Thursday, October 24, 2019

Japanese Encephalitis

Japanese Encephalitis

Beberapa hari lalu lihat ada teman yang share cerita tentang Japanese Encephalitis (JE) diiringi dengan copas artikel berjudul “Awas nyamuk ganas model baru”. Sewaktu acara kumpul warung kopi WIB-J, eh ternyata ada banyak pertanyaan juga tentang Japanese Encephalitis (JE) ini. Jadi kali ini saya pilih topik mengenai Japanese Encephalitis atau bahasa Jepangnya, ζ—₯ζœ¬θ„³η‚Ž - nihon nouen

Gara gara namanya yang pakai kata “Japanese”, penyakit ini sering dikira hanya ada di Jepang saja, padahal JE ini merupakan salah satu penyakit yang endemik di Asia (termasuk China, Thailand, Vietnam, Malaysia, maupun Indonesia). Kebetulan saja penyakit ini pertama kali didokumentasikan pada tahun 1871 di Jepang, sehingga namanya jadi Japanese Encephalitis.

JE disebabkan oleh virus yang diberi nama langsung sesuai nama penyakitnya, Japanese Encephalitis Virus (JEV). Virus ini termasuk golongan flaviviridae, yang berarti bersaudara kandung dengan virus Dengue/demam berdarah, virus yellow fever, dan virus Zika. Yellow fever endemik di daerah Afrika, sedangkan virus Zika meski sudah lama ada di Afrika dan Asia, baru mendapat perhatian luas saat terjadi wabah menjelang olimpiade musim panas di Brazil tahun 2016.
Semua virus ini ditularkan melalui gigitan nyamuk, hanya saja mereka beda pilihan mau pakai nyamuk yang mana (meski beda pilihan tapi mereka tetap akur lho 😘). Kita semua pasti sudah hafal soal ulangan IPA, kalau virus dengue ditularkan melalui nyamuk Aedes Aegypti; nah kalau JEV, dia memilih nyamuk jenis Culex sebagai kendaraannya, tepatnya Culex tritaeniorhynchus (bagus ya namanya keren & keriting!πŸ˜„). Nyamuk ini banyak beredar di daerah rural, pedesaan, peternakan dan memiliki jam aktif di malam hari.

Sesuai namanya, JEV bisa menyebabkan radang otak (encephalitis) dan menimbulkan gejala yang berkaitan dengan serangan tersebut seperti demam, sakit kepala, kejang, koma, lumpuh, sampai bahkan meninggal. Belum lama ini saya ikut conference dan kebetulan bertemu seorang dokter pembicara dari Malaysia yang meneliti tentang JEV. Dari penelitiannya, virus yang disuntik di bagian kaki tikus ternyata memilih imigrasi langsung ke otak, tanpa menimbulkan masalah di kaki. Dalam waktu 3 hari sesudah injeksi, tanda tanda timbulnya masalah pada saraf otak sudah terlihat dan virus sudah positif ditemukan di otak.

Sementara ini belum ada pengobatan yang khusus untuk JE, pengobatan hanya simptomatik untuk mengatasi gejala yang keluar. Saat ini pencegahan terbaik yang bisa dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk dan vaksinasi. Di Jepang, vaksinasi JE termasuk golongan “inactivated vaccine” (δΈζ΄»εŒ–γƒ―γ‚―γƒγƒ³). Ini golongan vaksin yang menggunakan virus yang sudah dikontrol dan dimatikan dengan cara tertentu, tapi masih bisa menstimulasi respon sistem imun tubuh.
Vaksin JE dibagi dalam 2 tahap. Tahap pertama sudah dapat diberikan sejak bayi umur 6 bulan, sebanyak 3 kali. Mengingat banyak vaksin dasar lain yang juga harus diberikan di usia usia tersebut, vaksin JE biasanya bisa ditunda diberikan setelah anak berusia 3 tahun. Tahap kedua diberikan di usia antara 9-12 tahun, hanya satu kali.

Sebenarnya kasus JE ini sedikit jumlahnya dibandingkan kasus lain yang juga disebabkan oleh virus yang sudah bisa diantisipasi dengan vaksin, misalnya mumps, measles, atau rubella. Tetapi, melihat patogenesisnya yang menyerang otak dan sistem saraf, penyakit JE ini bisa dikategorikan fatal. Dari banyak laporan, dikatakan 1/3 dari pasien JE meninggal, sedangkan separuh dari survivors menderita “neuropshychiatric squeale” – gejala sisa akibat kerusakan saraf.

