataraku Saibo; はたらく細胞” (Cells at Work)
Mereka bekerja sama dengan pemerintah (MHLW) untuk membantu meningkatkan kesadaran publik tentang resistensi antimikroba. Poster yang menampilkan karakter dari manga tersebut juga didistribusikan ke berbagai tempat terkait seperti RS, apotek, dsb di seluruh Jepang pada bulan November karena bulan ini sudah ditetapkan sebagai Bulan Promosi Penanggulangan AMR.

Semoga kita semua bisa lebih mengerti tentang AMR dan bisa mulai berpartisipasi mencegah meluasnya AMR. Demi melindungi anak-anak kita juga, generasi mendatang, yang akan menghadapi kesulitan besar jika AMR terus meningkat.

Salam sehat,

Tokyo, 24 November 2024

#kesehatanwibj

Referensi:
1. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/antimicrobial-resistance
2. https://www.idsociety.org/public-health/patient-stories/patient-stories/
3. https://www.cdc.gov/antimicrobial-resistance/prevention/index.html
4. https://amr.ncgm.go.jp/information/campaign2024.html
5. https://news.yahoo.co.jp/articles/3fbea4412551b864cf5fa2bc423d7845cf0bc954



𝐒𝐞𝐚𝐬𝐨𝐧𝐚𝐥 𝐈𝐧𝐟𝐥𝐮𝐞𝐧𝐳𝐚 𝟐𝟎𝟐𝟒-𝟐𝟎𝟐𝟓

 𝐒𝐞𝐚𝐬𝐨𝐧𝐚𝐥 𝐈𝐧𝐟𝐥𝐮𝐞𝐧𝐳𝐚 𝟐𝟎𝟐𝟒-𝟐𝟎𝟐𝟓


Halo semuanya, tidak terasa sudah masuk musim gugur.
Jangan lupa ya atur agenda untuk menjadwalkan vaksin influenza.  Di Jepang, vaksin influenza sudah bisa diambil sejak bulan Oktober. 

Isi vaksin influenza BERBEDA setiap tahun, disesuaikan dengan strain virus influenza yang sedang, atau diperkirakan akan mewabah pada waktu tersebut. Berikut strain virus influenza di dalam vaksin tahun 2024/2025: 

A/Victoria(ビクトリア) /4897/2022 (IVR-238) (H1N1) pdm09

A/California(カリフォルニア) /122/2022 (SAN-022) (H3N2)

B/Phuket (プーケット) /3073/2013 (山形系統)

B/Austria(オーストリア) /1359417/2021 (BVR-26) (ビクトリア系統)

*Strain A/California, merupakan strain baru yang berbeda dari tahun lalu. 


Untuk tambahan informasi. 

Tahun lalu Jepang akhirnya memberikan izin untuk produksi dalam negeri dan penjualan vaksin influenza dalam bentuk semprotan hidung / nasal spray. Vaksin ini berupa “intrasal live attenuated influenza vaccine (LAIV)” dengan nama produk: 𝐅𝐥𝐮𝐦𝐢𝐬𝐭® 𝐍𝐚𝐬𝐚𝐥 𝐒𝐨𝐥𝐮𝐭𝐢𝐨𝐧 (vaksin trivalent, produksi Daiichi Sankyo Co.). 

Di akhir bulan September 2024, Flumist sudah dirilis dan di muzim influenza tahun 2024 ini sudah mulai dapat digunakan. Target anak usia 2-18 tahun (2 歳から 19 歳未満). Vaksin diberikan satu kali, tetapi untuk usia di bawah 9 tahun dan belum memiliki riwayat pernah vaksin influenza, memerlukan dua kali vaksinasi. Biaya berkisar 8000~9000 yen per 1 kali suntikan. 

Flumist berisi virus influenza hidup yang sudah dilemahkan. Berbeda dengan Flumist, vaksin influenza dalam bentuk suntikan yang selama ini digunakan, merupakan vaksin tidak aktif (inactivated vaccine), berisi hanya partikel virus yang telah ditumbuhkan dalam kultur, diolah sehingga kemampuan menimbulkan penyakit hilang tetapi masih mampu membuat respon dari sistem kekebalan tubuh. 

PS: Untuk penderita asma, wanita hamil menyusui, orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah, dianjurkan tetap menggunakan flu shot/suntikan vaksin influenza. 


Semoga bisa menambah pengetahuan semuanya dan semoga kita bisa bersiap memasuki musim gugur, musim dingin dengan sehat! 


Salam sehat, 


Tokyo, 6 Oktober 2024 

#kesehatanwibj 


Referensi:

1. https://www.nikkei.com/article/DGXZQOUC048I20U4A001C2000000/

2. https://www.jpeds.or.jp/uploads/files/20240909_keibi_i_vaccine.pdf

3. https://www.kansensho.or.jp/uploads/files/guidelines/influenza_vaccine_240924.pdf

4. https://news.yahoo.co.jp/articles/69c72f1fdbb170878e438d787efad8b307197621

Image: 
https://www.nikkei.com/article/DGXZQOUC048I20U4A001C2000000/


Monday, March 25, 2024

𝐌𝐞𝐚𝐬𝐥𝐞𝐬 𝐎𝐮𝐭𝐛𝐫𝐞𝐚𝐤 – 𝐉𝐚𝐩𝐚𝐧 𝟐𝟎𝟐𝟒

𝐌𝐞𝐚𝐬𝐥𝐞𝐬 𝐎𝐮𝐭𝐛𝐫𝐞𝐚𝐤 – 𝐉𝐚𝐩𝐚𝐧 𝟐𝟎𝟐𝟒

Jumlah penderita campak (measles – hashika - 麻しん) di Jepang meningkat sejak akhir Februari 2024. Saat ini 10 orang yang berasal dari penerbangan Etihad Airways EY830 pada 24 Februari telah didiagnosis menderita campak. Penerbangan ini berasal dari Abu Dhabi ke Bandara Internasional Kansai, tetapi orang yang terinfeksi telah dilaporkan tidak hanya di Prefektur Osaka, tetapi juga di Tokyo, Nagoya, Kyoto, dan lokasi lainnya.
Banyak dari orang-orang yang terinfeksi tersebut diketahui belum menerima vaksin campak atau hanya menerima satu dosis. Diperkirakan kasus campak ini akan menyebar lebih jauh dari orang-orang yang terinfeksi.
Jepang sebenarnya telah mendapat sertifikasi bebas campak sejak tahun 2015, berarti seharusnya tidak ada wabah virus campak yang berasal dari dalam Jepang. Semua kasus campak di Jepang dalam beberapa tahun terakhir berasal dari luar negeri, yang kemudian dibawa masuk dan menyebar di dalam negeri, seperti situasi yang kita hadapi saat ini.

