Sunday, September 12, 2021

Japan’s First Report of COVID-19 Death in Teenage Patient

 Japan’s First Report of COVID-19 Death in Teenage Patient

Mungkin sudah banyak yang dengar dari berita hari ini ya. Saya sengaja sedikit menulis tentang hal ini karena komunitas kita banyak yang punya anak muda, remaja di bawah usia 20 tahun, dan tentu berita ini jadi alarm juga buat kita semua.

Osaka melaporkan secara resmi adanya kasus kematian karena COVID-19 pada remaja pria (10代後半). Remaja ini dikatakan mengeluh sakit sejak 1 September, dirawat masuk di RS, kondisinya memburuk dan meninggal tanggal 7 September. Dari laporan yang ada remaja tersebut memang memiliki komorbid (underlying diseases) dan belum menerima vaksin. [Ref1]

Sejak varian Delta merebak, memang banyak negara melaporkan kalau jumlah anak-anak yang terkena infeksi COVID-19 meningkat. Di Jepang sendiri kasus COVID-19 di bawah usia 20 tahun terus naik. Data per minggu yang dikeluarkan oleh MHLW dari 27 Juli hingga 24 Agustus 2021 terus menunjukkan kenaikan, dan dalam satu bulan sudah mencapai 5 kali lipat lebih tinggi. [lihat gambar, Ref 2]. Meskipun jumlahnya naik, sejauh ini hanya ada laporan yang mengalami kondisi berat, tapi belum ada laporan kematian. Jadi kasus di Osaka ini merupakan laporan pertama kasus kematian usia muda di Jepang.  

Seperti yang sudah saya sering tulis sebelumnya, usia muda memang bukan jaminan tidak akan mengalami kondisi berat, kematian, atau sequale pasca infeksi. Salah satu kondisi berat yang mungkin terjadi pada anak-anak dikenal dengan istilah “Multisystem Inflammatory Syndrome-Children (MIS-C)” Disini terjadi peradangan/inflamasi pada organ-organ tubuh yang gejalanya menyerupai Kawasaki Disease.

“We do not yet know what causes MIS-C. However, we know that many children with MIS-C had the virus that causes COVID-19, or had been around someone with COVID-19.” [Ref 3]

Keluarga dengan anak-anak yang mempunyai komorbid seperti obesitas, penyakit herediter, kelainan jantung bawaan, sickle cell disease, kelainan metabolic, diabetes mellitus, dsb  sebaiknya lebih ekstra hati-hati.  

Bagaimana dengan vaksinasi?

Vaksinasi usia 12 tahun keatas sudah berjalan, bisa cek di wilayah tempat tinggal masing-masing ya. Jepang juga ada kemungkinan untuk memperluas target usia vaksinasi dengan mempertimbangkan hasil dari uji klinis vaksinasi usia 6-11 tahun yang sedang berlangsung. [Ref 4]. Uji klinis memang diperlukan untuk bisa mendeteksi lebih baik kemungkinan efek samping yang jarang tapi perlu diwaspadai. Salah satunya yang dikenal dengan istilah “myocarditis-pericarditis” - peradangan yang terjadi pada otot atau selaput pembungkus jantung. Berdasarkan laporan CDC, myocarditis lebih banyak terjadi pada pria dibandingkan wanita dan terutama usia muda.

“The highest reporting rates were among males aged 12−17 years and those aged 18−24 years (62.8 and 50.5 reported myocarditis cases per million second doses of mRNA COVID-19 vaccine administered, respectively).”

Gejala yang keluar antara lain, sesak nafas, sakit dada, palpitasi/jantung berdebar. Dari guideline yang dikeluarkan oleh American Heart Association and American College of Cardiology, dianjurkan untuk membatasi olahraga (exercise restriction) hingga pulih kembali. [Ref 5]



--

Pasti banyak yang bingung juga bagaimana dengan sekolah anak-anak ya. Semoga sudah ada tindakan preventif dari sekolah masing-masing. Di tempat anak-anak saya sementara berubah jadi kelas online, setiap pagi bisa dengar bel sekolah deh via zoom. Untuk sekolah, hoikuen, kerja, atau kegiatan primer yang memang “mau tidak mau”, apa boleh buat ya ….kita ikut aturan sambil berusaha tetap hati-hati. Tapi kalau kegiatan sekunder, leisure activities bersama teman-teman misalnya, saya sendiri sudah dengan berat hati banyak yang saya lepas.

“bisa pergi ke tempat A, mumpung lagi sepi” Kalau semua orang mikir seperti ini, tidak jadi sepi lagi tempatnya. Dan tidak akan putus rantai penularan.