Oh ya, meski bersaudara dan sama sama ditularkan lewat nyamuk, virus JE dan virus Dengue itu berbeda ya. Jadi JE ini bukan demam berdarah model baru atau nyamuk baru yang lebih ganas (hoax itu mah! πŸ€“). Saya juga sempat berdiskusi dengan dokter dari Malaysia yang saya ceritakan di atas, saya bilang kalau di Indonesia lebih beken penyakit demam berdarah daripada JE sehingga masih banyak yang salah kaprah. Terus beliau bilang, iya di Malaysia juga.
(dalam hati) duh tetangga ....sama donk, kita saudaraan juga sih ……πŸ˜œπŸ˜†


Image: https://hibaby123.com/yobosessyubyoki.html/g10209

Wednesday, March 6, 2019

A New Hope in the Long Battle against HIV-AIDS Virus


A New Hope in the Long Battle against HIV-AIDS Virus


Tanggal 5 Maret 2019 di journal ilmiah bergengsi, Nature, dimuat artikel tentang keberhasilan eliminasi virus HIV di tubuh pasien. Berita ini dengan segera menyebar dan diberitakan di mana mana. Ini berita yang menyegarkan dalam perjalanan panjang melawan penyakit yang masih menjadi momok banyak orang ini. Saya ringkas kisahnya ya.

Tahun 2007, ada pasien dengan leukemia yang juga kebetulan positive HIV menerima transplantasi sumsum tulang untuk mengobati leukemianya. Sumsum tulang yang ia terima berasal dari donor yang memiliki mutasi protein CCR5. Setelah transplantasi, dilakukan terapi immunosuppressive yang agresif hingga pasien bahkan hampir meninggal. Ternyata setelah pengobatan selesai ditemukan tidak hanya leukemia nya saja yang berhasil diobati, tetapi virus HIV di dalam tubuhnya juga berhasil dieliminasi. Kesembuhan di pasien yang diberi identitas “Berlin patient” ini memicu dokter melakukan tindakan yang sama untuk pasien lain. Sayangnya, tidak membuahkan hasil yang diharapkan sehingga saat itu mereka berpikir keberhasilan eliminasi virus HIV ini mungkin karena aggresif nya terapi yang diterima pasien saat itu, atau hanya keberuntungan semata.

Tahun 2016 kembali dilakukan transplantasi sumsum tulang untuk pasien Hodgkin’s lymphoma. Donor yang diterima juga memiliki mutasi protein CCR5, dan pasien juga menjalani terapi immunusuppresive, tetapi tidak seagresif pasien sebelumnya karena sudah mengikuti standard guideline baru yang lebih aman. Dan akhirnya, setelah 12 tahun berlalu, pasien yang diberi identitas “London patient” ini juga mengalami kesembuhan dari kanker dan sekaligus HIV yang dideritanya. Dokter menemukan kalau virus HIV hilang total “completely disappeared” dari dalam tubuhnya setelah menjalani transplantasi. Pasien juga stop mengkonsumsi obat antiretrovirus untuk HIV, dan 18 bulan setelah berhenti minum obatpun masih tidak ada tanda tanda virus HIV kembali di tubuhnya. Ini menjadikan ia sebagai pasien ke-2 yang dianggap bisa menyamai keberhasilan eliminasi jangka panjang virus HIV seperti kasus “Berlin patient” sebelumnya.


Protein CCR5 merupakan salah satu target untuk pengobatan HIV karena adanya defective di protein ini diduga bisa menghasilkan resistensi/kekebalan terhadap virus HIV. Sayangnya, virus HIV juga bisa menggunakan protein lain selain protein CCR5 untuk masuk dan replikasi dalam tubuh, sehingga trasnplantasi ini hanya terbatas untuk pasien dengan virus HIV yang diketahui masuk melalui protein CCR5 tersebut. Selain itu, tidak semua pasien HIV juga menderita kanker dan menjadi kandidat menerima transplantasi sumsum tulang. Masih banyak yang harus dipelajari, tapi yang pasti, keberhasilan ini menjadi langkah maju untuk terbukanya pengobatan yang lebih baik terhadap pasien HIV.

“This will inspire people that cure is not a dream. It is reachable”
~ Dr. Annemarie Wensing, a virologist at the University Medical Center Utrecht in the Netherlands.

References:
image: https://ja.wikipedia.org/wiki/CCR5