Campak sangat mudah menular. Ibaratnya, jika ada satu orang penderita campak yang bersin dalam kereta, sudah hampir dipastikan seluruh penumpang dalam gerbong yang sama akan terinfeksi campak juga. Virus campak menyebar melalui udara, dan virus campak, yang dikeluarkan dari saluran pernapasan orang yang terinfeksi, tetap berada di udara hingga dua jam. Sekalipun kita tidak melakukan kontak dekat dengan penderita campak, kita tetap bisa tertular hanya dengan berada di ruangan yang sama.
Penggunaan masker, cuci tangan, tidak cukup efektif dalam mengatasi penularan infeksi campak. Satu-satunya yang bisa memberikan proteksi menghadapi campak, dengan bantuan vaksinasi.
Di Jepang sejak tahun fiscal 2006, anak-anak menerima dua dosis vaksinasi campak dalam bentuk gabungan vaksin MR (Measles - Rubella). Periode pertama diberikan antara usia 1~2 tahun, dan periode kedua diberikan usia 5~7 tahun (sebelum masuk SD). Vaksin MR merupakan vaksin hidup berisi virus yang sudah dilemahkan (“live-attenuated vaccine” – 生ワクチン). Tingkat kekebalan setelah satu kali vaksinasi mencapai sekitar 95% dan dengan menerima dua kali vaksin diharapkan akan mendapat perlindungan yang lebih sempurna.
Apa gejala campak?
Saya sertakan dalam poster infografik berikut. Ini dikeluarkan dari ECDC (European Centre for Disease Prevention and Control).
Campak memiliki masa inkubasi kurang lebih dua minggu setelah terinfeksi. Ditandai dengan gejala seperti demam, pilek, batuk, sakit tenggorokan, konjungtivitis, serta ruam kulit yang muncul di seluruh tubuh beberapa hari kemudian. Bintik-bintik putih, kasar, seukuran pasir yang disebut bintik Koplik (Koplik spots) dapat terlihat pada mukosa pipi bagian dalam mulut.
Penderita campak juga dapat mengalami komplikasi seperti: otitis media, diare, pneumonia, dan radang otak (encephalitis) yang beresiko fatal. Meskipun jarang, radang otak yang disebut SSPE (Subacute Sclerosing Panencephalitis) ini bahkan dapat terjadi beberapa tahun setelah infeksi. Dikatakan SSPE bahkan bisa terjadi 7~10 tahun setelah seseorang dianggap sembuh dari infeksi campak.

--
Selepas masa pandemik, dan tidak ada lagi pembatasan penularan maupun pergerakan orang, berbagai virus penyakit mudah menyebar. Kita sudah mengalami kenaikan kembali Covid-19, Influenza, Streptococcus, Gastroenteritis, dsb
Saat ini diberitakan kasus campak juga naik dan ini bukan penyakit yang bisa diremehkan karena kemampuan penularannya yang tinggi sekali dan memiliki resiko menyebabkan kematian. Campak merupakan salah satu penyakit menular yang sangat menular.
Untuk teman-teman yang pekerjaannya berhubungan dengan travelling, guide tour, dsb, saya menghimbau untuk lebih waspada dan bisa cek data vaksinasi campak untuk diri sendiri.
Mari waspada selalu. Mari melindungi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan 💓

Tokyo, 17 Maret 2024
#wibjkesehatan
#kesehatanwibj

References:
1. https://news.yahoo.co.jp/.../9c0ec16c465e65aefd9735f3efb0...
2. https://www.ecdc.europa.eu/.../public.../measles-infographic
3. https://idsc.tmiph.metro.tokyo.lg.jp/.../measlesqa/mashinqa2
4. https://www.cdc.gov/measles/symptoms/complications.html



𝐇𝐚𝐫𝐢 𝐏𝐞𝐫𝐞𝐦𝐩𝐮𝐚𝐧 𝐈𝐧𝐭𝐞𝐫𝐧𝐚𝐬𝐢𝐨𝐧𝐚𝐥 (𝐈𝐧𝐭𝐞𝐫𝐧𝐚𝐭𝐢𝐨𝐧𝐚𝐥 𝐖𝐨𝐦𝐞𝐧'𝐬 𝐃𝐚𝐲) - 𝟖 𝐌𝐚𝐫𝐞𝐭 𝟐𝟎𝟐𝟒



𝐇𝐚𝐫𝐢 𝐏𝐞𝐫𝐞𝐦𝐩𝐮𝐚𝐧 𝐈𝐧𝐭𝐞𝐫𝐧𝐚𝐬𝐢𝐨𝐧𝐚𝐥 (𝐈𝐧𝐭𝐞𝐫𝐧𝐚𝐭𝐢𝐨𝐧𝐚𝐥 𝐖𝐨𝐦𝐞𝐧'𝐬 𝐃𝐚𝐲) - 𝟖 𝐌𝐚𝐫𝐞𝐭 𝟐𝟎𝟐𝟒

Bersama dengan WIBJ (Wanita Indonesia Berkarya di Jepang) dan Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT) kami mengadakan kegiatan edukasi "Mengenal Kanker Payudara" bertepatan dengan hari Perempuan Internasional 8 Maret 2024

Acara dihadiri oleh murid wanita (SMP & SMU) SRIT beserta, kepala sekolah SRIT, guru dan orang tua wali murid. Kami juga beruntung sekali acara bisa dihadiri dan dibuka oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI baru, Prof. Dr. Amzul Rifin, SP. MA yang ternyata baru tiba di Jepang dua hari sebelumnya.

Saya sendiri senang sekali bisa berada di antara-antara anak-anak muda yang antusias belajar, bahkan sampai ada murid yang menunggu hingga terakhir selesai karena ingin menanyakan tentang kuliah kedokteran.
Pertanyaan dari para peserta yang hadir juga banyak dan berbobot (serasa ujian sidang kelulusan dari para dosen )
Terima kasih secara khusus untuk Imelda Coutrier sensei yang sudah meluangkan waktu mengatur acara dan menemani saya hingga selesai. Untuk kepala sekolah SRIT, ibu Ari Driyaningsih yang menerima saya dengan ramah dan baik sekali

Semoga sedikit banyak isi penjelasan yang diberikan bisa membuat semua peserta lebih mengenal dan mengerti tentang faktor resiko, penanganan yang tepat, dan pentingnya deteksi dini untuk kanker payudara. Tidak lupa juga mencari informasi tentang kanker dari sumber yang tepat ya.











Thursday, January 18, 2024

Rising Cancer Incidence in Younger Adults

 Rising Cancer Incidence in Younger Adults

Saya sharing berita tentang angka kejadian kanker yang meningkat pada usia relatif muda, dibawah usia 50 tahun. Meski berita ini beradasarkan data statistik di Amerika, fenomena naiknya penderita kanker usia muda terjadi secara global di banyak negara.

Di laporan data statistik, dari pembagian kelompok berdasarkan umur, 65 tahun ke atas, 50-64 tahun, dan di bawah 50 tahun, terlihat jelas kalau orang yang berusia di bawah 50 tahun adalah satu-satunya dari tiga kelompok usia yang mengalami peningkatan kejadian kanker secara keseluruhan dari tahun 1995-2020.
Kecenderungan naiknya tingkat kejadian kanker juga telihat di Inggris; kelompok usia 25-49 tahun meningkat sebesar 22%, lebih dari dua kali lipat dibandingkan peningkatan sebesar 9% pada kelompok usia di atas 75 tahun.
Cancer patients are “increasingly shifting from older to middle-aged individuals.”