Setidaknya jika ingin pergi, pertimbangkan dengan baik timing, resiko dan tindakan preventif atau antisipasi yang bisa dilakukan. Hati-hati selalu.

“Stay Safe, Get Informed, and Be Wise”

Tokyo, 09 September 2021

Dr. Kathryn Effendi


References:

1. https://www3.nhk.or.jp/news/html/20210908/k10013249831000.html

2. https://www3.nhk.or.jp/news/special/coronavirus/atschool/detail/detail_10.html

3. https://www.cdc.gov/mis/mis-c.html

4. https://www.nytimes.com/2021/07/26/us/politics/fda-covid-vaccine-trials-children.html

5. https://www.cdc.gov/mmwr/volumes/70/wr/mm7027e2.htm?s_cid=mm7027e2_w

Sunday, August 15, 2021

Post Vaccination Antibody and Breakthrough Infection

 Post Vaccination Antibody and Breakthrough Infection

Akhirnya vaksin mulai jalan ya di Jepang dan bahkan sudah mulai banyak yang selesai terima komplit dua dosis.  Kali ini saya mau share cerita tentang antibody yang diharapkan terbentuk pasca vaksinasi COVID-19.

Saya ikut clinical trial untuk mengukur kadar antibody setelah vaksinasi. Jadi kami diambil darahnya sebelum vaksin dan kemudian secara teratur diambil lagi setelah vaksin komplit. Saya terima vaksin pertama dan kedua selesai bulan Maret 2021, menggunakan vaksin Pfizer. Jadi sharing cerita saya ini berdasarkan data pribadi, dan referensi untuk Pfizer.

Saat ini memang mengukur kadar antibody pasca vaksinasi belum dianjurkan ya oleh MHLW karena vaksin yang digunakan di Jepang dipercaya efektif sehingga tanpa perlu test masing-masing individual, kadar titer antibody bisa dianggap naik. Selain itu antibody kits dan patokan yang dipakai beragam sehingga penilaian satu sama lain bisa berbeda. [Ref1]

Di tempat saya antibody kits yang dipakai juga sudah divalidasi terlebih dahulu dan sudah diambil referensi patokan untuk nilai ambang batas (cut-off value) kadar antibody yang dianggap positif dan negatif. Kadar yang diukur adalah anti SARS-CoV-2 spike receptor binding domain (RBD) Immunoglobulin G (IgG)

Kadar titer IgG terlihat meningkat pada seluruh partisipan dengan nilai tertinggi (peak) pada minggu ketiga pasca vaksinasi kedua. Setelah itu bertahap menurun hingga pengukuran pada tiga bulan pasca vaksinasi. Meski bertahap menurun, kadar titer antibody yang terlihat masih lebih tinggi di atas ambang batas nilai. Hasil studi terbaru dari UK juga menunjukkan adanya penurunan antibody bertahap pasca suntikan kedua vaksinasi Pfizer [Ref 2].

Selain itu juga terlihat kalau partisipan yang mengalami reaksi efek samping yang cukup berat pasca vaksinasi memiliki kadar antibody yang lebih tinggi dibandingkan yang tidak. Reaksi efek samping ini lebih banyak dirasakan oleh wanita dan memang peningkatan antibody terlihat lebih tinggi pada wanita dibandingkan pria.

Saya sendiri termasuk yang mengalami efek samping minimal, tanpa demam maupun reaksi sistemik lainnya. Meski titer antibody saya agak lebih rendah dari rata-rata peak titer IgG keseluruhan tapi masih jauh naik di atas ambang batas, melebihi perkiraan saya sendiri. [Fig1]

Mungkin kemudian ada yang merasa hopeless. Sudah vaksinasipun bakal turun juga antibody nya.

à Ya bikin kecewa sih, tapi tidak mengherankan. Sejak dulu vaksinasi anak-anak juga hampir semua perlu diulang untuk menginduksi imunitas yang lebih baik. MMR, DPT, pneumonia, hepatitis, dsb. Jadi ini fenomena yang cukup biasa dalam dunia imunologi.  Tidak gampang memang induksi “lifelong immunity” dengan vaksinasi yang bahkan targetnya ini virus yang rutin bermutasi.

Sampai saat ini berapa lama imunitas akan bertahan, sampai berapa jauh akan turun, belum ada final jawaban yang pasti. Vaksinasi paling cepat baru dimulai akhir tahun 2020 lalu, jadi baru akan menjelang setahun pada akhir tahun ini. Sabar ya pemirsa, saya juga belum bisa jawab kalau ada pertanyaan apakah setahun kemudian vaksinnya harus diulang? Let’s wait and see.