Masih ingat presenter terkenal Kobayashi Mao? Ia meninggal setelah berjuang melawan kanker payudara pada usia 34 tahun. Saat itu anaknya masih kecil-kecil dan saya yang tidak kenalpun ikut menangis melihat beritanya.  Di sekitar saya sendiri, ada seorang teman yang harus berpulang karena kanker paru-paru pada usia 34 tahun, ada yang berpulang karena kanker hati pada usia 30 tahun, ada yang mendapat diagnosa kanker usus besar di usia 43 tahun, kanker payudara usia 41 tahun, dan baru-baru ini salah satu kerabat di Jepang mendapat diagnosa kanke
r prostat di usia 49 tahun. Ini hanya beberapa yang saya sebutkan, banyak sekali kasus kanker terjadi di luar usia perkiraan umum. Saat ini sudah tidak aneh lagi mendapati kasus kanker di usia 30-40 tahunan.

Di berita ini diceritakan seorang pria muda berusia 34 tahun yang katanya olahraga 5-6 hari seminggu, rendah lemak tubuh, makan sangat sehat, tidak ada keluhan apapun. Dia melakukan pemeriksaan colonoscopy ketika menyadari ada darah di feses. Hasilnya, stadium IIIA colon cancer. Ayahnya juga didiagnosa kanker usus besar stadium 1 di awal usia 50 tahunan, tetapi tidak ada riwayat anggota keluarga lainnya yang menderita kanker tersebut.
Kanker usus besar ini menjadi penyebab kanker utama pada pria usia di bawah 50 tahun, dan menempati posisi kedua pada wanita setelah kanker payudara. Pasien ini beruntung setelah menjalani operasi, kemoterapi, dan monitoring selama 5 tahun, akhirnya ia dinyatakan bebas dari kanker. Di Jepang angka kejadian kanker usus besar pada remaja dan dewasa muda (AYA-Adolescents and Young Adults, 15-39 tahun) juga meningkat setiap tahun dengan kecenderungan lebih sering terjadi pada pria (56.8%).

Penyebab naiknya angka kejadian kanker pada usia dewasa muda masih belum dapat dijelaskan dengan baik meski faktor genetik, lingkungan dan perubahan gaya hidup dianggap berperan besar.  Seiring dengan perubahan trend epidemiologi kanker ke usia lebih muda, rekomendasi usia untuk melakukan screening kanker mungkin perlu disesuaikan dengan faktor resiko dan tipe kanker yang ada.

---

Seperti yang sering saya katakan, diagnosa kanker bisa menghampiri semua orang kapan saja. Bahkan sekarang usia mudapun tidak menjamin pasti tidak terkena kanker. Mari selalu meluangkan waktu untuk belajar mengenal faktor resiko kesehatan masing-masing, berusaha rutin cek kesehatan dan menjalani tes penapisan kanker (screening) yang bisa kita terima.  
Jangan lupa juga untuk selalu mendukung para pejuang kanker di sekitar kita. Dari mereka semua kita dapat belajar menghargai hidup, keluarga, persahabatan, dan tentunya kesehatan
❣️

Tokyo, 18 Januari 2024

References:

1. https://edition.cnn.com/2024/01/17/health/cancer-incidence-rising-report/index.html

2. https://news.cancerresearchuk.org/2023/01/24/early-onset-cancer-why-are-more-young-adults-being-diagnosed/

3. https://acsjournals.onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.3322/caac.21820

4. https://jgo.amegroups.org/article/view/76993/html

Saturday, January 13, 2024

New Hopes - 2024

New Hopes - 2024


Sejak 2009 pertama kali mengumpulkan tulisan-tulisan saya di blog ini, tidak terasa sudah lebih dari 10 tahun berusaha untuk tetap konsisten membagikan informasi yang baik dan benar ke banyak orang. 

Selama ini ada beberapa pencapaian yang saya sendiri tidak menyangka akan berhasil mewujudkannya. 

1. Tahun 2021, dengan dukungan dari grup Wanita Indonesia Berkarya di Jepang (WIBJ) kami berhasil membuat Cancer Support Group. 
Grup kecil yang berisi pasien Indonesia di Jepang yang menghadapi diagnosa kanker, maupun yang sedang merawat anggota keluarganya di Jepang yang terkena kanker. 
Meski baru berusia 3 tahun, anggota grup selalu berusaha saling mendukung. Banyak cerita suka maupun duka. Ada yang panik baru mendapat diagnosa, ada yang tegang harus menjalani operasi, ada yang sudah stabil sembuh, dan ada yang berduka kehilangan.

Di Cancer Support Group  kami selalu berusaha sharing informasi tentang kanker, membuat poster, webinar, dan lomba foto untuk mendukung gerakan peduli kanker payudara. Berbagai aktivitas dari grup ini saya presentasikan dalam Annual Pink Ribbon Advisor Meeting tahun 2023, dan mengantarkan saya menerima Pink Ribbon Advisor Award (bisa lihat di posting sebelumnya: https://charmedkath.blogspot.com/2023/11/pink-ribbon-advisor-award-2023.html) 
Semoga di tahun 2024 ini kami bisa tetap terus berkarya untuk membantu mereka yang membutuhkan. 

2. Tahun 2021-2023, melakukan riset kolaborasi dengan bagian patologi dari fakultas kedokteran Universitas Indonesia. 
Riset ini membuat saya belajar banyak, tidak hanya terkait tema riset yaitu kanker hati, tetapi juga bagaimana mengatasi tantangan dalam melakukan kolaborasi riset jarak jauh. Dapat menjalin komunikasi dengan rekan-rekan sejawat dan senior yang hebat membuat saya merasa bangga, sekaligus mengingatkan saya untuk dapat lebih banyak belajar lagi dari mereka. Saat pulang ke Indonesia di musim panas tahun 2023, saya juga bersyukur diberi kesempatan bertemu dengan rekan-rekan kolaborator dan mendapat mendapat kehormatan bertemu Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, dekan fakultas kedokteran Universitas Indonesia.  

Semoga hasil riset ini nanti bisa membawa kebaikan, menambah informasi demi kemajuan ilmu pengetahuan dan membantu lebih banyak pasien kanker hati di Indonesia. 

--
Di Jepang awal tahun 2024 diawali dengan gempa besar dan kecelakaan pesawat di Haneda airport. Bukan berita yang menyenangkan di awal tahun, tetapi bukan berarti segala sesuatu akan buruk. Kesabaran dan kedisiplinan penduduk di Jepang telah membuktikan mereka bisa melewati bencana dengan cara terbaik yang bisa diambil. Korban jiwa bisa ditekan seminimal mungkin, dan bahkan dalam kecelakaan pesawat yang berisi 397 penumpang, semua bisa keluar dengan selamat. 

Semoga ini membuat kita bisa lebih semangat menghadapi tantangan yang ada, berharap untuk yang terbaik di tahun 2024 ini. 

💖 Selamat Tahun Baru 💖
Terima kasih untuk semua dukungan selama ini. 
引き続きどうぞよろしくお願いいたします。

--
Tokyo, 13 Januari 2024

Saturday, November 18, 2023

Pink Ribbon Advisor Award 2023


The 31st Annual Meeting of the Japanese Breast Cancer Society 2023
Annual Pink Ribbon Advisor Meeting - Japan Society of Breast Health
Pink Ribbon Walk 2023 - Final Event


Di acara tersebut saya berkesempatan untuk presentasi tentang aktivitas edukasi kanker payudara dan kegiatan dari cancer support group bagi orang Indonesia di Jepang. Presentasi tersebut mendapatkan penilaian dari panelist board dan audience, yang hadir langsung maupun lewat zoom. Saya beruntung, terpilih menjadi pemenang dan mendapatkan "Pink Ribbon Advisor Award"

Team penilai dari breast cancer association mengatakan, mereka menyadari banyak orang asing yang tinggal di Jepang dan terlepas dari perhatian mereka, padahal semua beresiko sama terkena kanker (termasuk kanker payudara). Mereka senang bisa mendengar ada edukasi tentang kanker dan bagaimana sistem tes penapisan kanker (cancer screening) di Jepang bisa diperkenalkan untuk orang Indonesia. Mereka berharap aktivitas ini bisa diperluas untuk orang asing lainnya.
Saya senang sekali, aktivitas saya dan teman-teman di Cancer Support Group WIBJ diberi apresiasi. Semoga kami bisa mulai terlibat lebih luas dalam kegiatan medical society di Jepang.

Terima kasih secara khusus untuk teman-teman yang selalu mendukung kegiatan kami, dari memberikan like, share poster, hingga turut berpatisipasi dalam kegiatan pink ribbon walk. 

--
Tokyo, July 2023





Tuesday, March 28, 2023

How will the Covid-19 pandemic end?


How will the Covid-19 pandemic end?


Masih jelas dalam ingatan, tiga tahun lalu kita kedatangan strain baru dari Coronavirus yang menyerang saluran pernafasan. Pada saat media briefing 3 Maret 2020, WHO mengatakan “This virus is not SARS, it’s not MERS, and it’s not influenza. It is a unique virus with unique characteristics.” Virus yang kemudian diberi nama SARS-CoV-2 ini menyebar dengan sangat cepat di berbagai belahan dunia, dan pada 11 Maret 2020, WHO resmi menyatakan Covid-19 sebagai pandemik. [Ref 1,2]

Sejak saat itu kita tahu bagaimana Covid-19 memakan banyak korban di berbagai negara, termasuk di Jepang, maupun di Indonesia. Pada saat Covid-19 mulai merajalela, kita belum tahu dengan baik bagaimana proses penularannya, seperti apa gejala khas yang ditimbulkan, seperti apa resiko yang harus dihadapi, belum punya obat yang efektif, dan semua orang belum punya kekebalan tubuh yang cukup menghadapi penyakit baru ini. Tidak heran, banyak korban berjatuhan karena Covid-19. Saya yakin orang-orang yang pernah merasakan berjuang hidup mati dengan ventilator di ICU pasti tidak akan gegabah komentar sembarangan meremehkan penyakit ini. Saya sendiri juga mengalami kehilangan saudara dan teman karena Covid-19. Rasanya dunia tidak sama lagi sejak pandemik ini datang.

Selama kurun waktu tiga tahun ini SARS-CoV-2 seolah berlomba melakukan mutasi untuk meloloskan diri dari mekanisme pertahanan tubuh. Varian Delta yang mencapai puncak penyebaran pada tahun 2021 menyebabkan angka kematian melonjak di banyak negara. Hasil penelitian menunjukkan orang yang terkena varian Delta beresiko lebih tinggi mengalami perburukan gejala hingga fatal. Kita beruntung, dominasi varian Delta akhirnya digantikan dengan varian Omicron yang meskipun lebih mudah menular tetapi memiliki gejala yang lebih ringan dibandingkan varian sebelumnya. [Ref 3]

Di lain pihak, tenaga kesehatan, ilmuwan dari berbagai bidang juga berlomba untuk mengenali, mencegah, dan mengatasi penyebaran SARS-CoV-2. Salah satu terobosan besar di bidang kesehatan saat pandemik ini adalah penggunaan vaksin dengan basis teknologi mRNA. Sebenarnya metode vaksin dengan mRNA bukan teknologi yang tiba-tiba baru dibuat. “Hundreds of scientists had worked on mRNA vaccines for decades before the coronavirus pandemic brought a breakthrough.” Teknologi mRNA vaksin ini sebelumnya sudah ditujukan untuk membuat vaksin HIV, tetapi sifat mRNA yang rapuh, fragile, dan mudah terdegradasi menyebabkan transfer material mRNA ke dalam tubuh untuk berfungsi sebagai vaksin tidak mudah. Jalan panjang dan berliku untuk menggunakan teknologi mRNA ini akhirnya mendapat angin segar justru saat pandemik. Kenapa? Karena segala sumber daya penelitian yang ada dikerahkan untuk membuat vaksin baru yang cepat, relatif aman, dan efektif untuk mengatasi virus yang juga bermutasi dengan cepat. Kelebihan mRNA vaksin yang dapat dirancang menyesuaikan dengan pathogen yang berbeda-beda, dan dapat diproduksi dengan waktu lebih singkat dibandingkan vaksin konvensional membuat teknologi ini mendapat perhatian utama saat situasi pandemik. [Ref 4-6] Saat ini selain vaksin mRNA untuk varian awal SARS-CoV-2, kita juga sudah memiliki mRNA vaksin untuk varian baru Omicron (bivalent vaccine).

Saya mengikuti uji klinis untuk memantau antibody yang terbentuk dari vaksin Covid-19 yang saya terima. Titer antibody memang berangsur menurun sejak selesai vaksin komplit. Data penelitian yang ada menunjukkan mengambil booster minimal satu kali, dapat meningkatkan kembali titer antibody lebih tinggi dibandingkan hanya dua dosis primer. Mungkin ada yang masih ingat saya pernah menyebut “adaptive immunity”; ini yang diharapkan dari vaksinasi. Vaksinasi bisa melatih sel memori (B-cells, T-cells) yang merupakan pertahanan garis kedua dari tubuh. Mereka dapat lebih cepat bereaksi terhadap virus yang lolos masuk ke dalam tubuh dan mencegah perburukan, kematian pada orang yang telah divaksinasi.