Kami juga sedang melihat apakah vaksinasi bisa menginduksi T-cell immune response jangka panjang, dan saat ini sedang menunggu publikasi resmi. Data masih bergerak, saat ini semua sedang memantau dan mempertimbangkan kemungkinan vaksinasi ulangan.

Jadi apakah vaksin berguna?

à Nah kalau ini, jawabannya tentu dong. Vaksinasi adalah salah satu cara yang sudah terbukti bisa membantu eradikasi penyakit menular. Contohnya, penyakit smallpox (variola). Smallpox resmi dinyatakan berhasil dieradikasi di dunia pada tahun 1980 oleh WHO. [Ref 3]

Sekarang kita berharap vaksinasi COVID-19 juga bisa memberikan hasil yang sama, meski tantangannya jauh lebih besar. Kita juga sudah tahu gelombang ke-5 kali ini di Jepang, kasus infeksi maupun gejala berat lebih didominasi dari golongan muda dibandingkan dengan golongan lansia [Fig2]. Seperti juga banyak laporan dari luar Jepang, ini bisa dikatakan sebagai hasil baik dari vaksinasi. Di Tokyo usia 65 tahun keatas dengan dua kali vaksinasi sudah mencapai 80% - 13 Agustus 2021. [Ref4, 5] 


Lalu apakah setelah vaksinasi komplit pasti aman tidak terkena infeksi?

à Semua juga sudah tahu ya, jawabannya tidak. Ada istilah yang sekarang mulai ramai terdengar yaitu “breakthrough infection”. Ini adalah kejadian infeksi yang terjadi pada seseorang yang sudah mendapatkan vaksinasi komplit. Kasus seperti ini sebenarnya bukan hal baru, influenza contohnya, pasti biasa sering dengar ada yang kena influenza meski sudah menerima vaksin.

Penyebab breakthrough infection setelah vaksinasi COVID-19 masih banyak harus dipelajari. Setidaknya ada dua hal yang diduga berperan menjadi penyebab yakni:

- varian Delta yang saat ini sedang meluas penyebarannya. Sudah ada laporan studi yang menyatakan efek neutralisasi antibody terhadap strain delta menurun [Ref6]

- imunitas yang tidak bertahan lama sesudah vaksinasi. Ini seperti yang saya bahas di atas ya. Studi dari Israel, negara yang paling cepat menyelesaikan vaksinasi untuk penduduknya, menunjukkan kalau orang yang menerima suntikan kedua dari Pfizer lebih dari lima bulan cenderung beresiko tes positif dibandingkan mereka yang baru menyelesaikan vaksinasi. [Ref7] Di Jepang, setelah sebelumnya angka kasus baru di kalangan nakes turun, sekarang sudah ada laporan kembali nakes yang mengalami breakthrough infection. Begitupula di tempat saya, teman di satu bagian juga sudah ada yang kena.

---
Pasti semua sudah bosan ya, entah kapan selesai pandemik ini. Virus SARS-CoV-2 ini sepertinya memang tidak akan hilang dan akan hidup bareng bersama kita, tapi semoga dalam posisi yang bisa dikendalikan seperti halnya virus lainnya. Salah satu cara mengendalikan dengan mencegah penularan meluas: menahan mobilisasi, mematuhi protokol kesehatan sebaik mungkin, dan vaksinasi.

Saat ini kita semua sudah menemukan berbagai variasi cara adaptasi untuk bertahan di tengah pandemik. Bisa tetap “berkumpul” meski jauh, sudah tidak aneh lagi meeting dari rumah, jam kerja yang lebih fleksibel, kebiasaan menjaga sanitasi yang lebih baik, dsb

I believe we will have a much better world after we get through this pandemic nightmare.

頑張りましょう。

“Stay Safe, Get Informed, and Be Wise”

Tokyo, 15 Agustus 2021

Dr. Kathryn Effendi

 

References:

1. https://www.cov19-vaccine.mhlw.go.jp/qa/0088.html

2. https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(21)01642-1/fulltext

3. https://www.who.int/health-topics/smallpox#tab=tab_1

4. https://www3.nhk.or.jp/news/special/coronavirus/vaccine/pref/tokyo/

5. https://news.yahoo.co.jp/byline/kutsunasatoshi/20210731-00250705

6. https://www.nature.com/articles/s41586-021-03777-9

7. https://www.medrxiv.org/content/10.1101/2021.08.03.21261496v1