Awal tahun 2023, WHO mengeluarkan pernyataan bahwa pandemik Covid-19 memasuki masa transisi. Banyak orang yang sudah memiliki imunitas yang tinggi terhadap Covid-19 (pasca infeksi langsung maupun melalui vaksinasi) dan membuat dampak dari Covid-19 terhadap angka kesakitan dan kematian berkurang. [Ref 7]

Di Jepang mulai bulan Mei 2023, direncanakan Covid-19 akan masuk kategori「5類」- Tipe 5. Ini berarti Covid-19 akan masuk dalam kategori yang sama dengan influenza musiman, RS virus, rubella/campak German, cacar air, dan penyakit tangan-kaki-mulut (HFMD). Tindakan medis dan hukum terhadap Covid-19 akan berubah. Rekomendasi rawat inap, kontak erat, subsidi medis akan berubah. Biaya pengobatan dan vaksinasi yang selama ini ditanggung penuh oleh pemerintah akan menjadi sebagian ditanggung oleh pasien sendiri. [Ref 8]
Pemakaian masker juga sudah bebas berdasarkan penilaian individual. Saya sertakan di gambar, reminder supaya kita bisa bertindak bijaksana terkait penggunaan masker.




Apakah Covid-19 akan hilang begitu saja?
Meski dampak Covid-19 berkurang, kasus positif masih terus menerus ada. Kita sepertinya memang harus beradaptasi untuk menerima kehadiran penyakit baru, Covid-19.
Sejarah juga menunjukkan bahwa penyakit infeksi menular memiliki kemampuan untuk berevolusi dan bisa muncul tak terduga kapan saja. [Ref 9]

Spanish flu 1918, Polio 1948-1955, Mexico swine’s flu 2009, Hong Kong SARS 2003, Ebola outbreak 2013, dsb. Mari belajar dari sejarah dan ilmu pengetahuan yang terus berkembang. Covid-19 sudah memberikan banyak data dan ilmu yang bisa kita pelajari untuk persiapan jika suatu saat muncul pandemik baru.

Jangan sampai kita mengulang sejarah yang buruk hanya karena misinformasi kesehatan. Akhir tahun 2022 Indonesia kembali menetapkan kejadian luar biasa (KLB) Polio setelah delapan tahun dinyatakan bebas polio oleh WHO. [Ref 10]. Kita tahu bagaimana dampak fatal polio; sayang sekali jika kita tidak bisa belajar dari sejarah untuk proteksi diri lebih baik.

Hal yang sama dengan Covid-19. Apa yang kita ajarkan ke generasi muda saat pandemik ini kelak akan jadi bekal mereka dalam menghadapi berbagai penyakit baru.

---

Saya berharap status pandemik segera berakhir dan ini menjadi tulisan penutup saya tentang Covid-19. Semoga sedikit banyak teman-teman di sini bisa mendapatkan informasi yang baik ya dari semua yang pernah saya tulis.


Get informed and be wise, always.

Tokyo, 28 Maret 2023

#kesehatanwibj

#wibjcovid19


Referensi:

1. Media briefing 3 Maret 2020 (https://www.who.int/dg/speeches/detail/who-director-general-s-opening-remarks-at-the-media-briefing-on-covid-19---3-march-2020)

2. Media briefing 11 Maret 2020 (https://www.who.int/dg/speeches/detail/who-director-general-s-opening-remarks-at-the-media-briefing-on-covid-19---11-march-2020)

3.https://www.yalemedicine.org/news/covid-19-variants-of-concern-omicron

4. https://www.nature.com/articles/d41586-021-02483-w

5. https://www.nytimes.com/2022/01/15/health/mrna-vaccine.html

6. https://www.medicalnewstoday.com/articles/mrna-vaccine-vs-traditional-vaccine#comparison

7. https://www.who.int/news/item/30-01-2023-statement-on-the-fourteenth-meeting-of-the-international-health-regulations-(2005)-emergency-committee-regarding-the-coronavirus-disease-(covid-19)-pandemic
8. https://www.asahi.com/relife/article/14830996

9.https://theconversation.com/three-years-on-the-covid-pandemic-may-never-end-but-the-public-health-impact-is-becoming-more-manageable-198013

10. https://www.bbc.com/indonesia/articles/c041gz8kkx1o

Sunday, November 13, 2022

Seasonal Influenza – 2022/2023

 Seasonal Influenza – 2022/2023

Memasuki musim gugur. Di berbagai tempat sudah dibuka kembali pendaftaran untuk vaksinasi influenza. Strain dalam vaksin influenza untuk musim dingin tahun 2022/2023:

A/Victoria(ビクトリア) /1/2020(IVR-217)(H1N1)pdm09

A/Darwin(ダーウィン) /9/2021 (SAN-010)(H3N2)

B/Phuket (プーケット) /3073/2013 (山形系統)

B/Austria(オーストリア) /1359417/2021(BVR-26)(ビクトリア系統)

Ada 2 perubahan isi strain dari tahun lalu; di type A/H3N2 dan di type B strain Victoria.

Apakah kasus influenza akan naik kembali tahun ini? saya juga tidak tahu. Tapi, prediksi dari banyak ahli, ada kemungkinan akan naik. Australia yang sudah memasuki musim dingin terlebih dahulu bulan Juli-Agustus 2022 ini mengalami lonjakan kasus influenza yang cukup parah setelah tahun-tahun sebelumnya sempat rendah pada masa pandemik Covid-19. Beberapa teman saya di Australia terkena influenza, bergiliran dengan Covid-19.

Selain itu, mulai longgarnya aturan berkumpul dalam ruangan, pemakaian masker, dan kembali masuknya turis dari berbagai negara juga diprediksi akan membawa kembali peredaran virus influenza ke Jepang.

---

Saya pernah tulis sebelumnya tentang kenapa influenza ini selalu bikin heboh, padahal biasa aja orang sering bilang kena “flu”. Saya tulis kembali di sini dengan modifikasi.

Influenza ini BUKAN batuk pilek biasa (batpil, common cold, atau “kaze”, kata orang Jepang). Penyebab virusnya berbeda seperti yang saya cantumkan di tabel. Jadi kalau orang Jepang dengar kita dengan santainya bilang lagi “flu”, jangan heran mereka bisa kaget dan langsung jaga jarak.

“Terus, kenapa influenza mesti diwaspadai?”. Jawabnya simple, “influenza can kill you”. Tahun 1918 ada pandemik influenza dikenal dengan nama “Spanish flu”. Saat itu virus influenza sanggup membunuh 25 juta orang hanya dalam waktu 25 minggu sejak terjadinya wabah (bandingkan dengan virus HIV/AIDS yang juga bisa membunuh 25 juta orang, tapi dalam 25 tahun). Begitu cepatnya virus influenza menyebar dan membunuh sekian banyak orang sehingga pandemik saat itu digambarkan sebagai “The greatest medical holocaust in history. The mother of all pandemics” [Ref 2,3]

Kejadian Spanish flu ini yang kemudian dijadikan patokan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama saat pandemik Covid-19 mulai tiga tahun lalu. Covid-19 sendiri dikatakan sudah mengambil alih rekor angka kematian yang disebabkan oleh Spanish flu di penduduk Amerika. [Ref 4]

Pandemik influenza tahun 1918 tersebut disebabkan oleh virus tipe A/H1N1. Wabah influenza yang disebabkan oleh virus H1N1 ini sempat terjadi lagi tahun 2009, dikenal dengan nama “2009 swine flu, Mexico’s swine flu”. Saat itu WHO mengumumkan status “worldwide pandemic alert” dan mengeluarkan larangan untuk tidak berpergian ke Mexico.  Jepang mengeluarkan kebijakan untuk memantau semua pendatang dari negara-negara yang dilaporkan ditemukan kasus swine flu. Untungnya saat itu public health response lebih sigap sehingga wabah bisa segera dikendalikan. Vaksin terhadap strain H1N1 tersebut juga segera dibuat dan hingga sekarang turunan strain H1N1 ini selalu dimasukkan dalam isi vaksin influenza setiap tahun.

Selain strain H1N1, strain influenza lain yang pernah tercatat menyebabkan wabah adalah tipe A/H3N2. Strain H3N2 ini pernah menyebabkan wabah di Hong Kong tahun 1968-1969, Fujian-China tahun 2003-2004, dan terus muncul di hampir setiap musim influenza.  [Ref 6].

Virus influenza punya kemampuan yang dikenal dengan istilah “antigenic drift”. Disini virus konsisten membuat perubahan/mutasi genetik kecil (small changes) di permukaan protein virus. Akibatnya, antibody tubuh bisa gagal mengenali dan si virus lolos dari sistem pertahanan tubuh.  Antigenic drift ini juga yang menjadi alasan kenapa orang bisa terkena influenza beberapa kali, dan kenapa isi vaksin influenza sendiri setiap tahunpun juga berubah. Isi vaksin influenza biasanya disesuaikan dengan data strain virus influenza yang sedang atau diperkirakan akan mewabah pada tahun tersebut. Oh ya, sejak tahun 2008 kita punya pusat global terpadu tempat pencatatan dan pemantauan data genomic influenza virus yang dikenal sebagai GISAID (Global Initiative on Sharing Avian Influenza Data). Saat pertama kalinya Covid-19 merebak, para ahli sempat kebingungan bagaimana share data genomic virus SARS-CoV-2 dan akhirnya pinjam tempat di GISAID. Dari sinilah data genomic SARS-CoV-2 bisa diakses oleh seluruh peneliti di berbagai dunia, dan berbagai penelitian bisa dimulai hingga akhirnya menghasilkan vaksin Covid-19. [Ref 7]

Covid-19 sendiri sepertinya akan mirip polanya dengan influenza karena virusnya juga secara konsisten mengalami mutasi. Tapi, jangan berkecil hati. Ilmu pengetahuan medis, genetik, epidemiologi, dan teknologi juga berkembang. Para ahli di berbagai negara berusaha sebaiknya mengatasi berbagai penyakit. Tinggal sisanya apakah kita akan ikut mendukung dan berupaya belajar dari ilmu pengetahuan yang terus berkembang, atau ya jalan di tempat berbekal informasi yang mungkin sudah tidak tepat lagi? Balik ke diri masing-masing deh ya.




Salam sehat selalu,

Tokyo, 07 Oktober 2022

Dr. Kathryn Effendi

References:

1. https://www.forbes.com/sites/brucelee/2022/08/20/australias-bad-flu-season-raises-twindemic-concerns-for-us-winter-2022/

2. https://en.wikipedia.org/wiki/Spanish_flu

3. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3291398/

4. https://www.nationalgeographic.com/history/article/covid-19-is-now-the-deadliest-pandemic-in-us-history

5. https://en.wikipedia.org/wiki/2009_swine_flu_pandemic

6. https://en.wikipedia.org/wiki/Influenza_A_virus_subtype_H3N2

7. https://en.wikipedia.org/wiki/GISAID

Wednesday, September 14, 2022

Omicron-Targeted Vaccines

[Update] 12 November 2022

1. Vaksin Omicron yang digunakan di Jepang saat ini sudah beralih menggunakan varian BA.4/BA.5. Vaksin Omicron sudah dapat diterima sebagai vaksin ketiga, keempat, atau kelima.
2. Perlu diperhatikan, 𝐯𝐚𝐤𝐬𝐢𝐧 𝐤𝐨𝐧𝐯𝐞𝐧𝐬𝐢𝐨𝐧𝐚𝐥 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚 𝐢𝐧𝐢 𝐝𝐢𝐠𝐮𝐧𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢 𝐯𝐚𝐤𝐬𝐢𝐧 𝐤𝐞𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐝𝐮𝐚 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐦𝐚𝐬𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐠𝐮𝐧𝐚𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐭𝐚𝐡𝐮𝐧 𝐢𝐧𝐢 - sampai Desember 2022. Setelah itu tidak akan dipergunakan lagi.

Sementara bagi yang belum menerima vaksin kesatu dan kedua TIDAK boleh menerima vaksin Omicron yang ketiga. Jadi sebaiknya segera bereskan vaksin kesatu, kedua. Atau menunggu hingga vaksin Omicron bisa disahkan penggunaanya sebagai vaksin kesatu dan kedua.

-----------------------------------

Omicron-Targeted Vaccines

Pasti sudah dengar ya tentang vaksin Covid-19 baru yang sudah resmi mendapatkan approval dari MHLW (12 September 2022) untuk digunakan sebagai vaksin booster di Jepang. [Ref1]. Vaksin baru ini disebut sebagai vaksin Omicron, sedangkan vaksin lama sebelumnya disebut sebagai vaksin original/konvensional (従来ワクチン). Sesuai namanya, vaksin baru tersebut mentargetkan protein permukaan (spike protein) dari variant Omicron yang memang disebut sudah berubah banyak dari variant awal virus Covid-19.  

Berikut saya berikan beberapa data terkait vaksin baru ini:

1. Sama seperti vaksin original, vaksin Omicron juga merupakan vaksin menggunakan mRNA. Dikeluarkan baik oleh Pfizer maupun Moderna. Isi dari vaksin Omicron ini merupakan gabungan dari mRNA variant awal dan variant Omicron (bivalent vaccine).

- Moderna (mRNA-1273.214): 25 μg variant awal + 25 μg variant Omicron (dosis 0.5 ml)
- Pfizer (BNT162b2+BNT162b2 Omi): 15 μg variant awal + 15 μg variant Omicron (dosis 0.3 ml)

Sama seperti vaksin sebelumnya, jumlah volume mRNA di Moderna lebih banyak daripada Pfizer.

2. Kita tahu variant Omicron sendiri berevolusi dengan cepat sekali. Saat vaksin Omicron tersebut dibuat masih memakai strain original Omicron BA.1, sedangkan yang saat ini sedang merebak maupun menimbulkan gelombang kasus, sudah berasal dari strain BA.5 dan BA.4.

Vaksin Omicron yang masuk dan disahkan di Jepang adalah vaksin dengan strain original BA.1.

Di Amerika, pada akhir Agustus 2022 lalu FDA sudah memberikan approval untuk penggunaan vaksin Omicron yang memakai strain BA.5/BA.4 dari Moderna & Pfizer. [Ref3] Tetapi, pengesahan FDA terhadap vaksin dengan strain BA.5/BA.4 ini sedang menjadi sorotan banyak pihak karena vaksin yang sudah diperbarui ini belum diujicobakan secara klinis ke manusia. Saat ini FDA hanya bersandar pada data dari uji coba dengan binatang dan uji klinis ke manusia dengan versi strain BA.1 sebelumnya. [Ref4]
** Pfizer baru mengeluarkan press release resmi sudah memasukkan permohonan ke MHLW (13 September 2022) untuk izin penggunaan vaksin Omicron versi BA.5/BA.4 di Jepang. [Ref5]

3. Untuk vaksin Omicron dengan versi strain BA.1, sudah melalui tahapan uji klinis ke manusia meski belum dipakai secara global luas.  

Partisipan yang menerima vaksin Omicron sebagai vaksin booster ke-2 (vaksin keempat/fourth dose) dari:

Moderna; menunjukkan peningkatan 1.7 kali titer neutralizing antibody terhadap strain BA.1 dibandingkan vaksin mRNA konvensional

Pfizer; menunjukkan peningkatan 1.56~1.97 kali terhadap strain BA.1 dibandingkan vaksin mRNA konvensional.

Meskipun secara data ada peningkatan antibody terhadap strain Omicron, tetapi seberapa efektif vaksin tersebut bisa mencegah penularan/infeksi dari strain Omicron belum diketahui. [Ref2, 6]  

4. Menurut data yang dikeluarkan CDC (September 1-2, 2022 ACIP meeting) efek samping yang dilaporkan dari vaksin Omicron mirip dengan vaksin original sebelumnya. Gejala yang keluar seperti bengkak, sakit di lengan yang disuntik, malaise, sakit kepala, nyeri otot, dan demam. Efek samping yang jarang seperti inflamasi di otot jantung (myocarditis) saat ini belum diketahui karena jumlah target orang yang divaksinasi dengan vaksin baru ini belum banyak. [Ref 2,7]

5. Berikut persyaratan untuk menerima booster vaksin Omicron di Jepang

- Vaksin Omicron bisa diterima sebagai booster untuk orang yang sudah minimal menerima dua kali vaksin lengkap. Jadi boleh diterima sebagai vaksin ketiga atau keempat.

- Jarak pemberian vaksin sekurangnya 5 bulan sejak jadwal vaksin terakhir, tetapi saat ini sedang ada wacana untuk memperpendek jarak waktu pemberian menjadi 2 bulan. [Ref8]
Seperti sebelumnya, vaksin bisa diterima jika sudah menerima kupon vaksinasi yang didistribusikan oleh pemerintah wilayah tempat tinggal masing-masing.

- Booster dengan vaksin Omicron bisa diterima oleh semua orang berusia dari usia 12 tahun ke atas. Saya sertakan di foto contoh flow chart target peserta penerima vaksin Omicron.

** Pfizer dapat diterima usia 12-18 tahun, sedangkan Moderna mulai dari 18 tahun ke atas.

----

Semoga rangkuman vaksin Omicron ini bisa jadi referensi bahan pertimbangan untuk yang ingin mengambil vaksin booster. Jika ada yang sudah mengambil vaksin keempat dengan vaksin original Pfizer/Moderna, tidak perlu merasa panik karena efektivitas vaksin untuk mencegah kondisi memberat jika terkena infeksi sama saja.

Jadwal pemberian vaksin Omicron ini akan bersamaan waktunya dengan jadwal vaksin tahunan influenza yang biasanya mulai dibuka dari bulan Oktober. Saat ini dikatakan kalau vaksin Omicron dan influenza boleh diterima bersamaan, tetapi saya pribadi masih memilih untuk sebisanya buka jeda (minimal 2 minggu) antara kedua vaksin. [Ref9].
FYI, tahun ini Australia mengalami kenaikan kasus influenza pertama kalinya sejak masa pandemik.  Biasanya pola kasus influenza di belahan bumi Selatan yang lebih dulu memasuki musim dingin memberi gambaran pola influenza di US atau Jepang. Entah bagaimana jadinya tahun ini, mari kita pantau bersama.  [Ref10]

Tetap jaga kesehatan untuk semuanya dan selamat menyambut musim gugur yang sejuk.  


“Stay Safe, Get Informed, and Be Wise”

Tokyo, 14 September 2022

Dr. Kathryn Effendi

#kesehatanwibj

#wibjcovid19

References

1. https://www.yomiuri.co.jp/medical/20220912-OYT1T50161/

2. https://news.yahoo.co.jp/byline/kutsunasatoshi/20220904-00313332

3. https://www.fda.gov/news-events/press-announcements/coronavirus-covid-19-update-fda-authorizes-moderna-pfizer-biontech-bivalent-covid-19-vaccines-use

4. https://www.science.org/content/article/omicron-booster-shots-are-coming-lots-questions

5. https://www.pfizer.co.jp/pfizer/index.html

6. https://www.pfizer.com/news/press-release/press-release-detail/pfizer-and-biontech-announce-omicron-adapted-covid-19

7. https://www.cdc.gov/vaccines/acip/meetings/slides-2022-09-01-02.html

8. https://www3.nhk.or.jp/news/html/20220912/k10013814301000.html

9. https://www.nhk.or.jp/shutoken/newsup/20220901b.html

10. https://www.nbcnews.com/health/health-news/australia-flu-season-warning-sign-us-this-year-rcna40123

Sunday, August 7, 2022

Monkeypox Outbreak 2022 – A Short Review

 

Monkeypox Outbreak 2022 – A Short Review

Belakangan bertubi-tubi seolah ada saja virus baru yang muncul ya. Belum selesai pandemik Covid-19, muncul laporan hepatitis akut pada anak-anak. Belum tuntas masalah hepatitis akut ini, sudah muncul lagi cacar monyet atau monkeypox yang ditetapkan sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) oleh WHO pada 23 Juli 2022.

Monkeypox sebenarnya bukan penyakit baru. Di sebuah journal ilmiah tahun 1973, dikatakan penyakit ini pertama kali diidentifikasi pada koloni kera di Copenhagen tahun 1958 dan sejak itu diberi nama “monkeypox”. [Ref1]

Monkeypox merupakan penyakit zoonosis viral, penyakit yang menular dari hewan yang sudah terinfeksi ke manusia. Sebenarnya diduga jika reservoir awal hewan ini justru hewan pengerat (rodents), bukan monyet. Hanya kebetulan saja monyet juga bisa terinfeksi. Sehingga banyak ahli yang mengatakan penamaan monkeypox ini sebenarnya tidak tepat.

Monkeypox tidak ada hubungan dengan Chickenpox, meskipun terkesan namanya mirip, tapi keduanya berasal dari golongan virus yang berbeda. Monkeypox virus berasal dari golongan orthopoxvirus, sedangkan chickenpox disebabkan oleh varicella-zoster virus. Monkeypox virus justru lebih dekat dengan smallpox virus karena berasal dari golongan yang sama. Smallpox sendiri sudah berhasil direadikasi berkat program vaksinasi. Kasus penularan alami terakhir dilaporkan tahun 1977, dan tahun 1980 WHO mengeluarkan pernyataan keberhasilan eradikasi smallpox. [Ref2]

Penularan Monkeypox bisa terjadi dari hewan ke manusia dan antar manusia melalui kontak fisik langsung & erat dengan penderita. Adanya kontak langsung dengan cairan tubuh, luka, ataupun dengan material yang sudah terkontaminasi.

Human-to-human transmission occurs through close or direct physical contact (face-to-face, skin-to-skin, mouth-to-mouth, mouth-to-skin) with infectious lesions or mucocutaneous ulcers including during sexual activity, respiratory droplets (and possibly short-range aerosols), or contact with contaminated materials (e.g., linens, bedding, electronics, clothing, sex toys). [Ref3]

 Sementara ini, kebanyakan dari kasus yang dilaporkan terjadi di pria dengan usia relatif muda (20s~40s). Laporan dari 528 kasus (16 negara) mengatakan 98% terjadi pada pria gay atau biseksual dengan usia rata-rata 38 tahun. [Ref4, 5]  
*Jangan stigmatisasi ya. Pada dasarnya semua orang bisa kena dan menularkan monkeypox.

Sejak Mei 2022, laporan adanya kasus Monkeypox meningkat dengan cepat di banyak negara yang akhirnya memicu WHO mengeluarkan PHEIC. Pada bulan Juni 2022 ada publikasi studi yang menganalisa evolusi phylogenomic dari monkeypox virus (MPXV). Hasilnya, monkeypox virus yang terdeteksi saat ini ternyata sudah berevolusi dan berbeda dengan virus sebelumnya yang diisolasi di Nigeria tahun 2018. Evolusi ini diduga meningkatkan kemampuan adaptasi virus dalam penyebaran antar manusia.  

“Notably, the 2022 MPXV diverges from the related 2018–2019 viruses by a mean of 50 single-nucleotide polymorphisms (SNPs), which is far more (roughly 6–12-fold more) than one would expect considering previous estimates of the substitution rate for Orthopoxviruses (1–2 substitutions per genome per year). Such a divergent branch might represent accelerated evolution” [Ref 6]

Di Jepang 25 Juli 2022, keluar laporan pertama ada kasus Monkeypox di dalam negeri. Di kasus ini pasien pria usia 30 tahunan, ada riwayat perjalanan ke Eropa dan riwayat kontak dengan orang yang ternyata juga terinfeksi Monkeypox sebelum kembali ke Jepang. [Ref 7]
Menyusul 28 Juli 2022, kasus kedua pada pria (30s) yang juga baru kembali dari perjalanan di luar negeri, dan 5 Agustus 2022 dilaporkan kasus ketiga pada pria (20s) ada riwayat kontak dengan visitor yang datang dari luar Jepang. [Ref 8, 9}

Bagaimana gejala monkeypox?

Gejala monkeypox, smallpox, atau chickenpox (varicella) mirip-mirip, sehingga sering sulit dibedakan. Berikut saya cantumkan tabel dari sebuah journal di tahun 2014 yang membandingkan gejala ketiganya. [Ref 10] 

Umumnya rash/ruam di monkeypox timbul beberapa hari setelah gejala pendahuluan seperti demam, sakit kepala, dan pembengkakan kelenjar getah bening. Ruam yang keluar di tubuh sering terjadi pada fase/stage yang sama, dimulai dari ruam merah, berubah menjadi lenting vesikel berisi cairan dan akan berubah mengering membentuk keropeng di kulit. Lokasi timbul ruam yang paling sering dilaporkan di sekitar anus, area genital (73%), diikuti oleh badan/kaki (55%), wajah (25%) dan telapak tangan/kaki (10%). [Ref 4]

 

---

Demikian sementara rangkuman tentang monkeypox. Semoga bisa membantu ya.

Saya berharap monkeypox tidak meluas dan peak gelombang Covid-19 saat ini juga bisa segera turun. Tidak hanya pelaku ekonomi, travel, dsb yang capai dengan kondisi seperti ini, tenaga kesehatan juga capai. Saya membaca ada komentar yang seolah mengolok-olok nakes; pakai pakaian lucu mirip astronot, bikin muak, takut berlebihan, dsb. Mereka yang bekerja sambil berusaha melindungi dirinya sendiri bisa jadi punya penyakit bawaan yang beresiko fatal jika terkena Covid. Ada lho nakes yang harus suntik insulin, ada yang sedang dalam siklus pengobatan kanker, ada juga yang berusaha menjaga keluarga mereka karena harus tinggal bersama ibunya yang usia lanjut, ada yang anaknya punya penyakit bawaan, dsb.

Covid-19 sendiri tidak sama dengan influenza. The Office for National Statistics (ONS) di UK sudah mengeluarkan laporan, “there have been more deaths due to COVID-19 than flu in every year since 1929. They noted that 73,766 deaths in 2020 were due to COVID-19, and 67,258 in 2021, while there were 73,212 deaths due to flu in 1929” [Ref 11]

Kita beruntung saat ini mutasi virus dengan strain Omicron menyebabkan gejala yang lebih ringan dibandingkan strain Delta sebelumnya.  Saya sendiri sudah kehilangan keluarga, teman sekolah, teman sejawat, dosen, selama masa pandemik ini. Semoga situasi yang sulit untuk semua orang ini menjadikan kita lebih bijaksana dan punya empati untuk orang lain, bukan sebaliknya.

“Don’t Panic – Stay Alert – Get Informed, and Be Wise”

Tokyo, 07 Agustus 2021

Dr. Kathryn Effendi


References

1. https://journals.asm.org/doi/epdf/10.1128/br.37.1.1-18.1973

2. https://www.niaid.nih.gov/diseases-conditions/smallpox

3. https://www.who.int/emergencies/disease-outbreak-news/item/2022-DON393

4. https://news.yahoo.co.jp/byline/kutsunasatoshi/20220725-00307278

5. NEJM: DOI: 10.1056/NEJMoa2207323

6.  https://www.nature.com/articles/s41591-022-01907-y
7.  https://www.japantimes.co.jp/news/2022/07/25/national/japan-monkeypox-outbreak-preparation/

8. https://www.asahi.com/ajw/articles/14681792

9. https://mainichi.jp/english/articles/20220806/p2a/00m/0na/001000c

10. https://academic.oup.com/cid/article/58/2/260/335791

11. https://www.ons.gov.uk/peoplepopulationandcommunity/healthandsocialcare/conditionsanddiseases/articles/howcoronaviruscovid19compareswithfluasacauseofdeath/2022-05-23